Donor Darah Pertama

Ceritanya bermula tiga tahun yang lalu, ketika saya membaca salah satu entri blog bulan April milik Om Eru (yang sekarang jarang update, padahal saya suka tulisannya). Setelah membaca tulisan tentang Blood for Life itu, tiba-tiba saja saya pengen bisa mendonorkan darah, sesuatu yang sebelumnya sama sekali nggak pernah terpikirkan.

Tapi sampai tiga tahun berlalu, keinginan itu sama sekali belum pernah terealisasi. Dari mulai sibuk, berat badan yang kurang memadai, sering tekanan darah rendah sehingga yakin tidak akan diperbolehkan untuk mendonor, sampai bingung sendiri kemana saya harus pergi untuk mendonorkan darah kalau sedang tidak ada acara donor darah di lantai satu perpustakaan kampus. Jangan lupakan juga perasaan ngeri yang membayang kalau teringat jarum besar yang digunakan ketika donor darah. Sewaktu mau ditusuk jarum infus empat tahun yang lalu saja saya ingat kalau saya hampir menangis dan perawat yang bertugas cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir tak berdosa.

Baru-baru ini keinginan untuk donor darah itu bangkit lagi karena kejadian di suatu siang yang random ketika saya berkeliaran sendiri di mall. Secara tidak sengaja saya melihat tulisan “Unit Donor Darah” dengan logo PMI di lantai tiga MOG. Setelah ragu-ragu sebentar di depan pintu kaca, akhirnya saya masuk dan bertanya-tanya informasi tentang donor darah. Mbak yang ditanya ketika itu memandangi saya ragu-ragu:

“Mbaknya beratnya sampai 45 kg nggak, nih?”

Memangnya saya terlihat secungkring itu, ya? Padahal adek terkecil saya yang dudul itu sering mengatai saya gendut. (doh)

Siang itu saya memang tidak langsung meneguh-neguhkan niat untuk donor darah karena sedang datang bulan. Tapi besok-besoknya saya mempengaruhi seorang teman untuk ikut menemani saya donor darah pertama. Mungkin keberadaan teman bisa mengurangi rasa nervous. (pinched) Jadilah Jum’at tanggal 23 Maret kemarin saya berdua dengan Ismi, dengan perasaan separuh penasaran separuh takut masuk ke tempat donor itu lagi.

unit donor darah pmi malang

Unit Donor Darah PMI Malang

Hal pertama yang dilakukan adalah mengisi formulir dengan identitas diri dan kuisioner kesehatan, termasuk berat badan yang menjadi pertanyaan Mbak di balik meja resepsionis ketika saya pertama kali datang. Untung saja selisih dua digit dari batas ambang, jadi saya bisa lanjut ke tes berikutnya, pengecekan tekanan darah.

Sewaktu pengecekan tekanan darah saya sudah harap-harap cemas kalau tekanan darah saya tidak memenuhi kriteria. Apalagi Mbak yang memeriksa ketika itu berkali-kali mengulang pemeriksaannya sambil mengerutkan muka, dan akhirnya bertanya:

“Nggak pusing, Mbak?”

Benar saja, tekanan darah saya cuma 100/80. Tapi karena saya saat itu sama sekali tidak merasa pusing akhirnya pemeriksaan berlanjut ke pemeriksaan golongan darah dan kadar hemoglobin.

Saya sudah tahu kalau golongan darah saya AB, walaupun tidak tahu Rhesusnya (yang ternyata positif). Ini juga salah satu alasan yang mendorong saya untuk mendonorkan darah, karena golongan darah yang saya punya tergolong langka, dengan statistik yang jarang sekali mencapai angka 10% di tiap negara.

kartu donor darah

Kartu Donor

Masalah muncul lagi ketika kadar hemoglobin diperiksa dari darah di tangan kiri saya, dan jumlahnya tidak mencapai 12 gram, batas minimal diperbolehkan mendonor untuk perempuan. Saya nyengir pasrah ketika Mbak yang memeriksa menyarankan untuk memeriksa kadar hemoglobin dari tangan kanan saya sambil berkata kalau ternyata masih kurang dari 12 gram artinya memang tidak bisa mendonor. Beruntung ketika darah dari tangan kanan saya diperiksa, kadar hemoglobinnya 12,4 gram. Akhirnya saya dipersilakan duduk di kursi donor, menunggu detik-detik ketika tangan saya akan ditusuk jarum seukuran sedotan air mineral sambil memalingkan muka.

Rasanya tidak sesakit yang dibayangkan, kok, sewaktu jarum itu ditusukkan di siku bagian dalam tangan kanan saya. Karena penasaran saya melirik juga, dan melihat selang yang mengarah ke kantong darah itu sekarang dipenuhi cairan berwarna merah. Darah saya. Akhirnya keinginan tiga tahun yang lalu itu terlaksana juga.

Memang setelah beberapa waktu saya merasa agak pusing, rasanya pandangan mulai kabur dan pendengaran menjadi samar-samar. Tapi setelah diberi minum teh manis dan diminta menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan teratur saya merasa lebih baik dan bisa melanjutkan proses donor tanpa harus menghentikannya terlebih dulu. Ismi sementara itu, terpaksa harus berhenti di tengah jalan dan kemudian melanjutkan lagi dan tentunya jarum tadi akan ditusuk di tempat baru. (pinched)

Hari itu kami berdua pulang dengan sedikit pusing dan masih tertawa-tawa gugup sampai tiba di parkiran lantai bawah MOG. When you give money, you give food, when you give blood, you give life. Begitu bunyi tag line yang saya baca di dinding unit donor darah saat itu. Semoga tiga bulan ke depan, saya masih bisa mendonor lagi.

This entry was posted in Friends, Health, Society

11 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge