Seorang Kawan yang Bahagia

Sore ini, saya bertemu beberapa kawan, memenuhi janji yang terlewat seminggu yang lalu. Ada sesuatu yang berbeda, pada pertemuan kami kali ini. Saya sudah tahu, tentu saja, kabar samar-samar tentangnya. Maka saya menunggu, menunggu dia bercerita kepada kami, ketika satu persatu kawan-kawan yang lain mulai berdatangan.

Sambil mengunyah kue kering dan getuk, kami berbincang. Tentang bencana di Mentawai, tentang dunia, tentang hidup akhir-akhir ini, tentang menumpuknya kegiatan tak terselesaikan, dan akhirnya, tentang dia dan kabar bahagianya. Ya, tentang seorang laki-laki yang datang ke rumah orang tuanya, meminta dirinya.

Malang mendung sesaat sebelum kami mulai bercerita, tapi saya tak pernah tahu apakah hujan akhirnya turun atau tidak sore itu. Karena di dalam ruangan ada seseorang yang tengah berbicara dengan rona bahagia. Dia berusaha tak menunjukkan semuanya, tapi matanya tidak bisa berbohong, serta raut wajahnya, yang mau tak mau berseri-seri, lalu seketika berubah tersipu malu ketika kami menggodanya.

Ia bercerita, tentang tangan yang gemetar saat menyuguhkan air minum ketika proses lamaran. Tentang suara si lelaki yang gemetar ketika membaca ayat suci Al-Qur’an. Tentang ayahnya yang memberikan restu, bahkan ketika kebanyakan orang mungkin ragu, karena lelaki itu, walau memang sudah bekerja, tapi masih dalam proses menunggu sidang skripsi, padahal kawan saya telah lulus dan bekerja sejak setahun yang lalu.

Jodoh takkan kemana, karena Dia telah menggariskannya saat memutuskan bahwa kita akan dilahirkan ke dunia.

Dia bahagia. Saya tahu. Dan kami pun bahagia untuknya. Barakallah, Mbak. (cozy) Saya mungkin tidak menangis bahagia seperti Mbak yang satu itu, tapi saya benar-benar bahagia untukmu. :D Insya Allah kami akan hadir di hari bahagiamu. Insya Allah kami akan hadir, ketika dia membacakan surat kesayanganmu sebagai mahar. Kami ingin melihatmu tersenyum dan menangis bahagia di hari itu, ketika kehidupan barumu bermula. (cozy)

Ketika saya pulang, setelah puas menggodanya bersama yang lain, saya tahu saya tengah bertanya-tanya kapan giliran saya. Jangankan saya, hampir semua yang ada di sana juga menyimpan pertanyaan yang sama sepulangnya dari pertemuan kami kali itu.

It’s funny in some way and another, bahwa hal-hal seperti ini, men-trigger kenangan-kenangan lama untuk menyeruak ke permukaan. Orang yang sama, lagi-lagi orang yang sama. All of it, from his stupid joke, to his sarcastic words. From that stupid “you born for me” joke to the “you’ll go with us, right?” Semua, sampai pada kebisuan itu. Semua, bahkan hingga pada kata-kata kawan ibunya ketika itu. Semua.

It’s too painful, yet too beautiful to forget.

Noo, baby.. What’s funny? I think he’s reasonable enough to not forget.

Sahabat saya berkata begitu. Tapi lagi-lagi saya merasa tak cukup pantas. Karena sayapnya terlalu indah, terlalu kuat, dan membawanya terbang terlalu tinggi. Sementara suara saya terlalu kecil untuk bisa terdengar lagi olehnya.

Sore tadi kawan saya berkata pula, ini adalah satu hal tentang perbaikan diri. Karena Dia telah berjanji, bahwa perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula.

Tulang rusukmu takkan tertukar. Kan?

Blogged with the Flock Browser

This entry was posted in Friends

14 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge