Monthly Archives: December 2011

Blacklist

Di-bully dan mem-bully itu sebenarnya hal yang biasa terjadi dalam hubungan pertemanan. Bully yang saya maksud tentu bukan seperti yang ada di film-film yang sampai membuat korban bunuh diri karena depresi, atau melibatkan palak-memalak, kekerasan fisik, dan sejenisnya. Bully di sini lebih ke bercandaan antar teman dengan ejekan-ejekan nggak penting lainya.

We do it because we love each other, because we feel comfortable with them.

Tapi kadang-kadang di tengah kesenangan mem-bully itu, ada orang-orang yang suka lupa daratan. Ada orang-orang yang nggak lihat-lihat sikon dan main seruduk tanpa peduli sasarannya sebenarnya sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tanpa peduli apa yang menjadi bahan bully-an adalah hal yang nggak seharusnya diketahui banyak orang. Or simply, sasarannya benar-benar nggak suka dengan apa yang dijadikan bahan bully-an.

I’m getting used to being bullied. I guess I’m just… bulliable, eh? :D

(more…)

Absurd #1

X: “pengen pen tablet ih”

Y: “wah, aku juga pengen, buat ngitung-ngitung, jadi nggak make kertas lagi”

X: “guayaaaaa~”

Y:green life, hemat kertas kan”

X: “ngitung di luar kepala dong kalo gitu”

Y: “kalo ngitung di luar kepala entar jatoh itungannya… mending ngitung di dalam hati aja…”

X: “kalo nggak punya hati gimana dong?”

Y: “masih ada dengkul kok, daripada cuma dipake buat jalan dari lantai lima, kosan, lantai lima lagi, mending buat mikir juga”

Percakapan random di Y!M gara-gara saya yang lagi pengen pen tablet. Salah juga yang diajak ngobrol orang random. (ninja)

Kepercayaan Itu Mahal

Dua hari yang lalu saya membuat ‘pengakuan dosa’ sebagai akibat percakapan absurd tengah malam lewat Y!M dengan salah seorang teman, dan katanya sukses membuat dia bengong selama setengah menit lalu terus kepikiran soal itu bahkan berjam-jam ke depan. Merutuki sendiri betapa bodohnya saya dan entah apalagi. Kasihan…. (okok)

Wajar sih kalau dia kaget, soalnya saya memang nggak pernah cerita apa yang terjadi di pihak saya sewaktu kejadian berbulan-bulan yang lalu itu. Masalahnya, dari empat orang yang ketika itu sama-sama tahu kejadiannya dan punya hubungan dengan saya dan tiga orang yang terlibat di dalamnya, saya nggak bisa percaya sama beberapa orang. Satu orang yang itu, sudah bisa dipastikan kalau begitu saya cerita ke dia, seluruh dunia akan langsung tahu. Sedangkan satu orang lagi, mungkin dia masih bisa dipercaya untuk menutup mulut, tapi saya tahu kalau ketika dia sedang meledek orang lalu mengancam akan membocorkan rahasia  dengan tujuan bercanda, dia lupa sama apa yang seharusnya nggak dia katakan.

Kepercayaan itu mahal. Sekali kamu merusaknya, butuh waktu lebih lama buat mendapatkannya kembali.

Bagi orang-orang yang kepercayaannya dirusak, mereka belajar dengan cara yang nggak enak. Dengan rahasia-rahasia yang tiba-tiba saja jadi rahasia umum.  Tapi namanya juga proses belajar. Di lain waktu kita menjadi sedikit lebih pintar walau kadang-kadang masih suka tergelincir.

Saya yang sekarang, mungkin lebih terbuka daripada saya yang dulu. Belajar buat percaya sama orang, cerita hal-hal tertentu sama orang. Lewat berbagai kejadian enak dan nggak enak, lama-lama kita tahu mana yang benar-benar teman dan bisa dipercaya, mana yang nggak.

Di akhir cerita berbulan-bulan yang lalu tadi, saya cuma bisa percaya sama salah satu dari mereka. Dan saya masih ingat kata-katanya di dini hari ketika itu, sewaktu saya dan dia tahu bahwa semuanya sudah selesai.

daijoubu? nee?

Terima kasih. Terima kasih sudah ada buat saya saat itu. (cozy)

Kisah di Balik Jendela #1

Seperti yang rasanya sudah sering saya bilang entah di blog ini atau di status jejaring sosial lain, kamar saya itu letaknya paling depan di kosan. Ada tiga jendela yang menghadap ke luar yang membuat saya bisa mendengar percakapan orang yang ada di teras dan halaman depan. Kadang saya bisa kesel sendiri kalau mereka lagi berisiknya masya Allah, lupa kalau suara mereka bisa kedengeran dari dalam, kadang lucu dengerin orang pacaran, bahkan orang berantem.

Akhirnya berkat ide si Fifi, saya mau bikin rangkain postingan random tentang apa aja yang pernah terjadi di balik jendela kamar ini. :D

Kayak beberapa siang yang lalu, waktu saya lagi berkutat bikin desain di dalam kamar, satu pasangan yang lagi pacaran tepat di depan kamar saya yang beberapa saat yang lalu masih adem ayem aja tiba-tiba berantem. Si cewek sepertinya merasa kurang diperhatikan karena si cowok nggak tanya-tanya dia kalau pergi jalan sama siapa aja. Ini lumayan aneh buat saya sih, biasanya orang sebel kalau kebanyakan ditanya, lah dia malah pengen ditanyain terus. Ujung-ujungnya si cowok marah, dan si cewek membujuk sambil masih terdengar ngambek juga.

Eeeeh… ujug-ujug terdengar suara gitar dan orang yang menyanyi dengan cempreng di depan…

“aku lelaki tak mungkin menerima~ bila ternyata kau mendua~”

Kontan si cowok langsung tambah bete dan ngusir pengamennya. (rofl)

The Random AB

Pada tau akun @TipeDarah di Twitter?

Saya sendiri baru follow akun itu beberapa hari belakangan ini, karena ngeliat beberapa temen jadi hobi retweet dari sana. Setelah baca-baca sedikit, kok lumayan banyak yang bener ya yang dibilang di situ. Akhirnya jadi hobi liatin timeline-nya sampai yang dulu-dulu. (rofl)

tipedarah

tipedarah

Ini ya? Yang bikin saya masih inget apa yang diomongin orang dari jaman kapan, kelakuan orang-orang dari jaman kapan. Detil-detil nggak pentingnya juga masih inget, padahal harusnya udah bisa dikategoriin ingatan jaman dinosaurus. (idiot)

tipedarah

Sesuatu banget. Saya kalau di tempat yang banyak orang, terutama kalau tempatnya lumayan ribut, orang-orang amburadul ribut sendiri-sendiri, bawaannya bete, pengen gigit orang. (rofl)

tipedarah

Kadang abis bangun tidur sore-sore terus bingung, ngira ini udah hari berikutnya dan saya kelamaan tidur, padahal masih sore hari yang sama. Kalau nggak gitu, bangun tidur bingung ini masih mimpi apa bukan. Intinya sih harus bengong lama dulu ngumpulin nyawa.

the randomness continue…