Pagi ini ketika saya membuka Y!M, nggak sengaja terlihat iklan berita-berita terbaru. Seperti biasa, tergoda untuk membuka. Apalagi karena judulnya tadi pagi itu terlihat sangat menarik.
WTH, pikir saya ketika itu. Ini semacam berita dengan judul lebai padahal isinya nggak seperti itu, atau emang beneran ada yang ngeklaim matahari?
Ternyata memang ada yang mendaftarkan matahari sebagai miliknya, namanya Angeles Duran. Ada yang aneh di berita itu, masa matahari disebut planet, bukannya itu bintang, ya?
Di paragraf selanjutnya memang disebut lagi sebagai bintang, tapi di paragraf awal dibilang planet.
Daaan, kalau dari yang saya baca sih ya, kayaknya dokumen kepemilikannya udah keluar.
Nggak ada pertauran yang melarang kepemilikan pribadi dari benda-benda luar angkasa, yang ada cuma melarang kepemilikan suatu negara atas benda-benda luar angkasa. Jadi walaupun si notaris kaget dengan klaim hak milik itu, dia ngesahin dokumennya. Setelah itu, Angeles Duran berniat menetapkan tarif buat “pengguna matahari”. Yeah rite, bayangkan saja berapa duit itu, semua orang kan perlu matahari.
Sempet jadi diskusi singkat di plurk saya, mempertanyakan legit nggaknya. Tapi ujung-ujungnya sampai pada kesimpulan kalau matahari menyebabkan kerugian kita bisa nuntut.
Kulit belang-belang karena kepanasan? Kanker kulit? Lemes kepanasan? Ada kenalan yang mati kepanasan? Sekarang udah ada tempat pengaduannya, bisa dituntut.
I search for more, dan Al Gore juga menyuruh orang ini untuk bertanggung jawab atas global warming.
Any comments?
Atau ada yang berniat mengklaim sesuatu juga? Bumi bisa ga yak diklaim?
Kebetulan salah satu panitianya teman saya, dan dia ngasih info tentang kuliah tamu ini. Untung aja saya ke sana bareng dua orang temen, jadi nggak kayak orang hilang di sana, soalnya jelas-jelas lebih dari separuh orang yang hadir itu berasal dari IlKomp dengan angkatan yang sama, jadi udah ngumpul sendiri.
Langsung deh buru-buru cuci muka, siap-siap berangkat berbekal separo nyawa yang baru terkumpul.
Saya mungkin tidak menangis bahagia seperti Mbak yang satu itu, tapi saya benar-benar bahagia untukmu.
Insya Allah kami akan hadir di hari bahagiamu. Insya Allah kami akan hadir, ketika dia membacakan surat kesayanganmu sebagai mahar. Kami ingin melihatmu tersenyum dan menangis bahagia di hari itu, ketika kehidupan barumu bermula.