The Happening

the happening poster

Producer

M. Night Shyamalan

Starring

Mark Walhberg, Zooey Deschanel, John Leguizamo, Ashlyn Sanchez

it’s the plants…

Manusia punya naluri untuk mempertahankan diri, mempertahankan hidupnya. Bahkan ketika dalam kondisi terhipnotis, kalau disuruh bunuh diri akan ada penolakan. Tapi di suatu hari yang tenang di Central Park, New York City, satu persatu orang mulai bunuh diri. Awalnya orang-orang mengira ini adalah serangan teroris dengan senjata kimia, tapi kejadiannya meluas sepanjang pantai timur Amerika, dari kota besar hingga ke kota-kota kecil.

Kejadiannya berlangsung sekitar satu hari penuh sebelum berakhir secara tiba-tiba tanpa disangka. Di akhir cerita diperlihatkan tayangan di televisi bahwa kejadian itu disebabkan tumbuhan yang melepaskan zat kimia ke udara, dan seorang pakar bilang kalau itu terjadi karena manusia sudah menjadi ancaman buat alam, sehingga alam berusaha mempertahankan diri.

Film ini sebenernya dapet banyak kritik, bahkan masuk nominasi Worst Picture, Worst Screenplay, dan Worst Actor. (thinking) Adegan bunuh dirinya cukup bikin saya nahan napas sih. Biarpun sering liat adegan gitu di film yang jauh lebih banyak darahnya, tapi tetep juga serem ngeliat orang bunuh diri pake nancepin tusuk konde di leher.  (pouty) Sepertinya yang bikin banyak dikritik itu karena temanya udah umum, dan dari jalan cerita nggak ada yang istimewa banget. Tapi menurut saya pesannya memang harus terus diingatkan ke orang-orang. Karena biarpun sudah banyak film dengan tema sejenis, rupanya tulang tengkorak manusia memang sebegitu tebalnya.

Saya jadi teringat dengan satu perjalanan ke ujung utara Kalimantan, dimana sepanjang jalan berpuluh-puluh truk besar yang mengangkut batu bara berseliweran. Begitu banyak sampai udara di sekitar jalan situ penuh debu dan saya harus menutup jendela kalau tidak mau kumat di tengah jalan, atau muka saya jadi coreng moreng seperti baru keluar dari perapian. Setelah turun dari mobil, bisa terlihat bagaimana hitamnya mobil yang saya tumpangi karena tertutup debu. Lalu dari sebegitu banyak truk yang lewat hampir setiap hari bisa dibayangkan sendiri penggalian macam apa yang dilakukan di daerah-daerah tambang batu baranya, entah yang legal ataupun ilegal.

Perjalanan lain lagi yang tidak melibatkan saya, yaitu sewaktu Ummi harus ke Kotabaru, sebuah kota di pulau kecil yang terpisah dari pulau Kalimantan itu sendiri. Untuk pergi ke sana harus menggunakan kapal kecil atau pesawat (yang kecil juga tentunya, bukan macam Garuda atau Lion Air). Saat itu Ummi naik pesawat, dan tentu nggak perlu terbang terlalu tinggi. Dari atas situ, sebagaimana beliau bilang, terlihat sekali “boroknya” Kalimantan. Daerah-daerah gundul di tengah hutannya, yang jadi daerah penebangan atau penambangan, lagi-lagi entah yang legal ataupun ilegal.

Salah seorang teman SMA saya yang berasal dari Kalimantan Tengah pernah bercerita tentang sebuah jalan yang ada di sana yang dikelilingi hutan. Dari jalan tersebut orang akan melihat betapa hijau dan lebatnya hutan Kalimantan. Tapi ketika sudah masuk ke dalam untuk beberapa kilometer, yang akan dilihat bukan lagi hutan yang seharusnya semakin lebat, tapi justru sisa-sisa penebangan.

Jadi kemana hutan Kalimantan yang katanya paru-paru dunia? :-(

Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak SD yang belajar Geografi nggak akan diajari lagi istilah paru-paru dunia untuk hutan Kalimantan. Atau mungkin sekarang pun sudah nggak? :-(

sumber gambar: wikipedia

This entry was posted in Movie

10 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge