Monthly Archives: March 2012

Closure

Melegakan.

Kamu tidak bisa membayangkan betapa leganya perasaanku ketika aku terbangun pagi ini. Berton-ton kata-kata dan rahasia yang tidak bisa terucap, yang membuntutiku sejak itu, akhirnya terlepas.

Malam tadi adalah closure yang selama ini aku cari.

Aku tahu, semua keruwetan itu telah terjadi berbulan-bulan yang lalu, dan telah juga selesai. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, yang terus membuatku merasa bahwa kalau saja aku bisa memuntahkan kata-kata yang mengganjal itu, sekalipun artinya mungkin sudah tidak signifikan lagi, aku akan lebih lega.

Mau tidak mau aku harus berterima kasih padamu, Be. Kalau kamu tidak memutuskan untuk muncul lagi karena merasa bersalah pada kami, tidak memutuskan untuk menceritakan semuanya padaku dan mereka, tidak memaksaku bercerita, aku mungkin masih gamang. Aku tidak akan terbangun di pagi harinya, dibanjiri perasaan lega, dan tiba-tiba tersenyum sendiri. Iya, semuanya sudah selesai.

Uncurable Stupidity

Uncurable Stupidity

… adalah datang ke kampus pukul tujuh pagi dan meneguh-neguhkan hati buat kuis untuk kemudian menyadari kuisnya dipindah jadi jam setengah tujuh malam dan kita nggak tahu karena malam sebelumnya tepar gara-gara alergi dingin.

… adalah sabunan pake sampo waktu mandi dan hampir sikat gigi pake sabun mandi. Perhatikan bahwa salah satu dari dua kejadian tadi ada yang menggunakan kata “hampir” dan ada yang tidak.

… adalah nabrak pintu kaca di hari pertama PKL, menimbulkan suara yang cukup keras, dan diliatin sama bapak-bapak yang lewat dan memandangi dengan khawatir, mungkin bertanya-tanya mbak ini masih ngantuk atau kenapa sampai bisa-bisanya mencoba masuk ke ruangan kantor lewat kaca tepat di sebalah pintu yang terbuka.

Itu yang sudah-sudah, sih, dan belum semuanya. Dua hari belakangan saya melakukan kebodohan lagi secara berturut-turut. Entah linglung entah apa.

Rabu pagi saya awali dengan menumpahkan air dari galon, cuma gara-gara sibuk memikirkan kemana perginya semua peniti yang hilang di dunia ini. Masalahnya peniti itu kan kalau habis dipakai di kerudung, setelahnya dikembalikan ke kotak peniti, tapi tetap saja setiap beberapa bulan sekali saya mendapati kotak peniti yang kosong dan harus membeli satu renteng peniti-peniti baru.

Malamnya tidak kalah random. Saya kehilangan modem, yang sudah dicari sampai mengobrak-abrik kamar dan seluruh isi tas tidak juga ditemukan. Hampir setengah jam kemudian modem itu ketemu setelah saya menyusuri jalan pulang yang saya tempuh dari kos-kosan teman ke kos saya.

Lalu sore tadi, giliran hp saya. Kali ini saya tahu sih kemana perginya, tertinggal di kos-kosan teman, tepat di sebelah laptop dia. Parahnya, orang yang bersangkutan sedang tidak ada di kos ketika saya sadar hp saya tertinggal di tempatnya. Jadilah sepanjang sore sampai lewat Isya saya bingung sendiri.

Malamnya ketika saya datang untuk mengambil hp yang tertinggal, teman saya geleng-geleng kepala tidak percaya:

“Dari kemaren gak fokus anak ini. Mikirin apa sih kamu?”

kamar kosan, ditemani sebatang cokelat dan sekotak susu,

semoga besok pagi saya terbangun dan kelinglungan dua hari hari ini berakhir

oh, no… sekarang sudah pagi… artinya nanti siang… ><

I Was Praying That You And Me Might End Up Together

Kumat. Satu lagu di playlist Media Monkey saya, sampai entah kapan.

Ron Pope – A Drop in the Ocean

A drop in the ocean
A change in the weather
I was praying that you and me might end up together
It’s like wishing for rain as I stand in the desert
But I’m holding you closer than most ’cause you are my heaven

I don’t wanna waste the weekend
If you don’t love me pretend
A few more hours then it’s time to go

As my train rolls down the east coast I wonder how you keep warm
It’s too late to cry
Too broken to move on

And still I can’t let you be
Most nights I hardly sleep
Don’t take what you don’t need from me

It’s just a drop in the ocean
A change in the weather
I was praying that you and me might end up together
Its like wishing for rain as I stand in the desert
But I’m holding you closer than most ’cause you are my heaven

Misplaced trust and old friends
Never counting regrets
By the grace of God I do not rest at all

New England as the leaves change
The last excuse that I’ll claim
I was a boy who loved a women like a little girl

And still I cant let you be
Most nights I hardly sleep
Don’t take what you don’t need from me

It’s just a drop in the ocean
A change in the weather
I was praying that you and me might end up together
It’s like wishing for rain as I stand in the desert
But I’m holding you closer than most ’cause you are my

Heaven doesn’t seem far away anymore
No No
Heaven doesn’t seem far away

Heaven doesn’t seem far away anymore
No No
Heaven doesn’t seem far away
Oh Oh

A drop in the ocean
A change in the weather
I was praying that you and me might end up together
It’s like wishing for rain as I stand in the desert
But I’m holding you closer than most ’cause you are my heaven
You are my heaven

Donor Darah Pertama

Ceritanya bermula tiga tahun yang lalu, ketika saya membaca salah satu entri blog bulan April milik Om Eru (yang sekarang jarang update, padahal saya suka tulisannya). Setelah membaca tulisan tentang Blood for Life itu, tiba-tiba saja saya pengen bisa mendonorkan darah, sesuatu yang sebelumnya sama sekali nggak pernah terpikirkan.

Tapi sampai tiga tahun berlalu, keinginan itu sama sekali belum pernah terealisasi. Dari mulai sibuk, berat badan yang kurang memadai, sering tekanan darah rendah sehingga yakin tidak akan diperbolehkan untuk mendonor, sampai bingung sendiri kemana saya harus pergi untuk mendonorkan darah kalau sedang tidak ada acara donor darah di lantai satu perpustakaan kampus. Jangan lupakan juga perasaan ngeri yang membayang kalau teringat jarum besar yang digunakan ketika donor darah. Sewaktu mau ditusuk jarum infus empat tahun yang lalu saja saya ingat kalau saya hampir menangis dan perawat yang bertugas cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir tak berdosa.

Baru-baru ini keinginan untuk donor darah itu bangkit lagi karena kejadian di suatu siang yang random ketika saya berkeliaran sendiri di mall. Secara tidak sengaja saya melihat tulisan “Unit Donor Darah” dengan logo PMI di lantai tiga MOG. Setelah ragu-ragu sebentar di depan pintu kaca, akhirnya saya masuk dan bertanya-tanya informasi tentang donor darah. Mbak yang ditanya ketika itu memandangi saya ragu-ragu:

“Mbaknya beratnya sampai 45 kg nggak, nih?”

Memangnya saya terlihat secungkring itu, ya? Padahal adek terkecil saya yang dudul itu sering mengatai saya gendut. (doh)

(more…)

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Si pacar sedang diopname. Sudah hampir satu minggu dan kondisinya belum membaik juga. Dokternya bilang dia masih menunggu kiriman organ yang entah kapan datangnya. Tentu saja ketika saya bilang pacar di sini, maksud saya adalah si kotak besi berukuran lima belas inci yang setia menemani saya kemana-mana itu. Jadilah beberapa hari terakhir saya habiskan dengan melanjutkan rajutan tas yang tertunda, atau membaca tumpukan novel yang terus bertambah tanpa tahu kapan selesai dibaca.

Skripsi? Jangan tanya.

Sasaran pertama adalah novel Tere Liye yang saya beli di awal bulan Maret ini. Sebenarnya ketika itu, setelah galau cukup lama di antara deretan buku-buku Tere Liye, saya akhirnya memutuskan tidak jadi mengambil satu pun, dan membeli Ronggeng Dukuh Paruk serta Memoirs of Stientje. Tapi ketika sampai di kasir, ternyata novel yang paling menarik perhatian saya di antara buku-buku Tere Liye yang lain malah terpampang dengan manisnya. Akhirnya buku ini ikut juga masuk ke dalam keresek belanjaan.

(more…)