Monthly Archives: December 2010

RO: After Five Years

ragnarok online

Lima tahun yang lalu, ada tiga orang anak manusia berkromosom XX, siswa tingkat akhir dari salah satu SMP yang saat itu cukup bagus di kotanya. Lima tahun yang lalu, tiga anak manusia ini, punya hobi yang sama. Manga, Shaman King, dan kelayapan ke game center. Dan saya, adalah salah satu dari tiga orang tadi.

(thief)

Berawal dari rasa ingin tahu, karena saat itu sedang populer-populernya MMORPG Ragnarok Online, alias RO, tiga orang tadi mencari tempat yang menyediakan game itu. Tidak seperti sekarang dimana RO bisa ditemukan di komputer-komputer di warnet biasa, saat itu, setidaknya di kota saya, RO cuma disediakan oleh game center. Maka setelah diskusi panjang kali lebar kali tinggi, dan memahami resiko bahwa game center adalah tempat-tempat yang dikuasai oleh makhluk berjenis kelamin laki-laki, kami memantapkan niat untuk maju ke medan perang. *lebay*

petualangan pun dimulai…

Marmut Merah Jambu

marmut merah jambu

Pengarang

Raditya Dika

Penerbit

Bukune

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.

Buku kelima (kalau saya tidak salah) dari Raditya Dika. Masih tidak berubah aliran dengan gayanya sebagai penulis komedi. Tapi kali ini terasa ada yang berbeda. Mungkin seperti yang dia bilang sendiri, komedinya bitter sweet.

Merah jambu, warna yang biasanya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Marmut Merah Jambu memang bercerita tentang kehidupan cinta si penulis, dari mulai ketika dia masih SMP, sampai hubungannya dengan salah seorang artis yang kita semua sama-sama tau, :D dan juga kisah cinta aneh yang pernah dia alami. Misalnya, ditaksir dua orang cewek kembar, yang saking “cintanya” sama dia, sampai didatangin ke rumah tiap hari. (doh)

Cerita berjudul Balada Sunatan Edgar adalah salah satu dari beberapa yang paling saya ingat, karena berhubungan dengan akun twitter Raditya Dika dan juga adiknya itu. Saya ingat pernah memang di salah satu twitnya, meminta tweeps untuk membujuk Edgar agar mau disunat. (rofl) Dan dikisahkan bahwa itulah salah satu pendorong Edgar untuk berani disunat. (rofl)

Cerita tentang Alfa, kucingnya, yang mengambil alih komputer pemiliknya dan mulai nulis sendiri, sebelumnya sudah pernah saya baca di blognya. Itu dimuat lagi di buku Marmut Merah Jambu, dengan sedikit perubahan.

Ngeresensi buku yang isinya cerita-cerita pendek emang susah, ya. Mau cerita, tapi kayaknya satu paragraf aja ntar udah hampir ngebocorin cerita satu judul. (rofl) Ya sudah, sampai di sini aja. (rofl) *bilang aja lagi males* *ditampar bolak-balik*

Dan ngomong-ngomong saya suka sekali sama pembatas buku marmutnya. :D

Blogged with the Flock Browser

When A Stranger Calls

when a stranger call

Director

Simon West

Starring

Camilla Belle, Brian Geraghty, Katie Cassidy, Clark Gregg, Thomas Flanagan, Lance Henriksen, Tessa Thompson, Derek de Lint, Kate Jennings Grant, David Denman, Arthur Young, Madeline Carroll

Have you checked the children?

Jill Johnson (Camilla Belle) ketika itu sedang dihukum karena tagihan telepon genggamnya melonjak. Ia harus menjadi penjaga anak-anak untuk sementara waktu. Di suatu hari ketika teman-temannya beramai-ramai ke pesta api unggun, Jill masih harus menjaga anak-anak di tempat baru, rumah seorang dokter yang terletak agak terpencil, tapi memang megah sekali.

Ketika malam menjelang, rumah yang sepi, dan ketiadaan pembantu rumah tangga yang entah kemana, serta anak-anak yang dijaganya yang sudah tertidur sejak sore membuatnya sedikit was-was. Ketika itulah dering telepon mengagetkannya, tapi orang di seberang telepon tidak bersuara sama sekali. Awalnya Jill hanya menganggap telepon tadi dari orang iseng. Kemudian dia menelepon temannya yang sedang di pesta api unggun dan merasa lebih baik. Sampai telepon aneh berikutnya masuk dan membuatnya was-was lagi.

Hello…

Nganjuk: Akad Nikah Seorang Teman

Hari Minggu tanggal 5 Desember kemarin, saya dan segerombolan teman saya, berangkat ke Nganjuk. Sebuah kota yang saya juga nggak tau dimana, dan nggak pernah ke sana sebelumnya. Tujuan perjalanan kali ini, adalah menghadiri akad nikah, sekaligus walimah, teman saya yang kemarin saya ceritakan. :-))

Jam lima pagi, lewat-lewat dikit, saya dijemput di depan pintu masuk stadion UB, yang mana dekat sekali dengan kosan saya. Saya beli permen dulu di warung kecil di sana, soalnya sadar diri kalau saya sering mabok darat. (haha) Apalagi dari infonya temen-temen, perjalanannya nanti itu sepertinya agak lama.

Pagi itu cuaca cerah dan udaranya juga sejuk. Mobil carteran pun berangkat bersama pak supir dan sepuluh orang cewek-cewek cerewet di dalamnya. Mulai dari ngeliatin pemandangan yang begitu sampai di Batu dan seterusnya jadi indah banget, ngobrolin segala hal, ngomentarin segala hal, makan jajanan yang dibawa.

Mobil melaju terus, dan saya lupa apakah setelah melewati daerah Pujon ataukah antara Payung dan Pujon, ketika kami sampai di sebuah jalan dengan jurang di salah satu sisi dan tanah yang terlihat sekali rawan longsor di sisi satunya. Serem juga, ngeliat bagian yang rawan longsor itu.

Sudah lama saya nggak melakukan perjalanan ke daerah gunung-gunung lagi seperti ini, dan bisa benar-benar melihat sekeliling. Beberapa tahun terakhir selalu naik pesawat kalau mudik ke Bandung, paling mentok naik bis dari bandara Soekarno Hatta ke Bandung. Dan sudah lama sekali, sejak saya ikut perjalanan keluarga ummi ke Tasik, ke Ciamis. Saya lebih sering mabok dulu itu, tapi sedikit-sedikit sempat menikmati pemandangan di sekeliling. :D Ketika perjalanan ke rumah keluarga bapak di Garut, juga selalu dipenuhi adegan saya mabok darat parah, karena Nagrek yang macetnya minta ampun dan udara yang panas, alhasil saya tepar-par. Bahkan pernah nyampe Garut dengan tekanan darah langsung drop, nggak kuat berdiri lagi sampai besoknya. (ninja)

katanya, sering mabok darat itu nggak bakat kaya, hehe…

Lovely Bones

lovely bones

Director

Peter Jackson

Starring

Saoirse Ronan, Mark Wahlberg, Rachel Weisz, Rose Mclver, Stanley Tucci, Michael Imperioli, Christian Thomas Ashdale, Reece Ritchie, Carolyn Dando

My name is Salmon, like the fish. First name: Susie. I was 14 years old, when I was murdered on December 6th 1973.

Susie Salmon (Saoirse Ronan) masih begitu muda, ketika kematian datang menjemputnya dengan cara yang sungguh tidak menyenangkan. Hari itu adalah hari ketika dia akhirnya bisa berbicara dengan laki-laki yang disukainya, Ray Singh (Reece Ritchie), dan mereka membuat janji untuk bertemu di hari lain.

Gadis bertopi wol itu lalu kembali ke rumah sepulang sekolah, melewati ladang jagung yang kosong di musim dingin, ketika seorang tetangga yang tak begitu dikenal memanggilnya. Laki-laki itu baru saja membangun sesuatu, dan bercerita betapa dia ingin menunjukkannya kepada orang lain, hingga kebetulan saja Susie lewat.

Laki-laki tua itu begitu memelas, ketika Susie menolak tawarannya dengan ragu. Hingga rasa kasihan hinggap, dan dia mengikuti laki-laki tua itu, turun ke konstruksi bangunan di bawah ladang jagung. Tempat yang nyaman, dengan sinar temaram dan dekorasi menyenangkan untuk anak seumurnya. Susie menyukai tempat itu, dan juga ide bahwa tempat itu dibuat untuk para anak-anak yang ingin kebebasan.

I was here for a moment, and then I was gone