Monthly Archives: October 2011

Animorphs

animorphs

and we ran, ran, ran up those stairs with a hundred nightmares on our heels

Adakah di antara kalian yang tahu Animorphs? Serial karangan K. A. Applegate ini mulai terbit sekitar tahun 1990-an di tempat asalnya, entah kalau di Indonesia. Dulu, ketika masih masa-masanya saya hobi mengoleksi serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Pasukan Mau Tahu, Animorphs rasanya sudah bertengger dengan manisnya di sebelah serial-serial Goosebumps. Hanya saja waktu itu kurang tertarik karena nomor serialnya loncat-loncat dan tidak jelas buku yang mana urutan keberapa.

Akhirnya saya pertama kali membaca Animorphs sewaktu di SMA, hasil meminjam dari teman, yang kakaknya punya beberapa seri. Lalu ketagihan…. (blush) Sayangnya toko buku sudah sangat jarang sekali menjual Animorphs dan kalaupun memang ada selalu saja tidak pernah lengkap serinya. Kalau sekarang apalagi, saya rasanya hampir tidak pernah melihat buku ini sama sekali. Paling-paling hanya bisa ditemukan kalau ada bazaar buku. Itupun di stan yang menjual buku-buku bekas yang untuk mencarinya juga harus membongkar satu lemari kayu berisi buku-buku dengan halaman menguning.

Untunglah sekarang sudah ada internet. Alhamdulillah yah…. (worship) #syahrinistyle

Setelah terdampar ke sana kemari dalam pencarian —sampai daftar di forum-forum Animorphs yang katanya menyediakan e-book-nya tapi ketika sudah daftar dan mau download ternyata sudah dihapus karena si empunya forum diberi peringatan dari Scholastic, penerbit aslinya— akhirnya ketemu juga. Dan saya baru tahu kalau ternyata buku ini sampai 54 seri. (bigeyes) Nggak hanya itu, ternyata ada juga seri-seri tambahan seperti  Megamorphs, Alternamorphs, sampai Hork-Bajir, salah satu makhluk ruang angkasa yang tubuhnya seperti pedang-pedang digabung menjadi satu tapi bisa jalan… dan hidup…. (pouty)

Baru beberapa menit yang lalu saya selesai membaca buku pertamanya. Buku yang justru sama sekali nggak pernah saya baca selama saya membaca Animorphs dengan urutan yang entah kemana. Dan saya juga jadinya baru tahu, kalau yang memberi para Animorphs itu kekuatan berubah bentuk bukannya Ax, tapi Pangeran Elfangor. (haha)

I Am Number Four

i am number four

Three are dead. I am number four.

Buku pertama dari enam seri The Lorien Legacies. Setelah bertahun-tahun penantian terbitnya Harry Potter berakhir dengan munculnya buku ketujuh, sepertinya kali ini saya bakal ngikutin serial The Lorien Legacies. Sampai saat ini udah ada dua buku, tapi yang terbit di Indonesia baru yang seri pertama. Mari menunggu The Power of Six. :D

*yang udah ngincer judul lain padahal seri Percy Jackson dan Kisah Klan Otori  masing-masing masih kurang dua lagi*

Seharusnya

Seharusnya saya nggak datang. Seharusnya saya menuruti saja keinginan teman saya yang memilih galau sendiri di kosan daripada ikut mereka. Saya tidak bilang semua yang terjadi waktu itu tidak menyenangkan. Bukan. Hanya saja ada beberapa hal yang kalau bisa pengen saya hapus dari memori malam itu. Tapi seharusnya cuma tinggal seharusnya.

Saya tahu, kita kenal baik. Saya juga tahu, bahwa sebenarnya saya nggak masalah dengan semua ejekan dan candaan itu. Toh saya pun membalasnya ketika bisa. Toh itu pertanda kita cukup dekat untuk saling mengejek satu sama lain. Toh itu semua biasanya dilakukan di hadapan orang-orang dekat juga.

Tapi nggak semua hal bisa disamaratakan dengan apologi seperti itu. Kamu seharusnya tahu….

Katakan saya berlebihan, tapi siapa yang tidak jengkel ketika di depan orang-orang yang tidak begitu saya kenal baik, urusan pribadi saya dibawa-bawa? Apa saya tidak boleh merasa terganggu? Nggak perlulah mereka semua tahu soal dia. Dan lebih nggak perlu lagi kalau soal siapa dia buat saya dijadikan konsumsi publik. Iya, termasuk kekasihmu juga. Saya dengar loh, bisik-bisikmu waktu itu. Lupa kalau saya duduk tepat di sampingmu? Apa karena dia kekasihmu lalu dia berhak tahu apa yang kamu tahu? Ini tentang saya, bukan tentang kamu.

Kamu tahu hal itu saja sudah sebuah kesalahan. Saya tahu dari awal, bahwa begitu cerita ini sampai ke telingamu, cepat atau lambat akan ada orang-orang yang tidak penting yang akan tahu juga. Saya cuma belum tahu kalau di depan orang-orang itulah kamu akan membeberkan semuanya tanpa sungkan dan rasa bersalah sama sekali.

Seharusnya dari awal kamu nggak boleh tahu. Tapi seharusnya cuma tinggal seharusnya.

Tobat

Sudah saatnya mengembalikan helm parkiran teknik yang sudah hampir satu semester ada di kosan saya. (pouty)

helm

helm parkiran teknik (kiri) dan helm yang akhirnya dibeli (kanan)

*yang akhirnya beli helm juga*

Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief

Ada satu hal yang mau saya bilang sejak pertama liat film ini….

YANG JADI PERCY JACKSON GANTENG SANGAT!

Pakai bold dan dimiringin terus di garis bawah, pertanda pentingnya tingkat tiga….*disepakin*

percy jackson

Percy Jackson

Ya Tuhan, makan apa anak orang jadi ganteng begitu…. (haha) Ceweknya seperti kata Amri, cantik banget juga, tapi karena saya cewek jadi wajar dong kalau hebohnya lihat yang ganteng. (haha)

Waktu awal nonton, dari daftar pemain yang ada di scene opening-nya lumayan banyak yang saya kenal. Padahal saya jarang-jarang hafal nama aktor dan aktris yang main, cuma tau mukanya dan main di film apa. Ada Pierce Brosnan, Uma Thurman, sampai Melina Kanakaredes yang main di CSI: New York itu. Bahkan sutradaranya ternyata adalah Chris Columbus.

Film ini diangkat dari buku berjudul sama, yang mana saya tahu cerita ini juga awalnya dari bukunya. Koleksi saya baru sampai jilid tiga, dan kalau ada yang mau beliin jilid empat dan limanya sumpah saya nggak nolak. :D Di antara keraguan menonton karena biasanya memang film nggak bisa memenuhi ekspektasi imajinasi saya dari membaca sebuah buku seperti yang terjadi sama seri Harry Potter, temen saya juga bilang kalau filmnya jelek. Tapi ternyata itu karena dia nggak suka konsep ceritanya yang semacam parodi dewa dewi Olympia, sementara saya kan suka bukunya. :D Jadi akhirnya nonton juga ketika koneksi internet yang katanya pintar ini ternyata tidak begitu pintar sehingga membuat saya mati gaya.

Yah, sepertinya saya akan terus lebih mencintai buku darimana sebuah film diangkat dibandingkan filmnya. Kalau untuk urusan setting film biasanya saya tidak protes dan senang-senang saja melihat apa yang selama ini saya imajinasikan bisa jadi nyata seperti itu. Tapi kalau untuk urusan plot, mungkin karena durasi yang terbatas juga, nggak semua yang ada di buku bisa diangkat ke dalam film dan jadinya ada beberapa hal yang harus diubah sehingga cerita tetap bisa dimengerti sama mereka yang nggak baca bukunya.

percy jackson

Annabeth

Begitu pula dengan Percy Jackson ini. Kalau di film, kita dan orang-orang di dalam cerita itu sudah tahu bahwa Percy adalah anak dari Poseidon, sementara di buku, hal itu baru diketahui setelah Percy ada di Camp Half Blood dan terluka dalam pertandingan perebutan bendera lalu tercebur ke sungai. Saat itulah tiba-tiba saja pendar cahaya berbentuk trisula Poseidon muncul di atas kepalanya, dan semua orang terkejut ketika tahu Percy adalah anak dari salah satu dewa tiga besar.

I love that scene, where Poseidon acknowledge Percy as his son. Sayang nggak ada di film. :D

Dang ngomong-ngomong saya tidak menemukan Titan disebut-sebut sama sekali. Titan yang harusnya menguasai Luke Skywalker dan membuat dia mencuri petir Zeus dan helm kegelapan Hades. (pouty)