
Pengarang
Mahardika Zifana
Penerbit
Edelweiss
Tempat bersembunyi paling aman untuk seekor kelinci adalah kandang macan.
Heri, seorang mahasiswa Monash University asal Indonesia tewas di Ethiopia saat sedang melakukan penelitian untuk disertasinya. Asistennya, Indra, yang ikut bersamanya dalam penelitian itu dikabarkan menghilang dan menjadi tersangka pembunuhan.
Kepergian Heri dan Indra ke Ethiopia ternyata bukan sekedar untuk melakukan penelitian untuk disertasi Heri, melainkan untuk melacak harta karun nabi Sulaiman beserta Tabut Perjanjian yang hilang. Semuanya berawal karena lima lembar manuskrip kuno yang ditemukan Indra yang merupakan seorang pedagang barang antik. Manuskrip tersebut mengisahkan kebenaran kisah Nabi Sulaiman as, Ratu Saba, dan anak mereka, Menelik, yang disebut-sebut sebagai leluhur dari kaum Beta-Israel di Ethiopia.
Lembar kelima dari manuskrip tersebut adalah yang paling penting. Lembar itu penting karena berisi petunjuk letak harta karun dan Tabut Perjanjian. Lembar itu juga menjadi berbahaya, karena mereka telah salah mempercayakan informasi tentang manuskrip itu kepada seorang Yahudi Zionis, dan lebih parah lagi karena orang tersebut adalah salah satu dari Knight of Zion, organisasi paling rahasia yang dibentuk dengan cita-cita menjadikan Yahudi sebagai penguasa dunia dan semua umat lain sebagai budaknya.
Sahabat Heri yang berada di Indonesia, Esa, kemudian terlibat dalam kejadian ini karena dia menerima paket yang berisi benda seperti gantungan kunci segitiga emas. Nisa, sahabat lama Esa dan Heri yang telah lama menghilang tiba-tiba muncul di rumah duka keluarga Heri di Indonesia. Sebelum keberangkatan Esa ke Australia untuk mewakili keluarga Heri ke Monash University, Esa menitipkan benda tersebut kepada Nisa. Namun tanpa sepengetahuan Esa, Nisa juga terlibat dengan Knight of Zion.
Teringat Indiana Jones?
Yap, saya juga teringat film lawas itu ketika membaca buku ini.
Secara keseluruhan, ceritanya menarik, dan membawa saya ikut-ikutan tegang ketika membacanya. Penulis, di buku ini juga, tidak segan-segan membunuhi tokoh-tokohnya.
*teringat diri sendiri yang ga tegaan kalau mau membunuhi tokoh cerita atau bahkan sekedar tokoh RPG-nya*
Beberapa hal bagi saya sedikit aneh karena sering sekali di beberapa bagian percakapan, dideskripsikan bahwa tokoh-tokoh tersebut berbicara atau menjawab pertanyaan dengan “dingin”. Terutama untuk tokoh-tokoh laki-laki, penggunaan penjelasan ini setelah tokoh laki-laki berbicara, cukup sering. Memangnya laki-laki cenderung untuk berkata dengan “dingin” ya?
Tapi tetep deh recommended bagi yang suka cerita petualangan.

#1 by lukman on July 17, 2010 - 6:55 AM
saya gak suka spoiler buku
saya gak suka review buku
*otomatis ngesot ke gramed buat intip2*
faye, kamu bertanggungjawab aaa
#2 by Faye on July 22, 2010 - 10:17 PM
#3 by ichanx on July 17, 2010 - 10:10 PM
duh… udah lama gak punya waktu buat baca2 buku tebel euy
#4 by Faye on July 22, 2010 - 10:18 PM
padahal novel itu temen yang lebih asik buat di baca dalem wc, kang
#5 by cidtux on July 18, 2010 - 7:08 AM
salam kenal..
bukunya tebal amat ya.. baca 2 halaman aja udah lier nih mata… kebanyakan didepan komputer…
#6 by Faye on July 22, 2010 - 10:19 PM
salam kenal juga
dan saya biasanya malah lebih pusing kalau baca e-book di komputer
setidaknya belum setebal Harry Potter