Monthly Archives: May 2011

If Only

Apa yang akan kamu lakukan, seandainya kamu tahu bahwa orang terdekat kamu yang sangat sangat kamu sayang akan mati dalam waktu dekat? Dan kamu tahu persis, bagaimana dan kapan dia akan mati?

Seorang kawan tiba-tiba saja menanyakan pertanyaan ini di grup komunitas di facebook. Saya tidak menjawab, soalnya taunya baru setelah agak lama. Basi dong kalau saya tanggepin lagi. (haha) Anyway…. Ada yang menjawab bahwa dia akan menggunakan waktu itu untuk tidur, membiarkan alam bawah sadar bekerja (yang saya juga nggak tau maksudnya apa ini). (haha) Mungkin karena nggak tau mau jawab apa.

Coba ya, kalau kita kasih tau ke orang kapan dan gimana dia bakal mati, yang ada antara kita dianggap gila atau kalau misalnya dia percaya, dia bakal syok, takut, dan segala macam perasaan nggak ngenakin. Yang kita kasih tau soalnya bukan prediksi lagi, tapi apa yang kita tahu. Bukan prediksi dokter kayak kalau orang sakit terus dibilang waktunya tinggal berapa bulan lagi gitu, kayak Jaejoong di video clip-nya Ayumi Hamasaki yang Blossom. Err… tadinya mau ngasih link video-nya, tapi ga bisa nemu lagi, cari sendiri deh kalau mau liat. (okok)

Lalu kalau kita akhirnya memilih untuk nggak ngasih tau ke orang tersebut? Apa yang akan kita lakukan?

if only poster

Ian Wyndham (Paul Nicholls) memilih untuk tidak pernah memberitahukannya, dan memanfaatkan sisa waktu yang dia tahu masih ada itu, buat memberikan yang terbaik, sesuatu yang dia nggak pernah lakukan sebelumnya buat Samantha Andrews (Jennifer Love Hewitt), dan kalau bisa menghindarkannya dari kematian.

Ada satu komentar di postingan pertanyaan teman saya tadi yang jawabannya hampir sama. Memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya dengan orang itu.

Ah, curiga itu teman yang nanya abis nonton If Only juga. (haha)

Dua Kata Itu

Di suatu fase dalam hidup kita, pasti akan ada saatnya ketika disengaja atau tidak, kita menyakiti orang lain. Mungkin saja dia sekedar orang yang tidak terlalu kita kenal tapi sempat bersinggungan dengan kita. Sialnya ketemu pas kita lagi bete terus kena semprotan kekesalan atau kecipratan kejutekan, atau mungkin nggak cocok dengan mulut kita yang suka cablak kalau becandaan. Kasus yang disebutkan terakhir, kata ganti orang pertama jamaknya boleh diganti dengan kata ganti orang pertama tunggal. (okok) Tapi yang lebih mungkin untuk kita sakiti justru adalah orang-orang yang dekat dengan kita.

Misalnya saja antara saya, teman, adek, dan buku. Seandainya teman saya minjem buku saya terus kelipet, basah, kucel…. Saya pasti kesal, jelas. Cuma saya lebih bisa nahan dibandingkan ketika adek saya yang bikin buku itu kucel. Kalau adek saya… mungkin saya ngomelnya nggak berhenti-berhenti…. (pouty) Yah, gambarannya begitu.

Atau seperti teman saya dan pacarnya, dan temannya si pacar (jangan bingung). (okok) Teman saya itu sering mengeluh bahwa pacarnya lebih mementingkan teman-temannya dibandingkan dia. Kalau untuk nunggu temannya, si pacar nggak mengomel, nggak menunjukkan kekesalannya. Tapi kalau untuk nunggu dia, telat dikit udah marah-marah. Kalau ke temannya, si pacar lebih considerate kalau memang temannya itu nggak bisa ngelakuin kemauannya. Tapi nggak ke pacarnya sendiri. Antara yang terjadi sama seperti cerita saya dan adek saya, atau mereka memang sudah di ambang kau-tahu-apa.

Padahal siapa sih orang yang dengan sadar punya maksud jahat untuk menyakiti mereka yang dekat dengannya? Tokoh-tokoh jahat di film-film aja nggak melakukan itu. Shishio misalnya, membunuh Yumi karena dia tahu Yumi akan bahagia karena pada akhirnya bisa membantu pertarungan Shishio. And yes, no matter how crazy she may seem, she  was indeed happy. Ah, saya melantur kan kan kan, efek rewatching Rurouni Kenshin. Mari kita kembali ke jalan yang benar.

jalan yang benar-benar salah… *eh*

Random Thoughts

Saya bosan makan nasi. Saya bosan makan mie. Dan saya lebih bosan lagi cuma makan cemilan untuk mengganjal perut.  Mau tidak mau akhirnya saya terpaksa keluar, setelah mengenyahkan semua kemalasan, mencari penjual entah apa yang kira-kira sedang tidak bosan saya makan. Jualannya maksudnya, bukan penjualnya yang saya makan. (okok) Lagipula air di galon sudah menipis sementara botol air mineral ukuran besar yang saya beli sehari sebelumnya juga sudah habis. Dan malam ini saatnya mengambil jahitan yang sudah seminggu saya tinggalkan di tukang jahit, walaupun si tukang jahit sudah bilang kalau dia hanya perlu waktu dua hari untuk menyelesaikan baju-baju yang saya taruh di sana.

Dingin. Sepanas apapun Malang di siang hari, biasanya udara akan mendingin begitu malam turun.

Ketika saya sampai di tukang jahit, ibu-ibu tukang jahitnya rupanya sampai melupakan dimana menaruh salah satu rok saya karena saya tidak muncul mengambilnya sampai seminggu kemudian. Jadi setelah mencari-cari di dalam rak, di atas tumpukan kain di atas mesin jahit, sambil berulang kali berkata, “aduh, dimana sih, aku inget kok rok itu,” rupanya rok saya terjatuh ke kolong mesin yang berdebu. (haha) Ah, sudahlah, memang sudah waktunya rok yang satu itu dicuci.

Selesai dari sana, tujuan berikutnya jadi random, karena sebenarnya saya tidak tahu apa yang mau dibeli selain air mineral ukuran besar. Akhirnya tidak jauh-jauh, saya berakhir di depan tukang sate di depan TK, di depan toko kelontong yang menjual air mineral. Nggak, cerita ini nggak akan berakhir dengan cerita horor saya berubah jadi sundel bolong dan bilang, “Bang, satenya seratus tusuk, Bang”. Lagipula yang jual sate nggak bisa dipanggil “Bang” soalnya perempuan.

Kali ini saya pergi tanpa membawa hp untuk menyibukkan saya sementara menunggu tukang sate yang sibuk mengipasi sate yang terbakar pelan-pelan. Jadi saya cuma duduk di sana, memandangi orang lalu lalang, deru motor, dan kesibukan di sekitar saya. Daerah ini masih lumayan ramai sehabis Maghrib, tidak sesunyi jika saya sedang keluar pukul delapan ke atas untuk mencari makan. Dan tentu saja tidak sesunyi pukul delapan ke atas di akhir Minggu ditambah bonus hujan rintik-rintik. Tapi pikiran saya melayang ke percakapan dengan sahabat saya malam sebelumnya lewat baris-baris teks singkat di hp kami masing-masing.

Hey, this is one of the time we talked about last night. But something you said to me , about what your friend said, it really slapped me hard anyway. Deep down we know she’s so damn right. We’re grown up enough already to choose what’s wrong and what’s right. But still…. Right, darl?

Dan sesuatu yang saya lupakan setelah waktu berlalu sekian lama tiba-tiba merayap kembali ke dalam pikiran saya, seperti cicak yang saya benci yang merayap di balik lemari di kamar kosan saya. Hari ketika saya mengirim baris-baris teks kepanikan kepada sahabat saya yang lain lagi karena seseorang yang tiba-tiba muncul.

Mungkin karena tidak biasanya malam lalu namanya muncul di daftar Y!M saya….

Test Pack

Dan di sinilah saya, sepulang Monev PKM yang rasanya membuat saya nggak bertulang lagi. Dari detik acara berakhir sudah pengen cepet-cepet sampai di kosan buat leyeh-leyeh, tapi harus mampir ke minimarket buat beli-beli macem-macem, dan setelah sampai kosan pun malah beres-beres kamar yang acak adut bekas-bekas keributan persiapan. Habisnya saya nggak bisa istirahat dengan tenang kalau kamarnya berantakan. (pouty)

Jadi, sampai mana tadi saya bilang? Oh, iya, jadi di sinilah saya, dengan muka belepotan masker yang luntur akibat malah nangis baca novel.

test pack

I love you… because I want to.

Halah, padahal niatnya mau nyantai maskeran sambil baca setelah beberapa hari hidup nggak tenang gara-gara PKM. (rofl)

Aku Benci Kamu!

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Sidang himpunan yang batal malah membuat separuh dari kami memutuskan untuk duduk-duduk di pelataran parkir, bercanda dari A sampai Z tentang entah apa. Lalu seorang teman yang tidak sampai tiga jam sebelumnya datang ke kosan saya dan berkata dia tidak akan datang sidang tiba-tiba saja kami dapati sudah turun dari motornya, dan langsung berjalan menghampiri, sambil dengan dramatis melepas kacamatanya dan menggunakannya untuk menunjuk saya.

Aku benci kamu!

Kata-kata pertama yang terlontar, dan sukses membuat saya ternganga sekaligus menahan tawa. Ya, saya tahu persis sebabnya mengapa tahu-tahu orang ini berkata seperti itu. Tapi saya tidak tahu mengapa sebab dari tingkahnya ini pengaruhnya bisa begitu besar sampai dia berkata:

Satu. Aku benci kamu!

Dua. Aku berharap nggak ketemu kamu magrib tadi!

Tiga. Aku berharap aku kuliah di FISIP aja biar ga usah kenal kamu!

ada yang ngambek…