Monthly Archives: August 2011

Pro-Kontra Kalau Keluarga Besar Ngumpul

Setelah beberapa hari di rumah nenek saya habiskan sendirian saja —yang tentunya kegiatan saya tidak jauh-jauh dari kamar, kasur, kamar mandi, dan laptop— akhirnya rumah mulai dipenuhi tuyul-tuyul. Sanak saudara ibu yang jumlahnya tujuh orang itu mulai berdatangan satu demi satu dari berbagai penjuru, bersama anak-anaknya yang dengan kata lain adalah sepupu-sepupu saya. Kebanyakan sih masih usia SD sampai balita, usia yang menurut orang ini adalah usia seseorang bisa dipanggil tuyul.  (haha) Kurang satu orang sebenarnya, yang tidak bisa ikut berkumpul karena memang tinggalnya lumayan jauh sehingga beliau dan keluarga tidak bisa sering-sering pulang.

Ritme kegiatan harian mau nggak mau berubah juga dengan kedatangan mereka. Bisa-bisa saya dicereweti kalau mengurung diri seharian di kamar demi internetan dan main game. (okok) Ada keuntungan dan kekurangannya jelas…. (okok)

Pros:

  1. Rumah nggak lagi sepi kayak kuburan. Di rumah yang sebenernya muat buat sembilan bersaudara ibu saya kayak gini kalau isinya cuma kakek nenek sama saya aja kan kebayang gimana sepinya tuh. Kadang enak sih, tapi bete juga.
  2. Nenek jadi punya lebih banyak orang untuk dicereweti selain saya.
  3. Lebih banyak orang = lebih banyak makanan.
  4. Lebih banyak saudara yang datang = lebih banyak pemasukan. (ninja)
  5. Tuyul-tuyul itu kalau lagi anteng lucu loh!

Cons:

  1. Uwak laki-laki dan/atau sepupu-sepupu cowok akan menjajah televisi selama pertandingan bola masih disiarkan di dunia ini.
  2. Sepupu-sepupu usia SD sampai balita akan menjajah televisi selama Shawn the Sheep, Barney, dan makhluk lain yang satu spesies dengannya masih ada di dunia ini.
  3. Bersiaplah untuk celetukan-celetukan dan pertanyaan seputar kuliah, pacar, dan hal-hal semacam itu.
  4. Bencana akan dimulai kalau tuyul-tuyul tadi mulai rewel atau mengikuti kemana-mana, bercerita tanpa henti, dan selalu pengen tau apa yang kita kerjakan.
  5. Nggak bisa galau. *plaaaaaak*

 

18 Hours

Mepet. Selalu seperti itu. Kebiasaan buruk yang harus segera dihilangkan sebenarnya.

Kali ini mepetnya lumayan berbahaya karena bisa berakibat saya nggak bisa pulang karena ketinggalan kereta jurusan Malang-Bandung. Lima menit sebelum kereta berangkat saya sampai di stasiun dengan terburu-buru akibat beli oleh-oleh di saat terakhir ditambah ketidakberuntungan dengan pintu depan kosan, yang memilih saat itu untuk berulah dan tidak bisa dibuka kuncinya. Jadi, akhirnya saya pun berjalan ke arah gerbong-gerbong depan sampai kemudian disuruh naik lewat gerbong makan saja sama petugasnya sewaktu saya bertanya mana gerbong saya. Koper yang isinya nggak jelas itu pun juga dibawain sama si petugas. Hehehe, ada enaknya juga telat. *plaaaaaaak* (haha)

And then the journey begin…. 18 jam yang diisi dengan tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun, dengerin musik, galau, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun lagi, dan seterusnya. Seriously, apa sih yang bisa dilakukan selama perjalanan itu? I’m not in the mood to read the books I’ve brought along with me anyway.

Kereta kali ini lumayan sepi. Banyak kursi-kursi yang masih kosong. Penumpang di sebelah saya baru naik dari stasiun Kertosono, sekitar lima jam dari stasiun Malang. Itu pun si bapak kemudian memilih duduk di kursi lain yang kosong agar bisa tidur dengan nyaman dan berarti membiarkan saya tidur dengan nyaman pula di kursi saya.

Sering kan ya, mendapati cerita tentang orang-orang yang menggunakan perjalanan panjang untuk menggalau dan melupakan sesuatu? Seperti Raditya Dika di salah satu cerita di Cinta Brontosaurus, ketika dia melakukan perjalan panjang berbekal music player dan sederet lagu untuk melupakan Kebo. Saya sih nggak. Nggak lupa maksudnya. Galaunya sih iya…. Krik…. (ninja)

Customer Service, Available from 8:00 – 16:00

Jadi mahasiswa PKL itu… seperti buka Customer Service sepanjang jam kantor yang melayani semua keluhan pelanggan. Pas sekali dengan katanya Om Tama sih, yang pernah bilang kalau mahasiswa PKL harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. (taser)

Nah, ceritanya sekarang saya lagi PKL di sebuah perusahaan di Surabaya, bareng salah seorang teman. Di kantor ini, ada seorang ibu-ibu yang sudah lumayan tua. Ibu yang akhir tahun nanti sudah mau pensiun ini duduk di sebuah kubikel di arah jam 2 dari meja saya, dan ibu ini… rupanya sejak hari pertama mendengar bahwa kami mahasiswa PKL dari Informatika sudah menganggap kami bisa segalanya yang berhubungan dengan komputer, seperti juga beberapa orang lainnya yang ada di divisi di mana saya ditempatkan.

Interaksi kedua setelah perkenalan dengan si ibu, adalah waktu beliau bertanya caranya memperbaiki dan mengedit foto, karena beliau katanya suka foto dan berencana buka studio foto setelah pensiun nanti. Beliau menunjukkan hasil scan foto jadul yang burem dan sudah mulai pudar dengan banyak bercak putih, dan minta ditunjukin caranya membuat foto itu jadi bagus dan mulus, pake Photoscpae.

Saya nggak pernah pake Photoscape. Tapi rasanya Photoscape nggak bisa memperbaiki foto hasil scan yang pudar dan bebercak putih itu supaya bisa jadi mulus. Sebatas crop, memperbaiki warna, leveling, mungkin bisa, sejauh yang saya lihat waktu akhirnya ngubek-ngubek software-nya di komputer si ibu. Lalu saya menyarankan Photoshop ke si ibu, yang merupakan sebuah kesalahan besar.

Salah…. Soalnya setelah itu ibunya jadi minta software-nya ke saya, yang mana saya nggak bawa ke Surabaya, lalu karena nggak ada akhirnya minta donlotin, yang mana nggak bisa lagi karena situs donlotnya diblokir dari koneksi internet ibunya. Akhirnya si ibu pasrah dan nanti mau nyari di mana gitu, tapi terus di akhir kalimatnya, beliau meminta saya dan teman saya ngajarin Photoshop, cara ngedit foto, gimana caranya bikin ini dan bikin itu. Lalu akhirnya teman saya yang kesel menyarankan beliau untuk nyari tutorial atau beli buku tentang Photoshop yang banyak dijual di toko buku.

Itu baru awal…. (pouty)

iya, begitu itu baru awal…

From Prada to Nada

from prada to nada poster

Sesungguhnya saya lagi malas nonton drama yang panjang-panjang ataupun film yang ceritanya berat. Jadi mari kita refreshing dengan cerita ringan ini. Ada mbak-mbak cantik Camilla Belle yang pernah main di When a Stranger Calls, lho. (blush) *malah fanboying*

camilla belle

Judulnya ngingetin sama The Devil Wears Prada-nya Anna Hathaway. Eh, bener ga sih yang main Anna Hathaway? Iya, pokoknya itu, rasanya sih bener. *plaaak* Bercerita tentang dua anak perempuan dari pengusaha keturunan Meksiko yang ayahnya meninggal tiba-tiba, meninggalkan hutang yang menyebabkan mereka nggak punya apa-apa lagi dan kedatangan kakak laki-laki yang mereka nggak pernah tau ada bersama istrinya yang buat saya auranya rada-rada mirip Cruella de Vil. Makanya judulnya “From Prada to Nada”, karena “nada” dalam bahasa Spanyol artinya “nothing“. :D

49 Days (49일)

49 days 2

The human heart is fickle. There’s no such thing as permanence. Love, then hate. Hot, then cold. Upset, then grateful. Full of resentment, then understanding. And so on and so forth. Ultimately, tears are this.

Ketika suatu hari kamu meninggal, dan diberi kesempatan selama 49 hari untuk mendapatkan hidupmu kembali, lalu menemukan bahwa segalanya ternyata tak seperti yang terlihat selama ini, apa yang akan kamu lakukan? 49 hari, waktu yang diberikan untuk mencari orang-orang yang benar-benar mencintaimu, dan menangis karenamu. 49 hari, jika kamu berhasil maka kamu akan diberi kesempatan hidup sekali lagi. Tapi tunanganmu ternyata mengkhianatimu, sahabatmu membencimu, dan temanmu membicarakan kejelekanmu di belakang.

49 days 1

Did you live your life right? Berapa orang yang akan menangis, benar-benar menangis karena kehilangan orang yang berharga, ketika kamu pergi?