Ternyata Aku Sudah Islam

cover ternyata aku sudah islam

Pengarang

Damien Dematra

Penerbit

Gramedia Pustaka Utama

Saya masih ingat beberapa tahun lalu entah ketika saya masih SMP atau SMA, ada sebuah grup musik yang tiba-tiba menarik perhatian. Saya tidak tahu jenis musiknya apa, yang jelas liriknya religius dengan warna musik yang seperti tidak pernah saya dengan sebelumnya. Penampilan yang membawakan pun menarik perhatian karena keseluruhan dari mereka adalah orang asing.

Lagu yang ketika itu populer adalah Mazhab Cinta. Itu juga satu-satunya yang saya tahu sampai sekarang. :D Walaupun ummi mencoba membeli salah satu kasetnya, setelah mendengarkan beberapa ternyata saya tidak tertarik. :D Ya sudah, selesai begitu saja.

Beberapa bulan yang lalu buku ini saya temukan di kenduri bukunya Toga Mas. Keterangan di bawahnya menarik perhatian karena membawa lagi ingatan saya kepada saat pertama kali mengenal musik DEBU.

Kisahnya tentang pemimpin grup musik ini -atau terinspirasi dari, (thinking) dan pengalamannya masuk Islam. Dari seorang anak laki-laki kecil dengan hobi aneh bagi lingkungan sekitarnya saat itu, menggandrungi penyanyi India di televisi, dan terobsesi dengan sorban.

Sifatnya yang tak bisa ditebak dan selalu mengikuti kata hatinya membuatnya bertualang ke berbagai negara. Ketika lulus sekolah menengah atas tanpa sama sekali pernah mengikuti pelajaran olahraga, ia malah memutuskan untuk menjadi tentara perdamaian dan dikirim ke Korea. Ia tak ingin menonjolkan diri, namun malah menjadi anak emas atasannya, dan akhirnya terus bekerja di ketentaraan, mengikuti hingga atasannya pensiun setelah misi di Kuba selesai.

Pertemuannya dengan seorang gadis membuatnya hidup bertualang dari tenda ke tenda, berkeliling kemana langkah kaki membawa, sampai suatu saat masalah klasik melanda. Mereka tak punya uang untuk melakukan perjalanan lagi. Gadisnya meninggalkannya karena tak tahan hidup dengan rutinitas sekembalinya ke kehidupan kota, sehingga akhirnya ia melanjutkan kuliahnya yang tertunda, mengambil kelas bahasa-bahasa Timur Tengah ketika niatannya untuk mempelajari Buddha dari akarnya tidak bisa terlaksana.

Life goes on… dan ia terus bertualang, ke Australia, ke India, ke Turki, mempelajari semua agama yang ada, hidup miskin untuk mendalami kehidupan orang-orang Sikh yang selalu menjadi obsesinya sejak dulu, membeli Al-Qur’an di salah satu toko dan berniat mempelajarinya, hingga suatu hari ketika salah seorang bertanya kepadanya apakah agamanya, di luar kesadarannya mulutnya menjawab bahwa ia bergama Islam.

Setelah membaca sampai tuntas, entah kenapa terasa ada yang kurang. Beberapa bagian seolah hanya sambil lalu sehingga saya kurang merasakan detail yang ada, apa yang sebenarnya terjadi, dan timeline yang meloncat dari satu kejadian ke kejadian lain. I love details, jadi ketika orang lain protes membaca Ayat-ayat Cinta dengan deskripsi yang panjang tentang Mesir, saya menikmatinya. :)

Ada beberapa bagian yang saya agak sulit memahami, entah kesalahan cetak pada buku cetakan pertama atau bagaimana, tapi nama-nama tokoh yang tertukar seringkali cukup mengganggu. (thinking)

This entry was posted in Novel

8 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge