Dua hari yang lalu saya membuat ‘pengakuan dosa’ sebagai akibat percakapan absurd tengah malam lewat Y!M dengan salah seorang teman, dan katanya sukses membuat dia bengong selama setengah menit lalu terus kepikiran soal itu bahkan berjam-jam ke depan. Merutuki sendiri betapa bodohnya saya dan entah apalagi. Kasihan….
Wajar sih kalau dia kaget, soalnya saya memang nggak pernah cerita apa yang terjadi di pihak saya sewaktu kejadian berbulan-bulan yang lalu itu. Masalahnya, dari empat orang yang ketika itu sama-sama tahu kejadiannya dan punya hubungan dengan saya dan tiga orang yang terlibat di dalamnya, saya nggak bisa percaya sama beberapa orang. Satu orang yang itu, sudah bisa dipastikan kalau begitu saya cerita ke dia, seluruh dunia akan langsung tahu. Sedangkan satu orang lagi, mungkin dia masih bisa dipercaya untuk menutup mulut, tapi saya tahu kalau ketika dia sedang meledek orang lalu mengancam akan membocorkan rahasia dengan tujuan bercanda, dia lupa sama apa yang seharusnya nggak dia katakan.
Kepercayaan itu mahal. Sekali kamu merusaknya, butuh waktu lebih lama buat mendapatkannya kembali.
Bagi orang-orang yang kepercayaannya dirusak, mereka belajar dengan cara yang nggak enak. Dengan rahasia-rahasia yang tiba-tiba saja jadi rahasia umum. Tapi namanya juga proses belajar. Di lain waktu kita menjadi sedikit lebih pintar walau kadang-kadang masih suka tergelincir.
Saya yang sekarang, mungkin lebih terbuka daripada saya yang dulu. Belajar buat percaya sama orang, cerita hal-hal tertentu sama orang. Lewat berbagai kejadian enak dan nggak enak, lama-lama kita tahu mana yang benar-benar teman dan bisa dipercaya, mana yang nggak.
Di akhir cerita berbulan-bulan yang lalu tadi, saya cuma bisa percaya sama salah satu dari mereka. Dan saya masih ingat kata-katanya di dini hari ketika itu, sewaktu saya dan dia tahu bahwa semuanya sudah selesai.
daijoubu? nee?
Terima kasih. Terima kasih sudah ada buat saya saat itu.