Mengenal Lewat Cerita

kent_dover_castle

Seseorang pernah bertanya kenapa alamat e-mail saya di Yahoo! berakhiran (dot)co(dot)uk, bukannya yang umum saja seperti (dot)com atau (dot)id. Saya hanya nyengir dan bilang, “nggak apa-apa, kan, do’a supaya suatu hari nanti saya benar-benar bisa ke Inggris” (headspin) .

Nah, mari kita singkirkan sebentar fakta bahwa saya sering mabuk darat dan bicara tentang itu. Iya, tentang Inggris, negara pertama yang pernah saya mimpikan untuk kunjungi, sejak membaca karya-karya Enid Blyton sewaktu SD dulu, seperti The Naughtiest Girl, Malory Towers, St. Clare’s, dan beberapa seri cerita anak lainnya.

Berawal dari situ, saya jadi ingin tahu, seperti apa kehidupan di sana sebenarnya, bagaimana mereka berkomunikasi. Mayor saya memang bukan bahasa, tapi mempelajari bahasa selalu menarik, makanya selalu ada waktu luang yang dicuri-curi untuk ikut kursus bahasa. Pengekspresian yang pasti berbeda antara bahasa kita sendiri dengan bahasa lain, frase-frase atau ungkapan yang digunakan, logat bicara penduduk aslinya, rasanya menarik untuk mengetahui semua itu secara langsung. Seperti ketika membaca novel yang sudah diterjemahkan dengan yang belum. Ada perasaan yang berbeda ketika membaca novel itu dengan bahasa aslinya.

Menjelang SMP, saya mulai mengenal karya Enid Blyton yang lain, The Five Find-Outers, The Secret Seven, dan The Famous Five. Lalu disusul dengan Harry Potter karya J. K. Rowling, satu-satunya seri yang bisa membuat saya datang pagi-pagi ke toko buku di hari peluncuran pertamanya (heart_beat) .

Berapa banyak dari empat judul tersebut yang menyebutkan tentang rumah tua, atau puri tua dan semacamnya. Banyak sepertinya. Saya sendiri punya ketertarikan yang aneh terhadap bangunan tua, seakan ditarik untuk mendekat saat melihatnya. Seperti ketika berjalan di daerah kota lama yang masih tersisa banyak bangunan tua, rasanya seperti berjalan di antara bayangan orang-orang di masa lalu, menonton kehidupan mereka. Ada banyak cerita yang tersisa di sana kan? Di setiap dinding, di setiap pilar, setiap jengkal lantainya pernah ada mereka yang hidup dan punya cerita masing-masing.

Saya suka mereka-reka sendiri apa yang telah terjadi di sana, mengarang versi saya sendiri, dari yang normal sampai yang paling liar (haha) . Lalu ketika di lain hari saya mendengar sebuah lagu yang terasa sangat pas dengan ceritanya, dengan semena-mena lagu itu saya nobatkan menjadi soundtrack cerita saya (okok) . Jika sejarah bangunan itu bisa diketahui, ceritanya menjadi lebih seru. Saya menyukai cerita, mungkin itu juga yang membuat saya menyukai sejarah. Yah, terkadang dengan khayalan yang kemana-mana itu juga malah jadi menyulitkan karena saya malah jadi takut sendiri kalau membayangkan orang-orang itu sudah meninggal :-D .

Akan menyenangkan, dan sekaligus mungkin akan sedikit menyeramkan :-D , kalau bangunan yang dikunjungi adalah peninggalan sebuah kastil, dengan lorong-lorong rahasia, seperti dalam cerita Lima Sekawan dan Harry Potter, lengkap dengan menara-menara, ruang bawah tanah, dan mungkin penjara-penjaranya. Entah apa saja yang sudah terjadi di sana, kehidupan sehari-hari para penghuninya, konflik dan perang yang pernah terjadi di sana.

Ada perbedaan bukan, antara melihat sendiri semua itu, dengan imajinasi dari penuturan di buku, dengan foto-foto dan film-film yang ada. Saya memilih untuk bisa mengalaminya langsung :-D .

Saya jadi ingat ketika kelas 1 SMA dulu saya dan salah seorang teman begitu bersemangat ingin ikut pertukaran pelajar ke Inggris, yang sayangnya ternyata saat itu tidak ada penawaran ke sana. Akhirnya teman saya itu lolos dan berangkat ke Australia.

Jadi, ada yang mau ngasih saya tiket untuk pergi ke Inggris? (evil_grin)

gambar dari sini

36 Responses

Leave a Reply