Salah seorang teman saya cerita, beberapa hari yang lalu dia menemukan bayi di musala deket rumahnya.
Iya, bayi. Bergerak. Idup. Nggak ada ibunya.

Kok tega, sih?
Mungkin keluarga si bayi merasa nggak mampu ngurus dan berharap si bayi diurus orang baik-baik dengan dia tinggalin di musala. Tapi saya tetap tidak bisa menyingkirkan pikiran… “kok tega sih?”
Kenapa nggak sekalian nggak usah hamil aja kalau nggak mau punya anak? Kalau itu bayi karena kecelakaan, ya salah siapa juga sampai kecelakaan? Terus sekarang nambahin dosa dengan ngebuang anaknya? Kalau nggak mampu ngurus, nggak adakah cara lain selain ditinggalkan begitu aja di musala? Bukannya diserahkan baik-baik ke panti asuhan kek, diurus keluarga lain kek, orang lain yang kenal kek, atau apalah. Bukankah kalau diletakkan begitu saja, memutuskan hubungan sama sekali dengan si bayi, di mana pun tempatnya, akhirnya namanya tetap saja membuang?
Manusia dibuang-buang kayak kulit permen….
sumber gambar dari sini
Untung biasa bawa novel kalau bepergian begini, jadi setidaknya ada yang bisa dilakukan selain memperhatikan satu persatu penumpang yang sepesawat sama saya tadi menghilang dari keramaian bandara.

