Sebelum semuanya terjerumus dalam pemahaman bahwa cerita ini adalah kisah cinta antara gadis Cina dari perguruan Shaolin dan pemuda berandalan dari Tokyo, mari saya luruskan bahwa ini adalah dua cerita yang berbeda.
Setelah seminggu dengan jadwal tidur nggak jelas, kamar berantakan, buku berhamburan, angin puting beliung, banjir bandang, dan hujan es, dimana tiga hal terakhir itu jelas saja bohong, saya rupanya masih belum trauma melihat laptop seperti halnya teman saya yang ini. Padahal saya sampai sudah ngomong dan mimpi dalam berbagai bahasa, mulai dari assembly dimana program saya tetap saja menghasilkan 3o error dan simulatornya ga mau jalan, sampai meneror teman saya dengan pertanyaan-pertanyaan ga penting tentang konstruktor dan destruktor.
Cerita satu yang bukan tentang pemuda berandalan dari Tokyo:

Judul
Tokyo Boy / Tokyo Shonen
Sutradara
Shuichi Hirano
Starring
Horikita Maki, Takuya Ishida, Reiko Kusamura, Mitsuru Hirata
Night, aitai, aitai, aitai…
Covernya, somehow, eksotis, saya suka.
*bener ga sih istilahnya ini*
Tapi film-nya tidak seeksotis covernya. Memang seperti kata pepatah lama, cover bisa menipu. *pepatah dari mana pula ini*
Pernah membayangkan kalau kita punya suatu penyakit yang menyebabkan memori kita bisa hilang sewaktu-waktu? Misalnya kita sedang ada di pasar, lalu tahu-tahu ketika sadar kita baru saja bangun tidur di kamar di hari berikutnya. Mengerikan, ya?
Tidak tahu apa yang telah terjadi sama diri kita sebelumnya. Tokoh utama film ini, Minato, diceritakan memiliki penyakit itu.
Minato adalah pegawai minimarket yang tinggal bersama neneknya sejak orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Di awal cerita dikisahkan bahwa Minato bertemu dengan seorang pelanggan yang kemudian menyatakan cinta pada Minato, namanya Shu. Singkat cerita, mereka pacaran.
Di lain pihak, Minato punya seorang teman pena yang bernama Night. Night adalah orang yang membalas surat kesepian yang dia ikatkan ke balon ketika berumur sembilan tahun dan baru saja kehilangan orang tuanya. Sejak saat itu mereka terus surat menyurat. Night ini, sama sekali tidak senang dengan kehadiran Shu dan meminta Minato menjauhinya. Tapi Night sendiri tidak pernah mau bertemu denagn Minato, sampai akhirnya setelah beberapa kejadian, Shu minta putus dari Minato dan Minato menjadi sangat ingin bertemu Night.
Minato mengirimkan surat kepada Night yang mengatakan bahwa dia akan terus menunggu di depan kotak pos sampai Night muncul di hari yang dia tentukan. Tapi Night tidak pernah muncul. Sampai akhirnya Minato mengatakan bahwa dia akan terus menunggu di tempat itu keesokan harinya juga, dan keesokan harinya lagi juga, sampai dia bisa bertemu Night.
Ketika Minato pulang ke rumah, dia mendapati sebuket bunga dan kunci di depan pintu rumahnya. Saya kurang mengerti bagian ini, sepertinya sih Minato membaca alamat rumah Night yang tertera di amplop surat,
karena setelah itu Minato langsung menuju sebuah gedung kosong yang tidak terawat, dan di dalamnya dia menemukan semua surat-surat yang pernah dia kirimkan kepada Night. Tapi di ruang itu tidak ada tanda-tanda keberadaan Night. Adegan ditutup dengan Minato yang jatuh pingsan setelah melihat ke arah cermin.
Sampai sini, sebaiknya saya peringatkan bahwa kelanjutan dari tulisan ini adalah SPOILER. Kalau ga mau baca bisa langsung ke sini. Kalau mau baca terserah, tapi saya nggak tanggung jawab kalau ternyata berminat nonton dan malah jadi nggak seru lagi.
Oke, lanjut.
Setelah adegan Minato putus dengan Shu, alur ceritanya sebenarnya agak membosankan karena banyak mengulang-ulang kejadian. Hanya saja kali ini dari sudut pandang Shu, bukan dari sudut pandang Minato. Di sini penonton dijelaskan tentang memori-memori Minato yang hilang. Mengapa Minato tidak bisa ingat sama sekali bagaimana foto dan nomor telepon Shu bisa menghilang dari hapenya, atau bagaimana dia tahu-tahu sudah berada di rumah lagi pada pagi hari sementara yang dia ingat dia masih berada di taman bersama Shu. Iya sodara-sodara, ternyata Night yang selama ini berusaha meyakinkan Minato untuk putus dari Shu, adalah kepribadian lain dalam diri Minato.
Awalnya, saya mengira film ini akan berakhir dengan Night yang ternyata adalah Shu. Tapi ternyata saya salah. Justru Minato itu sendiri yang Night. Kepribadian lain dalam diri Minato itu laki-laki, dan ironisnya sangat mencintai Minato.
Aktingnya Horikita Maki sebagai Minato dan Night menurut saya keren. Bisa langsung terlihat mana yang merupakan kepribadian Minato yang asli, dan mana yang Night. Bagian yang agak mengganggu sebenarnya adegan ulang cerita dari sudut pandang Shu yang menurut saya terlalu panjang.
Saya sudah menangkap bahwa Night itu ternyata adalah Minato sendiri sejak adegan Minato yang pingsan sambil melihat ke cermin di gedung kosong. Walaupun aktingnya bagus, tapi saya merasa film ini kurang gereget. Entah, mungkin bukan selera saya.
Cerita dua yang bukan tentang gadis Cina:

Judul
Shaolin Girl
Sutradara
Katsuyuki Motohiro
Starring
Kou Shibasaki, Toru Nakamura, Kitty Zhang Yuqi, Tin Kai Man, Lam Chi Chung, Takashi Okamura, Yosuke Eguchi
Aku ingin menyebarkan kungfu Shaolin di Jepang
Aneh, nggak logis, jalan cerita yang loncat-loncat ga jelas, apalagi yang harus saya bilang. Saya sebenarnya tidak berminat menontonnya sampai habis, tapi dengan alasan “menyelesaikan apa yang telah dimulai” akhirnya bertahan juga nontonnya.
Cerita film ini berkisar tentang Rin, gadis Jepang yang disekolahkan ke Cina untuk belajar kungfu Shaolin, yang akhirnya kembali ke Jepang setelah delapan tahun. Rin kembali ke Jepang untuk menyebarkan kungfu Shaolin di Jepang. Sewaktu kembali dia menemukan dojo kakeknya sudah tidak berpenghuni, kakeknya meninggal, dan tidak ada satu muridpun yang tersisa yang masih mau belajar kungfu. Salah satu murid kakeknya dulu, Iwai, sekarang malah membuka restoran masakan Cina.
Well, jalan ceritanya mulai meloncat tidak jelas sejak ini. Salah satu pegawai restoran bernama Minmin (yang tidak dijelaskan juga siapanya Iwai anak ini sebenarnya) yang seumuran dengan Rin mengajaknya main lacrosse di universitasnya. Saya masih tidak mengerti bagaimana Rin bisa dengan mudah mendaftar di tempat itu, lalu kemudian tahu-tahu sudah ikut bermain lacrosse di klub. Bahkan tidak dijelaskan juga unviersitas macam apa yang dia masuki.
Yang saya mengerti, universitas itu dipimpin oleh tokoh utama yang jahat, yang suka sekali bertarung untuk melihat siapa yang terkuat. Selain itu, bahkan niat tokoh jahat yang standar seperti “menguasai dunia” juga tidak ada di sini.
Saya bingung. Tapi masih juga dilanjutkan nonton.
Setelah cerita berlanjut cukup lama tentang pertandingan lacrosse, akhirnya tiba saatnya adegan pertarungan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Pimpinan universitas ternyata mengincar Rin yang memiliki kekuatan besar untuk mengeluarkan kemampuannya itu. Dia mencelakai orang-orang di dekat Rin, membakar dojo, dan menculik Minmin agar Rin mau bertarung. Akhirnya Rin pergi menyelamatkan Minmin ke sebuah gedung seperti menara dan harus melalui banyak rintangan sebelum bertemu “ultimate boss“.
Saya rasa sampai bagian sini sudah bisa tertebak bagaimana cerita selanjutnya. Yah, walaupun dari awal juga sudah tertebak sih.
Mungkin jenis film ini memang komedi, seperti halnya Shaolin Soccer. Tapi terkesan dibuat dengan setengah-setengah. Mau dibilang komedi tapi ya nggak lucu, mau dibilang action juga lebih ga mungkin lagi. Jadi apa?
gambar: tokyo boy, shaolin girl

#1 by TamaGO on January 20, 2010 - 7:34 AM
udah liat yg tokyo boy, pilem lama sih tapi menurut saya ceritanya cukup bagus walaupun udah ketebak siapa night itu
.-= TamaGO´s last blog ..2009 Wrap Up =-.
#2 by Faye on January 20, 2010 - 1:09 PM
saya baru ngeh pas Minato nemu syal terus ngeliat ke cermin, ngomong “Night” dan pingsan
#3 by phiy on January 20, 2010 - 8:19 AM
Yang tokyo boy, dari cover sama klu penyakit “lupa”nya Minato udah ketebak yak kalo Minato ni punya MPD (Multiple Personality Disorder) kek Billy di novel Billy
Tapi bagus, aku suka crita2 penyakit psikologis, ga tau kenapa
#4 by Faye on January 20, 2010 - 1:12 PM
saya nggak tau covernya sebelumnya, itu dapet dari hasil ngeborong isi harddisk temen
*bener ga sih jurusan psikologi?
*
suka cerita dengan penyakit psikologis? karena Mbak Phiy jurusan psikologi?
#5 by tea on January 20, 2010 - 6:56 PM
ta kirain 1 film judulnya shaolin girl and tokyo boy, taunya 2 film yg berbeda.. makanya tadi udah bingung aja liat covernya, kok ada shaolin2nya.. hehe
tertarik dengan film yg pertama.. ceritanya n karakter tokohnya unik.. jd pengen nonton..
#6 by Faye on January 21, 2010 - 10:19 PM
intinya sih kepribadian ganda, si Horikita Maki bagus mainnya di situ menurutku
#7 by akhy on January 21, 2010 - 9:31 PM
*komen di tengah huru-hara mindahin blog*
anu, kayaknya saya ada liat nama horikita maki
#8 by Faye on January 21, 2010 - 10:19 PM
masih ga bisa ni
*gigit Stellar*
ember, itu pemeran utama di Tokyo Boy kan Horikita Maki