Monthly Archives: November 2010

Matahari Diklaim?

Pagi ini ketika saya membuka Y!M, nggak sengaja terlihat iklan berita-berita terbaru. Seperti biasa, tergoda untuk membuka. Apalagi karena judulnya tadi pagi itu terlihat sangat menarik.

Perempuan Spanyol, Sang “Pemilik Matahari”

WTH, pikir saya ketika itu. Ini semacam berita dengan judul lebai padahal isinya nggak seperti itu, atau emang beneran ada yang ngeklaim matahari?

Ternyata memang ada yang mendaftarkan matahari sebagai miliknya, namanya Angeles Duran. Ada yang aneh di berita itu, masa matahari disebut planet, bukannya itu bintang, ya? (haha) Di paragraf selanjutnya memang disebut lagi sebagai bintang, tapi di paragraf awal dibilang planet. :p

Daaan, kalau dari yang saya baca sih ya, kayaknya dokumen kepemilikannya udah keluar. :-o Nggak ada pertauran yang melarang kepemilikan pribadi dari benda-benda luar angkasa, yang ada cuma melarang kepemilikan suatu negara atas benda-benda luar angkasa. Jadi walaupun si notaris kaget dengan klaim hak milik itu, dia ngesahin dokumennya. Setelah itu, Angeles Duran berniat menetapkan tarif buat “pengguna matahari”. Yeah rite, bayangkan saja berapa duit itu, semua orang kan perlu matahari. :-o

Sempet jadi diskusi singkat di plurk saya, mempertanyakan legit nggaknya. Tapi ujung-ujungnya sampai pada kesimpulan kalau matahari menyebabkan kerugian kita bisa nuntut. (haha) Kulit belang-belang karena kepanasan? Kanker kulit? Lemes kepanasan? Ada kenalan yang mati kepanasan? Sekarang udah ada tempat pengaduannya, bisa dituntut. (okok)

I search for more, dan Al Gore juga menyuruh orang ini untuk bertanggung jawab atas global warming. :P

Any comments? (thinking) Atau ada yang berniat mengklaim sesuatu juga? Bumi bisa ga yak diklaim? (okok)

Blogged with the Flock Browser

Tentang Pinjam Meminjam, dan Kamera Saya

Dalam rangka Dies Natalis, universitas saya ngadain lomba fotografi lanskap di universitas. Awalnya nggak sengaja liat posternya dipajang di mading biru deket gedung kemahasiswaan teknik. Dari situ tertarik ikut. Sebenernya saya emang lumayan suka fotografi. Sejak bisa make kamera waktu SMP, kalau ada acara suka dibawa buat foto-foto kegiatannya. Lalu entah bagaimana ceritanya sewaktu SMA sering terjebak jadi sie PDD di kepanitiaan. Itu entah bagaimana lagi terbawa sampai kuliah, padahal jelas-jelas SMA dan kampus saya sekarang beda pulau. (ninja)

Singkat cerita, iseng-iseng saya memutuskan untuk mencoba ikut lomba ini. Pengen aja. Sudah lumayan lama saya nggak megang kamera saya sendiri. Perpaduan akibat memang jarang jalan-jalan jadi nggak ada yang difoto, keseringan kameranya dipinjem sana-sini, sampai palingan saya make kalau emang mau menghadiri festival budaya. Dan terakhir, karena baterai chargeable-nya hilang.

Sesungguhnya itu bagian paling fatal. Si kamera yang saya sampai lupa dulu ngasih nama apa ke dia itu, adalah KODAK tipe lamaaaaaaa sekali. Dari jaman kamera digital nggak bisa didapet di kisaran sejuta. Jadi jaman itu belum ada baterai khusus untuk kameranya yang dilengkapi charger kayak yang sekarang, yah sependek pengetahuan saya tentunya. Kamera saya masih pakai baterai yang bentuknya silinder kayak buat ngisi senter. (haha)

Baterai jenis itu tapinya, kan ada juga yang chargeable. Dulu saya punya empat baterai lengkap sama chargernya. Dulu…. Sampai suatu ketika ada sebuah acara yang minjem kamera saya, dan karena yang minjemin itu kenalan saya, dia minjem sama baterai dan chargernya sekalian. Yah, tebak saja akhirnya. Yang kembali ke tangan saya cuma kamera dan sarung kameranya.

lalu ketika barangmu tidak kembali… apa yang harus dilakukan?

Balada Idul Adha 2: Karnaval Qurban

Sebagaimana dua tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini saya membolang lagi di wilayah sekitar Malang bersama teman-teman. Tujuan tahun ini tidak jauh-jauh, yaitu di Kecamatan Dau. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Itu, tentu saja, bagi yang tumpangan yang dinaikinya tidak mogok karena jalan yang menanjak, serta tidak nyasar. (okok) Masalah nyasar ini sudah merupakan kejadian yang tidak langka lagi kalau ada acara di luar kampus. (okok)

Rombongan berangkat hari Rabu pagi setelah sebelumnya berkumpul di kampus terlebih dulu. Angkot carteran yang saya tumpangi termasuk dalam kategori yang mogok. (ninja) Jadi ketika jalan mulai menanjak terus, supirnya memutuskan untuk berhenti beberapa kali, memperbaiki sesuatu dengan mesinnya, entah apa itu. Penumpang sih adem ayem saja, malah yang disuruh turun dulu sementara supir memperbaiki mesin itu memanfaatkan waktu buat foto-foto di tengah kebun-kebun dan sawah-sawah di pinggir jalan.

Setelah  sampai di lokasi, panitia memutuskan untuk memulai acara terlebih dulu, karena tinggal satu angkot lagi yang nyasar dan kalau menunggu nanti terlalu lama. Panitia dibagi untuk masing-masing acara. Ada yang bertugas di bazaar baju murah dan pembagian sembako, ada yang bertugas menyembelih kambing, ada yang membantu pelayanan kesehatan gratis, ada yang mengajak anak-anak di sekitar sana bermain, dan tentu saja ada yang memasak untuk makan siang hari itu. (mmm)

Saya, berhubung saya sesungguhnya bukan panitia, tapi nemenin aja daripada sia-sia di kosan sendirian (dan nemenin staf departemen saya yang ikut di situ (ninja) ), akhirnya malah berkeliaran kesana kemari. :p Awalnya sih sempet bantuin yang bagian masak, ngupas-ngupasin kelapa sebelum diparut, terus akhirnya semakin banyak yang datang dan rumah tempat kami masak jadi penuh. Akhirnya karena saya juga pengen liat semua bagian acara, saya ngambil kamera dan pergi ke TK tempat acara yang lain.

dokumentasi sie pdd tak terdaftar…

Kuliah Tamu AI: Mari Bertualang ke IlKomp Sejenak

Siang tadi saya menghadiri kuliah tamu yang diadakan Ilmu Komputer UB. Sekali-sekali nyasar ke fakultas lain boleh dong. (lol) Kebetulan salah satu panitianya teman saya, dan dia ngasih info tentang kuliah tamu ini. Untung aja saya ke sana bareng dua orang temen, jadi nggak kayak orang hilang di sana, soalnya jelas-jelas lebih dari separuh orang yang hadir itu berasal dari IlKomp dengan angkatan yang sama, jadi udah ngumpul sendiri.

Pembicara kuliah tamunya adalah dosen Institut Teknologi Telkom, Pak Suyanto, ST, MSc, dan juga pengarang buku Artificial Intlligence. Buku karangan beliau nggak cuma itu sebenernya, tapi saya kurang tahu yang lain. Tahunya cuma ini, soalnya semester ini saya ngambil mata kuliah AI dan si Ismi —yang mana merupakan satu dari dua orang teman saya yang juga ikut ke kuliah tamu— punya bukunya.

Acara dimulai jam tiga, dan Ismi dengan semangat sudah menjemput saya di kosan jam dua lewat dua puluh menit. Waktu dia ngetok-ngetok jendela kamar kosan saya, tepat saat itulah saya terbangun dari tidur. (ninja) Habisnya saya ketiduran, mau gimana lagi. (rofl) Langsung deh buru-buru cuci muka, siap-siap berangkat berbekal separo nyawa yang baru terkumpul.

Waktu berangkat masih rada keliyengan, gara-gara terbangun dengan kaget. Beruntung mulai sadar sepenuhnya waktu udah sampai di lokasi. Eh, ternyata dosennya belum datang karena masih dalam perjalanan abis ngasih kuliah di Machung. Akhirnya peserta solat asar dulu.

Materinya sendiri berkisar tentang teknik optimasi, dengan studi kasus penyusunan jadwal kuliah di ITTelkom. Jadi menurut cerita beliau, gedung kuliah ITTelkom hanya terdiri dari 57 ruangan, dengan jumlah mahasiswa yang begitu banyak. Pengaturan jadwal jadi agak rumit karena harus nyesuain dengan banyak hal juga selain supaya begitu banyak jadwal kuliah untuk sekian mahasiswa bisa ditampung di ruang-ruang kuliah yang ada. Dengan kondisi seperti itu dan belum adanya dana untuk memperluas bangunan lagi, akhirnya dibuatlah sistem pengaturan jadwal dengan memanfaatkan Algoritma Genetika sama Greedy Search. Membangun sistemnya butuh waktu tiga tahun, dimulai tahun 2007 dan baru selesai semester lalu (2010.red).

suyanto

Teman saya, Niken, dan Pak Suyanto, seusai Niken meminta tanda tangan untuk hadiah buku yang didapatnya tadi sore.

Salah satu hal yang juga berkesan di acara tadi adalah Dekan FMIPA. Dekannya lucu deh. (rofl) Gayanya waktu ngasih sambutan malah kayak orang mandu kuis di televisi dibandingkan dengan dosen ngasih sambutan. Di tengah-tengah acara beliau sempat guyon dengan mahasiswa yang duduk di sebelahnya. Jadi Pak Suyanto itu memulai acara dengan bilang “Selamat Pagi”. Setelah ngeliat beberapa orang bingung (saya nggak, udah biasa kalau ikut acara yang ada trainernya pasti kayak gitu (haha) ), beliau ngejelasin kalau kapanpun itu waktunya, minumnya teh botol sosro di kampus beliau selalu sapaannya “Selamat Pagi” biar selalu semangat. Akhirnya beliau menyapa sekali lagi:

Pak Suyanto: “Selamat Pagi!”

Peserta: “Selamat Pagi!”

Dekan FMIPA: *abis ngejawab selamat pagi juga, terus ngomong ke mahasiswa di sebelahnya sambil ngeguncang-guncang bahunya* “Bangun! Bangun! Pagi!”

Waktu sesi tanya jawab, beliau juga aktif, dan bahkan saya liat beliau sempet nyatat pertanyaan yang mau ditanyain di atas kotak kue yang dikasih panitia. (lol)

Blogged with the Flock Browser

Seorang Kawan yang Bahagia

Sore ini, saya bertemu beberapa kawan, memenuhi janji yang terlewat seminggu yang lalu. Ada sesuatu yang berbeda, pada pertemuan kami kali ini. Saya sudah tahu, tentu saja, kabar samar-samar tentangnya. Maka saya menunggu, menunggu dia bercerita kepada kami, ketika satu persatu kawan-kawan yang lain mulai berdatangan.

Sambil mengunyah kue kering dan getuk, kami berbincang. Tentang bencana di Mentawai, tentang dunia, tentang hidup akhir-akhir ini, tentang menumpuknya kegiatan tak terselesaikan, dan akhirnya, tentang dia dan kabar bahagianya. Ya, tentang seorang laki-laki yang datang ke rumah orang tuanya, meminta dirinya.

Malang mendung sesaat sebelum kami mulai bercerita, tapi saya tak pernah tahu apakah hujan akhirnya turun atau tidak sore itu. Karena di dalam ruangan ada seseorang yang tengah berbicara dengan rona bahagia. Dia berusaha tak menunjukkan semuanya, tapi matanya tidak bisa berbohong, serta raut wajahnya, yang mau tak mau berseri-seri, lalu seketika berubah tersipu malu ketika kami menggodanya.

Ia bercerita, tentang tangan yang gemetar saat menyuguhkan air minum ketika proses lamaran. Tentang suara si lelaki yang gemetar ketika membaca ayat suci Al-Qur’an. Tentang ayahnya yang memberikan restu, bahkan ketika kebanyakan orang mungkin ragu, karena lelaki itu, walau memang sudah bekerja, tapi masih dalam proses menunggu sidang skripsi, padahal kawan saya telah lulus dan bekerja sejak setahun yang lalu.

Jodoh takkan kemana, karena Dia telah menggariskannya saat memutuskan bahwa kita akan dilahirkan ke dunia.

Dia bahagia. Saya tahu. Dan kami pun bahagia untuknya. Barakallah, Mbak. (cozy) Saya mungkin tidak menangis bahagia seperti Mbak yang satu itu, tapi saya benar-benar bahagia untukmu. :D Insya Allah kami akan hadir di hari bahagiamu. Insya Allah kami akan hadir, ketika dia membacakan surat kesayanganmu sebagai mahar. Kami ingin melihatmu tersenyum dan menangis bahagia di hari itu, ketika kehidupan barumu bermula. (cozy)

Ketika saya pulang, setelah puas menggodanya bersama yang lain, saya tahu saya tengah bertanya-tanya kapan giliran saya. Jangankan saya, hampir semua yang ada di sana juga menyimpan pertanyaan yang sama sepulangnya dari pertemuan kami kali itu.

It’s funny in some way and another, bahwa hal-hal seperti ini, men-trigger kenangan-kenangan lama untuk menyeruak ke permukaan. Orang yang sama, lagi-lagi orang yang sama. All of it, from his stupid joke, to his sarcastic words. From that stupid “you born for me” joke to the “you’ll go with us, right?” Semua, sampai pada kebisuan itu. Semua, bahkan hingga pada kata-kata kawan ibunya ketika itu. Semua.

It’s too painful, yet too beautiful to forget.

Noo, baby.. What’s funny? I think he’s reasonable enough to not forget.

Sahabat saya berkata begitu. Tapi lagi-lagi saya merasa tak cukup pantas. Karena sayapnya terlalu indah, terlalu kuat, dan membawanya terbang terlalu tinggi. Sementara suara saya terlalu kecil untuk bisa terdengar lagi olehnya.

Sore tadi kawan saya berkata pula, ini adalah satu hal tentang perbaikan diri. Karena Dia telah berjanji, bahwa perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula.

Tulang rusukmu takkan tertukar. Kan?

Blogged with the Flock Browser