Balada Idul Adha 2: Karnaval Qurban

Sebagaimana dua tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini saya membolang lagi di wilayah sekitar Malang bersama teman-teman. Tujuan tahun ini tidak jauh-jauh, yaitu di Kecamatan Dau. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Itu, tentu saja, bagi yang tumpangan yang dinaikinya tidak mogok karena jalan yang menanjak, serta tidak nyasar. (okok) Masalah nyasar ini sudah merupakan kejadian yang tidak langka lagi kalau ada acara di luar kampus. (okok)

Rombongan berangkat hari Rabu pagi setelah sebelumnya berkumpul di kampus terlebih dulu. Angkot carteran yang saya tumpangi termasuk dalam kategori yang mogok. (ninja) Jadi ketika jalan mulai menanjak terus, supirnya memutuskan untuk berhenti beberapa kali, memperbaiki sesuatu dengan mesinnya, entah apa itu. Penumpang sih adem ayem saja, malah yang disuruh turun dulu sementara supir memperbaiki mesin itu memanfaatkan waktu buat foto-foto di tengah kebun-kebun dan sawah-sawah di pinggir jalan.

Setelah  sampai di lokasi, panitia memutuskan untuk memulai acara terlebih dulu, karena tinggal satu angkot lagi yang nyasar dan kalau menunggu nanti terlalu lama. Panitia dibagi untuk masing-masing acara. Ada yang bertugas di bazaar baju murah dan pembagian sembako, ada yang bertugas menyembelih kambing, ada yang membantu pelayanan kesehatan gratis, ada yang mengajak anak-anak di sekitar sana bermain, dan tentu saja ada yang memasak untuk makan siang hari itu. (mmm)

Saya, berhubung saya sesungguhnya bukan panitia, tapi nemenin aja daripada sia-sia di kosan sendirian (dan nemenin staf departemen saya yang ikut di situ (ninja) ), akhirnya malah berkeliaran kesana kemari. :p Awalnya sih sempet bantuin yang bagian masak, ngupas-ngupasin kelapa sebelum diparut, terus akhirnya semakin banyak yang datang dan rumah tempat kami masak jadi penuh. Akhirnya karena saya juga pengen liat semua bagian acara, saya ngambil kamera dan pergi ke TK tempat acara yang lain.

Di sana ternyata udah rame sekali. Di halaman TK ada bazaar baju murah dan pembagian sembako. Ibu-ibu sudah mulai antri dan asyik ngobrol sendiri-sendiri.

Bazaar

Suasana bazaar baju murah. Hasil penjualan bazaar disumbangkan lagi ke desa yang bersangkutan.

Sementara itu di musola kecil di TK itu, ada segerombolan anak-anak yang ramainya melebihi kondisi di luar. Oke, saya suka rada gimana gitu, kalau sama anak-anak segitu banyak dan semuanya pada ribut, bawaannya pengen ngiket terus digelindingin. (haha)

Anak-anak

Bermain bersama anak-anak.

Di situ ada yang asyik sendiri, diem anteng, terus ada juga yang ngerumpi sama temen-temennya, dan ada juga yang nangis. Anak yang nangis itu kayaknya nggak mau ditinggal ibunya, soalnya akhirnya ibunya yang tadinya lagi ikut di bazaar di halaman itu datang dan ngegendong anaknya di pintu masuk musola.

Ada satu lagu yang saya inget dinyanyiin mereka setelah panitia susah payah mengganti lagu Arema yang anak-anak cowok nyanyiin dengan lantang. (haha) Tertarik aja sama lagunya, soalnya nggak pernah denger waktu jaman saya seumur mereka, dan di lagu yang merupakan modifikasi dari lagu Di Sini Senang Di Sana Senang itu ada pesan buat nggak ngerusak alam.

Di sini hutan, di sana hutan. Di mana-mana kulihat hutan.

Di sini satwa, di sana satwa. Di mana-mana kulihat satwa.

Jangan rusak hutanku, jangan mebunuh satwa, biarkanlah mereka, bahagia.

Lama-lama nggak tahan juga di sana, ribut banget. (haha) Maka beralihlah saya ke tempat pengobatan gratis. Di sana adem sekali, dan suasananya juga tenang. :D Kami kerjasama sama BSMI Cabang Malang dan ngedatengin tiga dokter dari sana, sama apotekernya juga. Anak-anak kedokteran yang ikut di acara ini bertugas nensi darah pasien sebelum diperiksa sama dokternya.

BSMI

Pengobatan gratis dibantu dokter dari BSMI.

Oya, saya sempat belajar nensi darah, lho, hari itu. :D Gampang-gampang susah, susahnya pas bagian ngelepasin tekanan udara, saya kebablasan melulu langsung keluar semua. (rofl) Terus anak kedokteran yang ngajarin saya nyontohin dengan nensi darah saya, tapi ga ketemu-ketemu nadinya. Jangan-jangan saya sesungguhnya telah mati disembelih dan nggak punya denyut nadi lagi. (okok)

Untuk kegiatan yang sebenernya paling utama dari bakti sosial pas Idul Adha, yaitu kambing-kambingan, saya nggak tau gimana prosesnya dan nggak punya fotonya juga. Soalnya yang ngurus kambing itu yang cowok-cowok sama bapak-bapak penduduk sana. Jadi maaf saja kalau saya nggak punya foto kambing yang vulgar lagi seperti dulu. (haha)

Yup, begitulah kira-kira rangkaian acara dan kegiatan saya selama Idul Adha kali ini. Alhamdulillah lancar, biarpun mungkin ada miss di sana-sini. Waktu siang sempet hujan agak deras, tapi untungnya sebagian besar kegiatan sudah selesai. Cuma mungkin karena hujan, ya, jadinya bau kambing dari tanah kosong di sebelah TK, lokasi penyembelihan, menyebar kemana-mana sampai ke halaman TK. Baunya nggak enak. (green) Si Ismi yang nggak suka kambing tambah nggak tahan gara-gara bau itu.

NB: tulisan ini saya bikin juga buat dokumentasi kegiatan di sini

dengan versi penceritaan yang berbeda tentu saja. (tongue)

Blogged with the Flock Browser

This entry was posted in Events, Friends, Travelling

14 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge