Monthly Archives: August 2010

Zettai Kareshi (絶対彼氏)

zettai kareshi

You finally have the dreams you were longing for within your grasp. Don’t let go of what’s important to you now that it’s in sight.

Saya butuh waktu satu semester cuma buat menyelesaikan nonton dorama ini. Soalnya nontonnya bikin ngantuk. (nearly_sleep) Padahal Mizushima Hiro main, tapi tetep aja beberapa kali nonton saya malah tertidur dengan sukses di tengah episode. (sleeping)

Ceritanya tentang robot bernama Tenjo Night (Mokomichi Hayami) yang dirancang untuk jadi ideal boyfriend, dan si cewek, Riko Izawa (Saki Aibu), yang awalnya terpaksa membeli robot ini pelan-pelan mulai jatuh cinta beneran sama si robot. Sepanjang film sampai selesai rasanya ada yang mengganjal, saya merasa ada sesuatu yang salah di sini. (pouty) Padahal namanya imajinasi yah, mau gimana juga kan terserah aja. Tapi, mau mengorbankan semuanya, termasuk cita-citanya untuk menjadi pâtissier? Memilih robot untuk jadi pacarnya dibandingkan manusia normal? Demi kepribadian yang dibikin dan dikontrol sama programmer-nya? (pouty) Bahkan walaupun ketika di akhir diceritakan kalau robotnya perlahan-lahan punya emosi dan perasaan sendiri. Tetap saja saya merasa ada yang salah.

night, soushi

Akhirnya selesai juga nontonnnya. (henshin) Diselesaikan walaupun bosan, cuma karena nggak suka meninggalkan jalan cerita di tengah-tengah sementara saya punya semua episodenya. (doh)

Good Luck!

good luck

Well, to ride on the same plane for so many hours means we all have the same lives.

Dorama jaman baheula sekali, tahun 2003. Katanya udah pernah ditayangin di salah satu stasiun televisi swasta kita, tapi saya nggak pernah liat sih. Ceritanya tentang kopilot yang dinilai ceroboh oleh bagian audit maskapainya dan disarankan untuk berhenti saja dari profesinya. Ada Kimutaku waktu ganteng. (blush) Satu-satunya film Kimutaku yang pernah saya liat cuma Beautiful Life, itu pun cuma adegan ending yang so sweet bikin pengen nangis itu. (cry)

They told me I’d never fly again, and I defied the odds.

Good Luck!

Kapan Pindah?

Adek Kos: “Mbak, kamar Mbak ini berapa harganya?”

Saya: *nyebutin harga*

Adek Kos: *uwel-uwel buku yang baru mau dipinjem* “Mbak…”

Saya: “Hmm?”

Adek Kos: “Mbak kapan pindah?”

Saya: “…”

*senyum malaikat*

“Nggak tau, ya. Sampai lulus palingan.”

*masih senyum malaikat*

“Emang kenapa? Sinyalnya bagus, ya, di sini?”

Adek Kos: “Iya, Mbak.”

Saya nggak marah atau gimana sih. Cuma sedikit kaget dan geli, kok ya itu anak ngomongnya langsung blak-blakan gitu, nanya saya kapan pindah supaya dia bisa nempatin kamar saya sekarang. (ninja)

Anoo, sepertinya sih selama masih di kosan yang ini, Insya Allah nggak mau pindah kamar. Selain karena sinyal yang udah bagus untuk lantai bawah (yang mana saya nggak mau pindah ke atas karena berisiknya ampun-ampunan), siapa yang mau ngangkut barang-barang seabrek-abrek untuk pindahan? Itu buku yang tumplek blek di lemari sampai bingung mau dikemanain lagi, siapa coba yang mau ngangkat. (doh) Saya mah males ngangkatin lagi dalam waktu dekat ini. (coldsweat)

5 Centimeters per Second

nee… Takaki-kun, atashi no koto, oboete imasuka?

I ‘m always searching for you, always searching for your figure.

On the opposite platform, or through window in the back alley.

Even though I know you can’t be there.

If my wish were to come true, I would be at your side.

There could be nothing I couldn’t do.

If only to avoid loneliness, anyone will do.

On this night when it seem stars will fall from the sky, I cannot lie to myself.

One more time, don’t fade away, seasons.

One more time, I want that time when we fooled around together

One More Time, One More Chance ~ Yamazaki Masayoshi


Permisi, saya mau mewek dulu di pojokan. *ambil tisu toilet segulung* (crying_hard)

Paku, Payung, dan Jendela

Anak kosan, selalu menemukan cara tak terduga di tengah kemalasan keterbatasan. (okok)

Kamar saya, seperti yang dulu pernah saya ceritakan waktu baru pindah kamar, terletak di bagian rumah paling depan. Keuntungan yang dimiliki kamar-kamar itu adalah pasokan cahaya yang bagus, karena jendela yang langsung menghadap ke luar dan bukannya ke bagian dalam rumah.

Ada tiga jendela besar yang bisa dibuka. Iya,  saya serius nulis kalimat tadi, bisa dibuka.  :D Kan ada tuh jendela yang cuma sebatas kaca doang dan nggak bisa dibuka, kayak di kamar mandi biasanya itu. (haha) FYI, jenis jendela saya ini yang engselnya di atas. :D Jadi berhubung bisa dibuka dan langsung menghadap ke luar, seperti layaknya pemilik kos yang baik dan sadar bahwa daerah kosan memang rawan maling dalam segala macam bentuk, maka jendelanya dipasangi teralis. Oh, dan tentu saja gorden. Tega bener kalau nggak ada gorden, gimana kalau malam-malam ada yang nemplok di jendela saya? :(( *contohnya cicak* (ninja)

dan semoga saya tidak akan pernah melihat binatang itu nemplok di jendela saya…