Setelah beberapa hari di rumah nenek saya habiskan sendirian saja —yang tentunya kegiatan saya tidak jauh-jauh dari kamar, kasur, kamar mandi, dan laptop— akhirnya rumah mulai dipenuhi tuyul-tuyul. Sanak saudara ibu yang jumlahnya tujuh orang itu mulai berdatangan satu demi satu dari berbagai penjuru, bersama anak-anaknya yang dengan kata lain adalah sepupu-sepupu saya. Kebanyakan sih masih usia SD sampai balita, usia yang menurut orang ini adalah usia seseorang bisa dipanggil tuyul.
Kurang satu orang sebenarnya, yang tidak bisa ikut berkumpul karena memang tinggalnya lumayan jauh sehingga beliau dan keluarga tidak bisa sering-sering pulang.
Ritme kegiatan harian mau nggak mau berubah juga dengan kedatangan mereka. Bisa-bisa saya dicereweti kalau mengurung diri seharian di kamar demi internetan dan main game.
Ada keuntungan dan kekurangannya jelas….
Pros:
- Rumah nggak lagi sepi kayak kuburan. Di rumah yang sebenernya muat buat sembilan bersaudara ibu saya kayak gini kalau isinya cuma kakek nenek sama saya aja kan kebayang gimana sepinya tuh. Kadang enak sih, tapi bete juga.
- Nenek jadi punya lebih banyak orang untuk dicereweti selain saya.
- Lebih banyak orang = lebih banyak makanan.
- Lebih banyak saudara yang datang = lebih banyak pemasukan.
- Tuyul-tuyul itu kalau lagi anteng lucu loh!
Cons:
- Uwak laki-laki dan/atau sepupu-sepupu cowok akan menjajah televisi selama pertandingan bola masih disiarkan di dunia ini.
- Sepupu-sepupu usia SD sampai balita akan menjajah televisi selama Shawn the Sheep, Barney, dan makhluk lain yang satu spesies dengannya masih ada di dunia ini.
- Bersiaplah untuk celetukan-celetukan dan pertanyaan seputar kuliah, pacar, dan hal-hal semacam itu.
- Bencana akan dimulai kalau tuyul-tuyul tadi mulai rewel atau mengikuti kemana-mana, bercerita tanpa henti, dan selalu pengen tau apa yang kita kerjakan.
- Nggak bisa galau. *plaaaaaak*



*malah fanboying*

