Monthly Archives: September 2011

Maldives I’m in Love

Jun: (ngasi link Visit Maldives via Y!M karena lagi mupeng ke sana)

Saya: Maldives free visa on arrival ya? *lah terus, emang siapa yang mau ke sana?*

Jun: Makanya buruan kawin, terus hanimun ke Maldives mumpung free.

Percakapan via Y!M yang langsung membuat saya berekspresi “apaaaaan??” (rofl)

Dasar mahasiswa semester tujuh, bawaannya ngomongin beginian terus. Nggak di kelas, nggak di himpunan, nggak di sms, nggak di socnet. (rofl) Malah akhir-akhir ini ada tren kepanjangan baru untuk singkatan STMJ yang biasanya Semester Tujuh Masih Jomblo. Di angkatan saya kepanjangannya jadi beda, jadi Semester Tujuh Mendapat Jodoh. (rofl) Lalu setelah itu bisa dilanjutkan dengan SDM (Semester Delapan Menikah) dan SSM (Semester Sembilan Melahirkan). (rofl)

Ada satu orang yang ekstrim lagi ketika lagi bercanda nggak jelas di himpunan. Katanya STMJ itu kepanjangannya adalah Semester Tujuh Mendapat Janin. (rofl) Rupanya dia dua langkah lebih maju pemikirannya daripada yang lain. (rofl)

Makanan Makanan Makanan

Selain tragedi terkunci rupanya Minggu saya tak begitu buruk. Dia mengganti sepuluh menit kepanikan saya di atas dengan hal-hal menyenangkan lainnya. :D

Contohnya saja si penghuni kamar sebelah yang tadi membuat saya terkunci di loteng. Pulang-pulang begitu saya beritahu kalau tadi saya terkunci gara-gara dia, orangnya langsung minta maaf dan ngasih saya brownis blueberry-nya Amanda.

brownis blueberry

aslinya sekotak es krim, udah saya makan separo =9

Lalu sekitar jam dua, adek kelas saya sewaktu SMA yang kuliah di Malang juga datang membawakan Cream Soup dan Makaroni Tumis Daging. Padahal itu cuma gara-gara becandaan di status fesbuk, tapi dibawain beneran dan malah ngobrol soal jalan-jalan. :D

makaroni

makaroi tumis daging dan cream soupnya =9

Alhasil rencana keluar sore-sore buat nyari makan malam batal, kekekeke…. (haha)

Hampir Sepuluh Menit

Padahal nggak sampai tiga menit yang lalu kamu mengambil semua jemuranmu sambil mengobrol sama saya, lalu kemudian pamit duluan turun ke lantai satu. Tapi dalam jangka waktu itu kayaknya kamu sudah melupakan bahwa ada satu orang yang lagi sibuk jemur baju di atas, dan mengunci pintu loteng dengan teganya.

Untung saja biarpun kebanyakan penghuni kosan sedang pulang kampung masih ada dua orang yang tersisa di lantai dua, jadi teriakan dan gedoran saya yang minta tolong dibukakan tidak sia-sia belaka, dan hari Minggu saya juga tidak ikut jadi sia-sia belaka. Setelah hampir sepuluh menit tentunya.

Ah, kamu tidak tahu ya kalau saya tadi bingung memikirkan jalan keluar dari loteng itu? Mau loncat-loncat kanan kiri isinya loteng orang semua. Saya juga nggak pake kerudung kalau memang saya berani loncat-loncat atap sampai menemukan balkon rumah orang. Mau menghubungi orang saya nggak bawa hp. Kan namanya juga mau jemur baju, ngapain saya bawa hp segala? Hampir saja saya berniat untuk mendobrak pintu seng itu kalau tidak kunjung ada juga orang yang membukakan dalam waktu dekat. Kan masa saya harus menunggu ada orang yang perlu ke loteng yang mungkin entah kapan baru datang?

Ah, kayaknya kamu nggak tau. Soalnya ketika saya sudah berhasil keluar saya lihat kamu sudah pergi lagi entah kemana, sepertinya tanpa beban sekali. Saya anggap saja kamu lupa ya kali ini. Tapi lain kali saya nggak akan lupa kalau-kalau kita bareng-bareng lagi berurusan di loteng, dan mengecek pintu kalau kamu turun duluan.

Kue-kue Itu

Malam itu, ketika menginap di kos-kosan teman demi nginstall Oracle bergiga-giga yang menghabiskan space hardisk saya sehingga isinya harus ditransmigrasi bedol desakan ke hardisk si teman, salah seorang adek kosannya tiba-tiba datang membawa kue-kue. Kue-kue syukuran karena dia baru saja dilamar oleh pacarnya. Lalu teman saya dan adek kosannya dan penghuni-penghuni kosan yang ada pun terlibat pembicaraan seru di kamar sebelah.

Pelan-pelan, saya dan teman yang lain menutup pintu kamar agar suara dari kamar sebelah tidak merembes masuk. Merembes masuk lewat pintu yang terbuka, ke dalam telinga, ke dalam hati, dan bikin kotor, bikin galau. Saya benci diri saya sendiri karena bisa berpikiran seperti itu. Saya tahu itu berita bahagia, tapi buat kami berdua yang sedang patah hati, biarpun ingin ikut bahagia juga tetap saja ada semacam perasaan… nyesek.

WACOM Cintiq

Semester ini saya mengambil mata kuliah Animasi dan Multimedia, dengan mengorbankan satu mata kuliah pilihan yang banyak diambil oleh teman-teman satu paket yang lain. Tapi saya pengen sekali sih ngambil mata kuliah ini. :D

Nah, di pertemuan kedua, dosen yang bersangkutan tidak bisa datang karena ada keperluan, jadilah mahasiswa-mahasiswanya ditugaskan untuk membuat gambar di Lab Sistem Informasi. Bikin gambar sih biasa, tapi yang bikin saya lumayan kaget adalah karena disuruh bikin gambar pake Wacom. (bigeyes) Terlebih lagi, karena Wacom yang digunakan bukan Wacom biasa semacam ini misalnya:

wacom bamboo

Wacom Bamboo

melainkan Wacom Cintiq yang seperti ini:

wacom cintiq

Wacom Cintiq

Tadi sih abis gugling harganya dikonversi ke rupiah sekitar puluhan juta. Hee… beneran segitu, yak? Ngiler banget saya liatnya soalnya. (haha)

Nggak ada seorang pun yang ngira kalau Wacom yang dipake yang Cintiq. Awalnya pada ngira Wacom Bamboo gitu terus masing-masing bisa pegang satu di Lab buat bikin gambar. Eh, nggak taunya dapetnya Cintiq. (love) Tapi karena harganya yang mahal itu juga, di Lab pun cuma ada satu barangnya sehingga kami harus gantian. Untunglah peserta kelas ini nggak terlalu banyak, cuma sembilan orang, ditambah lagi tiga orang sisanya belum pernah masuk pertemuan sama sekali.

saya dan wacom cintiq

saya lagi ngerjain tugas tadi xD

Hasil gambar pertama saya pake benda ini bisa diliat di DA abal-abal saya. (ninja)