Ramyun dan Tteokpoki
Posted by Faye in Faye the Explorer, Friends, Recipe on January 25, 2012
Tteokpoki, makanan berupa garaetteok (kue beras) yang dibumbui gochujang (pasta cabai) dan populer di Korea. Dalam pembuatannya biasanya ditambahkan berbagai macam campuran sesuai keinginan seperti daging, telur rebus, sosis, mi atau di sana sebutannya ramyun, fish cake, dan aneka sayuran.
Belakangan saya jadi sering ketemu sama makanan satu ini.
Pertama kali mencoba tteokpoki ketika Idul Adha tahun 2011 kemarin. Kali itu saya nggak ikut acara bakti sosial organisasi yang biasanya tapi mengungsi ke rumah Jun di Sumber Pucung. Rencananya sih mau nyobain masak-masak dan salah satunya bikin tteokpoki. Jadi sebelum berangkat kita belanja bahan-bahannya di Lay Lay.
Bahan-bahan yang waktu itu dipakai kira-kira:
- Garaetteok
- Gochujang
- Tofu
- Telur puyuh rebus
- Ramyun
- Sosis
- Daun bawang
- Bawang bombay

penampakan ramyun dan gochujang
Kelinglungan Pagi
Pagi tadi saya bangun dengan setengah linglung karena kurang tidur, dan langsung siap-siap buat nganterin ummi ke kampus. Kayaknya hari ini ada mahasiswanya yang sidang apa gimana. Setelah selesai nganterin beliau, saya langsung pulang lagi ke rumah. Ya iyalah namanya juga belum mandi belum ngapa-ngapain, masa mau langsung kelayapan nggak jelas pagi-pagi.
Tiba-tiba di tengah jalan sadar kalau helm yang satunya lagi nggak ada di gantungan motor. Kayaknya jatoh di parkiran pas tadi nganterin. Mau balik udah males banget. Nanti ajalah bilang ke ummi kalau helm-nya kemungkinan jatoh, terus kalau nemu ya simpenin dulu, toh saya nanti sore balik lagi jemput beliau.
Jalan terus pake motor. Belok ke gang komplek. Nggak lama berselang belok lagi di perempatan gang. Niatnya ngambil jalan pintas. Nyasar….
Kayaknya emang udah agak lama nggak lewat jalan-jalan dalam komplek kecuali jalan utamanya. Emang pemandangannya juga udah rada beda sama terakhir kali rasanya saya liat. Sampe tadi diliatin yang jaga gardu waktu muter-muter. Akhirnya melihat seberkas cahaya jalan yang kira-kira bener. Diikutin. Bukan jalan yang saya maksud ternyata. Tapi nyambung juga sih ke arah rumah. Ya udah terus.
Sampe rumah, telepon ummi ngomongin helm.
Loh, kan helm-nya tadi kamu kasihin ummi? Katanya takut lupa kalau dibawa pulang dan harus bawa lagi nanti sore?
Heh?
*nyungsep lagi di kasur, ngeblog*
Benda Elektronik Paling Menyebalkan
Benda elektronik paling menyebalkan itu bukan hape yang tiap pagi teriak-teriak nyanyi-nyanyi sendiri di pinggir kuping, bukan juga televisi tetangga sebelah yang suka ngomong sendiri dengan volume kencang. Menurut the Oatmeal, benda elektronik paling menyebalkan, yang dikirim dari neraka untuk menyengsarakan kita adalah PRINTER.
Dan saya setuju.

pernah begini? :D
Lengkapnya bisa diliat di komik the Oatmeal yang Why I Believe Printers Were Sent From Hell To Make Us Miserable.
Sejak berbulan-bulan yang lalu saya selalu mengingatkan diri buat nggak ngeprint laporan mepet-mepet waktu pengumpulan (kecuali laporannya emang selesainya mepet). Kamu nggak akan pernah tau printermu bakal bekerja dengan baik atau nggak. Bisa aja tau-tau macet, tintanya abis, terus kamu harus isi tinta sambil buru-buru, dan ceprat ceprot, belepotanlah tangamu sama tinta, nyahahahahaha.
Lah ngisi tinta nggak buru-buru aja bisa nyiprat-nyiprat, kok.
Ngomong-ngomong soal ngisi tinta, bertahun-tahun saya nggak pernah bener ngisinya. Heran deh, padahal udah pelan-pelan. Tutup suntikan dibuka pelan-pelan, masukin dulu suntikannya ke lubang cartridge baru suntikannya dipencet dan bukan sebaliknya, ngisi tintanya jangan kebanyakan biar nggak meleber kemana-mana… lah kok pas semua udah selesai dengan aman sentosa… pas mau naro suntikannya biar bisa masang cartridge di printer… cpraaat….
Kalau pas yang nyiprat tinta warna, jadi kayak mau pesta kostum terus badan dicat warna-warni.
Manusia Setengah Salmon
Dua postingan yang lalu saya membahas Stand Up Comedy-nya Raditya Dika. Kali ini saya mau membahas buku terbarunya, Manusia Setengah Salmon. Seperti biasa, ada nama hewan ikut-ikutan numpang tenar di judul buku.
Buku ini saya dapatkan dari hasil menyeret-nyeret seorang teman ke Toga Mas di hari peluncurannya, 24 Desember, yang ternyata di Toga Mas saat itu belum ada jadi kita loncat ke Gramedia di daerah Basuki Rahmat. Khukhukhu….

The pains of growing up. ‘Pindah’ menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri.
Sebagai pembaca buku-bukunya sejak zaman Kambing Jantan, saya merasa ada yang berubah dari gaya penulisan Raditya Dika dari buku ke buku. Kambing Jantan buat saya adalah bukunya yang terlucu dan murni komedi karena memang dipenuhi cerita ringan kebodohan sehari-hari. Buku paling garing sementara itu, adalah Radikus Makan Kakus.
Dimulai dari Marmut Merah Jambut, komedi yang ditawarkan di cerita-ceritanya, bukan cuma sekedar sesuatu yang bikin kita ketawa selama lima menit, terus setelah itu ya ketawa aja, atau lupa. Sejak Marmut Merah Jambu, kita ketawa lima menit, dan sepuluh menit kemudian mikir.
Personally, I prefer this kind of comedy.
poin nomer 8: awas nanti...