Feeling Blue

Sebenarnya masih beberapa jam yang lalu waktu saya berniat menulis tentang insiden sebuah mesin yang kayaknya nggak pernah dikasih makan. Tapi entah kenapa mood saya langsung hilang beberapa saat setelah sampai di kos, dengan setengah basah karena hujan, terlebih setelah pre-test praktikum DKP yang entah gimana nasibnya.

Lalu sebuah sms akhirnya benar-benar membelokkan topik kali ini.

Seorang sahabat di seberang laut sana, bilang kalau saat ini dia sedang kesepian. Setelah membaca sms-nya itu, eh malah saya yang mewek. Nangis tapi tertahan karena nggak mau terdengar anak-anak kosan dan membuat pertanyaan merepotkan bermunculan.

Karena di saat yang sama, saya juga sedang merasa seperti itu.

Mungkin di siang hari saya masih bisa berbaur dengan keramaian acara ini itu, kuliah di sana sini, dosen yang bawel, atau ketawa-ketiwi sama anak-anak sekelas karena ternyata mata kuliah hari itu nggak ada dosennya. Tapi kadang-kadang, di waktu-waktu tertentu, sewaktu saya sendiri di dalam kamar, the loneliness suffocates me, really suffocates me. (tears)

Herannya, saya dan sahabat saya yang ini selalu punya kontak batin yang aneh. Jadinya seolah-olah kami ini janjian untuk sama-sama ngerasa mellow dan sendirian. Tapi suer, kita ga pernah janjian, kok.

Mungkin karena tadi saya habis ikut rapat di mana saya ngerasa nggak nyaman berada di sana, ngerasa salah tempat, dan toh nggak ada yang saya lakukan di sana.

Mungkin karena tadi saya habis pre-test DKP yang waktunya cuma lima menit itu, dan ngerasa useless banget.

Mungkin karena tadi saya habis ngeliat sesuatu dan menyadari ada orang yang udah terbang terlalu tinggi sampai saya nggak bisa lagi manggil dia untuk turun.

Mungkin dengan beberapa hal yang lain, atau mungkin bahkan saya nggak tau juga apaan, cuma lagi sumpek dan tau-tau pengen nangis.

Lalu dia? Dia juga dengan alasannya sendiri, untuk merasa kesepian saat itu, dengan masalahnya sendiri, untuk ngerasa capek saat itu.

Tapi dua orang yang sedang sendirian ini jadinya nggak sendirian lagi karena sudah bertemu, kan? (cozy) Yang ada akhirnya kami malah berbagi cerita, curhat nggak penting, biarpun cuma lewat sms karena di kamar saya nggak ada sinyal, dan nggak lucu banget kalau mau telepon-teleponan curhat sama temen mesti keluar kamar dan nelepon di bawah tangga ruang tengah, terdengar oleh orang satu kosan. Err… yah, saya akui mungkin kalimat terakhir itu bisa juga dibaca sebagai ‘nggak ada pulsa’. (haha)

Lalu beberapa menit kemudian, saya berakhir dengan tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, sambil tetap mengetik sesuatu di hape saya. :-))

*membaca ulang dan membayangkan ada yang berkomentar “dasar cewek -cewek aneh!”*

This entry was posted in Friends

16 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge