Hari Minggu tanggal 5 Desember kemarin, saya dan segerombolan teman saya, berangkat ke Nganjuk. Sebuah kota yang saya juga nggak tau dimana, dan nggak pernah ke sana sebelumnya. Tujuan perjalanan kali ini, adalah menghadiri akad nikah, sekaligus walimah, teman saya yang kemarin saya ceritakan.
Jam lima pagi, lewat-lewat dikit, saya dijemput di depan pintu masuk stadion UB, yang mana dekat sekali dengan kosan saya. Saya beli permen dulu di warung kecil di sana, soalnya sadar diri kalau saya sering mabok darat.
Apalagi dari infonya temen-temen, perjalanannya nanti itu sepertinya agak lama.
Pagi itu cuaca cerah dan udaranya juga sejuk. Mobil carteran pun berangkat bersama pak supir dan sepuluh orang cewek-cewek cerewet di dalamnya. Mulai dari ngeliatin pemandangan yang begitu sampai di Batu dan seterusnya jadi indah banget, ngobrolin segala hal, ngomentarin segala hal, makan jajanan yang dibawa.
Mobil melaju terus, dan saya lupa apakah setelah melewati daerah Pujon ataukah antara Payung dan Pujon, ketika kami sampai di sebuah jalan dengan jurang di salah satu sisi dan tanah yang terlihat sekali rawan longsor di sisi satunya. Serem juga, ngeliat bagian yang rawan longsor itu.
Sudah lama saya nggak melakukan perjalanan ke daerah gunung-gunung lagi seperti ini, dan bisa benar-benar melihat sekeliling. Beberapa tahun terakhir selalu naik pesawat kalau mudik ke Bandung, paling mentok naik bis dari bandara Soekarno Hatta ke Bandung. Dan sudah lama sekali, sejak saya ikut perjalanan keluarga ummi ke Tasik, ke Ciamis. Saya lebih sering mabok dulu itu, tapi sedikit-sedikit sempat menikmati pemandangan di sekeliling.
Ketika perjalanan ke rumah keluarga bapak di Garut, juga selalu dipenuhi adegan saya mabok darat parah, karena Nagrek yang macetnya minta ampun dan udara yang panas, alhasil saya tepar-par. Bahkan pernah nyampe Garut dengan tekanan darah langsung drop, nggak kuat berdiri lagi sampai besoknya.
Jadi ketika kemarin, saya merasa baik-baik saja.
Sampai kemudian jalan mulai terlalu berliku-liku dan salah seorang teman di depan saya… muntah. Oops… ini bisa gawat, bisa jadi trigger dan nanti saya malah ikutan muntah. Kondisi perut ketika jalan mulai banyak belok-beloknya itu memang sudah menunjukkan tanda-tanda nggak enak. Maka saya memilih tidur sebentar, sampai jalanan kembali lurus lagi. Nggak taunya kebangunnya pas udah memasuki Nganjuk.
Perjalanan pergi bisa dibilang lancar sekali. Mungkin karena masih pagi dan belum terlalu banyak kendaraan di jalan, sehingga Malang-Nganjuk bisa ditempuh dalam waktu tiga jam saja. Prosesi akad nikah masih belum dimulai. Pengantin wanitanya masih dirias, dan kesibukan di dalam rumah, menyiapkan makanan, bingkisan dan lain-lainnya, segera menyambut kami.
Sekitar jam sembilan, berangkatlah keluarga mempelai dan semua undangan ke masjid di dekat rumah. Mempelai laki-laki datang terlebih dahulu, dan duduk ditemani teman-temannya di bagian depan. Undangan sudah mulai memenuhi lantai masjid ketika akhirnya sebuah mobil berhenti di depan, dan mempelai wanita turun.
Prosesi yang sakral itu pun dimulai. Walaupun sambutan-sambutan dan segala macamnya bertabur kata-kata berbahasa Jawa halus yang saya sama sekali tidak mengerti artinya. Tapi hati saya gerimis ketika prosesi sungkeman setelah akad nikah diucapkan sang mempelai laki-laki. Ayah teman saya itu menangis ketika putrinya mencium tangannya. Anak pertamanya, sekarang sudah menjadi tanggung jawab laki-laki lain.
Dan hati saya kembali gerimis ketika pembacaan surat At-Tahrim ayat 6 beseta artinya, salah satu mahar yang diminta teman saya. Hanya saja kali ini saya dan teman-teman sedikit cemas juga karena sepertinya pengantin laki-laki terlalu gugup sampai sempat berhenti di tengah ayat.
Selamat berbahagia, Mbak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Siang itu, seusai makan-makan di walimahannya dan tentu tak ketinggalan berfoto
—sampai meminta berfoto dengan pengantin perempuan saja dan pengantin laki-laki minggir sejenak, rombongan meninggalkan Nganjuk, bersama sekantung oleh-oleh dari keluarga teman saya.
Di perjalanan, kami singgah sebentar di masjid untuk solat Zuhur. Dan masjidnya lucu sekali.
Di bagian dalam masjid dibuat seolah-olah berada di dalam hutan. Tiang-tiang masjidnya dibentuk seperti batang pohon.
Sayang waktu turun itu, kamera saya tertinggal di dalam tas.
Memang ketika perjalanan pulang tidak selancar sebelumnya. Hujan mulai turun rintik-rintik ketika melewati Pare, dan semakin deras sesudahnya. Kondisi jalan tidak selengang pagi harinya sehingga memakan waktu yang agak lama. Tapi di sela-sela waktu ketika hujan tidak sedang turun dengan deras, dari balik jendela terlihat sungai berbatu yang mengalir di antara sawah-sawah. Indah.
Saya ingin bisa jalan-jalan lagi, ke tempat-tempat seperti ini, tanpa saya harus mabok darat.
Dan saya dah punya rencana buat motret sungai berbatu itu setiap mau pulang ke kediri tapi selalu gagal
yoancrayon´s last [type] ..The Network of Power
eh, dikau orang kediri??
hehehe iya bocah wates
yoancrayon´s last [type] ..Blob the Image
cieee ciee cieee…
ada yang kenalan
kamu kan padahal tinggal melipir bentar kalau pas pulang
kan kalo udah konsen nyetir kagak bisa berhenti hahaha
yoancrayon´s last [type] ..End of 2010
wuaaa..
prestigiousfhie´s last [type] ..jilbab- masihkah menjadi kontroversi
saya kapan yaa?
segera?
saya baru sekali lihat live akad nikah, datengnya pas di detik2 terakhir mau udahan…
dateng ke nikahannya cuma 30 menit doang, tapi perjalanannya pp udah 5 jam
Prib´s last [type] ..Hello world again!
wkwkwk, ga ikut resepsinya?
itu dari mana ke mana lima jam perjalanan?
tips biar ga mabuk darat :
- perut ga boleh kosong (makan dikit aja ga usah terlalu kenyang)
- jangan banyak2 minum
- kalo bisa tidur sepanjang perjalanan:D
TamaGO´s last [type] ..Antrian- dari tiket sampe ke hokben
ho’oh, setuju sama yang perut ga boleh kosong, itu malah bisa parah jadinya, tapi kalo tidur ga bisa liat-liat pemandangan di jalan
ahaa.. kalo soal perjalanan jauh untungnya saya paling jarang mabok. soalnya dah biasa tempuh banda aceh-medan lewat jalan darat 12 jam!
btw, keren yaa.. maharnya pake surat. hihi..
kantong plastik´s last [type] ..menemaniku
aceh-medan itu 12 jam? wuiihhh… belum pernah sih selama itu, maksimal 10 jam perjalanan darat, itupun karena macet
kita kapan, dinda???
ntar jadinya bandung – kediri dong ya?
kapan apanya? *buang ochin ke sungai berbatunya*
Seneng dengar ada teman-teman kita yg berbahagia, apalagi bisa menghadiri acara kebahagiaan itu. Perjalanannya seru juga ya. Saya juga dulu pernah menghadiri acara nikah teman di Nganjuk, tapi ga bisa menikmati jalan seperti yg mba ceritakan, soalnya dari Jogja kami berangkat malam hari.
Ok deh, salam kenal ya mba’ Blognya keren. Ditunggu kunjungan baliknya, heheh..
salam kenal juga
hihi, kalau malam menikmati lampu aja mas, atau pasnya sih menikmati alam mimpi ya