
Ketika kelulusan SMA, di saat semua orang sibuk dengan universitas pilihan masing-masing, atau memilih untuk langsung bekerja, salah satu teman saya memutuskan untuk menikah. Ya, menikah. Menikah yang itu, yang kalau di film-film drama sering ada adegan pacar dari si cewek menghentikan pernikahan di tengah jalan terus membawa kabur cewek itu. (entah film yang mana ini?
)
Ada banyak momen lain tentang pernikahan, walaupun tentu saja saya hanya sekedar menjadi penonton, pagar ayu, atau tukang makan belaka
. Entah itu pernikahan saudara saya, guru saya, tetangga saya, atau sekedar menemani Ummi ke pernikahan kenalannya. Hanya saja ada yang berbeda dengan satu minggu yang lalu.
Bukan, bukan karena yang menikah satu minggu yang lalu itu saya, kok…
Kartu ATM itu seperti oase di padang pasir, seperti hujan di tengah musim kering. Lebay? Ember. Ha ha ha
.
Tapi setidaknya itulah yang saya rasakan ketika si kartu keramat itu ditelan dengan semena-mena oleh mesin ATM yang lapar, padahal kondisi kantong sendiri sedang kanker. What a perfect combination.
Semua ini gara-gara mesin ATM itu nggak pernah dikasih makan!
Lanjutkan…
Sebenarnya masih beberapa jam yang lalu waktu saya berniat menulis tentang insiden sebuah mesin yang kayaknya nggak pernah dikasih makan. Tapi entah kenapa mood saya langsung hilang beberapa saat setelah sampai di kos, dengan setengah basah karena hujan, terlebih setelah pre-test praktikum DKP yang entah gimana nasibnya.
Lalu sebuah sms akhirnya benar-benar membelokkan topik kali ini.
Lah, memangnya sejak kapan saya pernah nulis topik yang jelas?
Di suatu sore yang panas, sehabis kuliah, saya harus ke ATM dulu demi keberlangsungan hidup satu bulan ke depan
. Seperti biasa, kalau pulang itu bareng-bareng sama teman. Satu orang juga ada perlu ke ATM, dan dua orang sisanya menunggu.
Nah, yang menunggu ini ngirim sms yang kira-kira isinya begini:
“Ras, kutunggu di deketnya bunga sikat WC, deketnya orang les cing cong cing cong.”
Terjemahannya:
ditunggu di bawah pohon ini:

deketnya orang yang lagi les bahasa mandarin.
Ini semua gara-gara banyaknya bunga macam itu di daerah sekitar Fakultas Teknik. Nah, berhubung ga ada satupun dari kami yang tau namanya, dan Impala (Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam.red) juga entah kenapa memilih pohon ini untuk ga dikasih label nama seperti pohon-pohon lainnya di sekitar kampus, akhirnya dinobatkan nama bunga sikat wc.
Alasannya jelas, kan? Liat aja itu bunganya yang berwarna merah indah, persis sikat buat bersihin wc
.
gambar: diambil dari satu pohon di deketnya Mesin

Faye means fairy, seperti yang pernah saya bilang di halaman ini. While Azursky means blue sky. Sudah terlihat kan, ya?
Laurel, well… artikan saja secara harfiah, soalnya nama itu cuma dirasa cocok sebagai nama tengahnya
. She is just a simple girl from a village near River Derwent who loves cats, and… blah blah blah.
Lanjutkan…