Cerita Awal Tahun

Ini bukan postingan resolusi tahun baru. Serius! (scenic)

Malam tahun baru saya berlalu begitu saja, dalam tumpukan tugas akhir semester, mendengarkan ledakan mesiu samar-samar di luar sana dan melihat kembang apinya di tret Plurk!. Mengunci pintu kamar sedari sore agar tidak ada yang menitipkan kunci gerbang kepada saya -yang sekarang berada di salah satu kamar depan- dengan alasan mereka akan pulang malam. Jahat? Ah, saya tahu mereka akan pulang jauh lebih malam dari yang mereka janjikan. Sekali-sekali saya harus belajar untuk menolak.

Bukan, ini bukan postingan refleksi tahun 2009, ataupun resolusi tahun 2010. Jangan tertipu dengan tag yang saya cantumkan di sini :-D . Hanya tentang sesuatu yang terjadi di suatu siang yang panas, ketika hape saya bergetar dari dalam tas.

Kabar baik yang datang dari jauh saat itu, sama sekali tidak membuat saya turut bergembira. Rasanya malah seperti tertimpa truk kontainer, walau saya tidak benar-benar tahu juga bagaimana rasanya tertimpa truk kontainer. Mungkin saya hanya takut ditinggalkan. Ketika sayap yang dimilikinya lebih kuat dan membuatnya terbang lebih cepat, maka saya yang baru belajar terbang, dan masih sering terjatuh, mungkin sudah tidak terlihat lagi dari atas sana.

don’t fly too high…
cause i’m scared that my voice will never reach you again…

Tepat ketika saya sudah memutuskan untuk tidak memikirkan lagi hal itu dan moving on dengan hidup saya sendiri,  tanpa harus membanding-bandingkannya dengan orang lain, tiba-tiba saja badai datang. Tanpa ada peringatan sama sekali. Tidak ada petir dan kilat yang bergantian menyambar terlebih dahulu atau hujan rintik-rintik. Bahkan tidak ada ramalan cuaca yang bilang kalau akan terjadi badai :-( .

Saya tidak siap. Saya hanya membawa payung yang sudah lusuh dan compang-camping, sehingga saya basah kuyup di tengah hujan derasnya. Tapi saya tahu bahwa jauh di dalam sini, saya juga menikmati hujan deras yang mengguyur saya kali ini.

i do love rain…
even when i get soaked and drowned by it…

Seperti layaknya badai yang datang tiba-tiba, ia juga menghilang tidak kalah cepatnya. Menyisakan langit yang seperti habis dicuci, dan ada lengkungan warna-warni yang masih bisa saya nikmati untuk beberapa waktu. Lalu saya menjadi tamak dan ingin terus melihat pelanginya, setidaknya terus merasakannya. Saya mencari hingga tidak ada lagi tempat yang bisa dituju, dan tidak mendapatkan apa-apa. Tapi dari awal pun saya sudah tahu, bahwa memang tidak ada apa-apa di sana.

after that brutal storm, there’ll always be rainbow, right?
but i never find that pot of gold at the end of the rainbow…

Saya akhirnya kembali pulang. Walau ditarik paksa oleh bagian diri yang masih waras, agar tidak terlalu jauh tersesat dalam pencarian. Mengumpulkan serpihan yang porak-poranda, tercecer di sudut-sudut jalan, terlindas laju kendaraan di aspal yang dingin. Lalu membangunnya kembali. Semuanya. Tentu setelah adegan tanpa suara yang panjang karena sungai yang terlalu deras mengalir.

home, i came back…
there are things that i should start all over again from the scratch…

Saya akan baik-baik saja. Segalanya akan baik-baik saja. Episode ini akan cepat berlalu. Walau mungkin di depan sana, satu tahun lagi, sudah menunggu badai lain yang lebih hebat.

it’s okay…
everything will be alright… :-)

This entry was posted in Love

16 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge