Hari itu seusai asistensi riset, salah seorang teman saya menerima telepon dari keluarganya yang meminta dia langsung ke Batu, beberapa saat kemudian ibunya juga menelepon sambil menangis dan langsung menyuruhnya ke Batu juga. Semuanya tidak bilang ada apa, hanya saja dari suasananya, tentunya bukan berita baik.
Ternyata Pakdenya yang tinggal di Batu telah berpulang siang itu. Ketika mendengar cerita saat terakhirnya, rasanya justru saya yang mau menangis, dan hanya satu kata yang bisa terucap, “subhanallah….”
Hari itu hari Jum’at, dan beliau sedang berpuasa. Seperti biasa beliau datang ke masjid untuk shalat Jum’at, dan baru saja melaksanakan shalat sunah masjid. Tiba-tiba saat beliau sudah bangun dari ruku’ dan akan sujud, tubuhnya terguling ke samping. Kebetulan di daerah itu ada satu rumah yang sedang melaksanakan pernikahan. Begitu takmir masjid mengumumkan meninggalnya beliau, dan bagaimana ceritanya, hampir semua orang di acara itu mengucapkan kata yang sama seperti saya, dan berbondong-bondong datang melayat.
Ah, saya seperti diingatkan. Bahwa kematian itu memang adalah hal yang paling dekat dengan kita. Dekat karena kita tidak pernah tahu saat maut bergerilya menghampiri.
Tua. Muda. Sehat. Sakit. Semua tidak ada yang luput dari maut.
Tidak ada yang tahu apakah satu bulan lagi saya masih akan bisa menulis di sini, atau satu minggu lagi saya masih bisa ikut semester baru perkuliahan, atau apakah satu jam lagi saya masih diberi sisa napas
.
Lalu apa yang sudah saya siapkan? Bagaimana nanti saya mati? Apa saya akan mati dengan cara mulia seperti Pakdenya teman saya tadi, atau mati terhina di saat saya lupa kepada Sang Pemberi Hidup? ;-(
Jadi teringat tret plurk-nya Rukia^^ kemaren.
Life is like a cafetaria…
Kamu memilih makanan yang kamu suka. Di akhir nanti, kamu harus membayar apa yang telah kamu pilih. Bedanya adalah, di kafetaria ini tidak ada yang akan membayar untuk kamu. Masing-masing orang harus membayar makanan yang dipilihnya kepada Sang Pemilik Kafetaria itu sendiri.
anjrit, gue jadi merinding… gue takut mati. apalagi ditambah dengan gosip-gosip dunia kiamat tahun 2012… heuh.
pertanda baik ga sih, meninggal pas lagi salat…?
doh, udah mau puasa nih, sanggup ga ya selama puasa bertobat… huhu,,
Hmm.. Insya Allah kayak gitu, dia dalam keadaan inget sama Sang Pencipta kan
Iya, semoga kita masih bisa ketemu sama bulan Ramadhan tahun ini
kullu nafsin zaaikatul maut..
tiap2 yang hidup akan mati,
astagfirullah, makanya harus siap2 ya kita nih
anyway, blog barunya bagus loh, aku suka
Kematian yang terjadi di sekitar kita, pengingat buat yang masih hidup kalau maut itu pasti kedatangannya, yah…
Thanks, rajin mampir ya
duh… kok postingannya begini sih…. *jadi inget banyak dosa*
pengingat Kang, kalau semua yang hidup pasti mati, makanya cepet nikah gih (lho)
yup, sangat dekat sekali
entah sedekat apa
yang jelas kita selalu diikuti
iya kan?
yups, setuju
wah.. indahnya meninggalnya ya..
jarang banget ada orang meninggal yang se tenang itu..
iya, semoga beliau diterima di sisi-Nya ya
setju, bisa aja pas kita lg bersuka cita tiba2 “lewat” gitu ja…
ah, umur emang rahasia yang di atas
that a place nearby!
salam kenal. saya nafis!
http://nafisblog.wordpress.com
salam kenal juga
err…
hati2, jangan suka ketawa ngakak
klo waktu ngakak, kita di”cabut” gimana hayo
.-= andyan´s last blog ..Dirgahayu RI dan Ketupat Kemerdekaan =-.
mungkin ini sebabnya orang2 tua sering bilang kalo ketawa tu nggak boleh ngakak banget ya?