Seharusnya

Seharusnya saya nggak datang. Seharusnya saya menuruti saja keinginan teman saya yang memilih galau sendiri di kosan daripada ikut mereka. Saya tidak bilang semua yang terjadi waktu itu tidak menyenangkan. Bukan. Hanya saja ada beberapa hal yang kalau bisa pengen saya hapus dari memori malam itu. Tapi seharusnya cuma tinggal seharusnya.

Saya tahu, kita kenal baik. Saya juga tahu, bahwa sebenarnya saya nggak masalah dengan semua ejekan dan candaan itu. Toh saya pun membalasnya ketika bisa. Toh itu pertanda kita cukup dekat untuk saling mengejek satu sama lain. Toh itu semua biasanya dilakukan di hadapan orang-orang dekat juga.

Tapi nggak semua hal bisa disamaratakan dengan apologi seperti itu. Kamu seharusnya tahu….

Katakan saya berlebihan, tapi siapa yang tidak jengkel ketika di depan orang-orang yang tidak begitu saya kenal baik, urusan pribadi saya dibawa-bawa? Apa saya tidak boleh merasa terganggu? Nggak perlulah mereka semua tahu soal dia. Dan lebih nggak perlu lagi kalau soal siapa dia buat saya dijadikan konsumsi publik. Iya, termasuk kekasihmu juga. Saya dengar loh, bisik-bisikmu waktu itu. Lupa kalau saya duduk tepat di sampingmu? Apa karena dia kekasihmu lalu dia berhak tahu apa yang kamu tahu? Ini tentang saya, bukan tentang kamu.

Kamu tahu hal itu saja sudah sebuah kesalahan. Saya tahu dari awal, bahwa begitu cerita ini sampai ke telingamu, cepat atau lambat akan ada orang-orang yang tidak penting yang akan tahu juga. Saya cuma belum tahu kalau di depan orang-orang itulah kamu akan membeberkan semuanya tanpa sungkan dan rasa bersalah sama sekali.

Seharusnya dari awal kamu nggak boleh tahu. Tapi seharusnya cuma tinggal seharusnya.

This entry was posted in Friends, Love

10 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge