Monthly Archives: April 2012

Mimpi

Sehabis Maghrib tadi saya tertidur, dan bermimpi aneh.

Ceritanya berawal di sebuah parkiran yang gelap di depan gedung stadion. Dari parkiran itu entah kenapa saya bisa melihat beberapa orang teman laki-laki saya duduk di pinggir lapangan bola. Tapi tujuan saya datang ke sana bukan untuk menonton bola, melainkan untuk menonton konser yang entah konser apa.

Lalu kemudian adegan beralih dengan saya yang duduk di kursi batu yang sepertinya berada di bagian dalam stadion. Ketika kursi-kursi yang tersusun menyerupai bentuk persegi di sepanjang pinggiran dinding itu sudah penuh terisi tiba-tiba saja lantai tempat kami duduk terjun bebas ke bawah.

Terjun. Lama. Dengan kecepatan penuh.

Semua orang tetap diam, kecuali satu orang yang berteriak kaget. Padahal saya pun sudah kaget setengah hidup, tapi akhirnya saya juga ikut-ikutan diam, berusaha keras menahan teriakan yang sudah di ujung lidah. Ketika lantai kami akhirnya berhenti terjun, dia sekarang mulai melaju ke depan dengan cepat. Melaju di antara tiang-tiang batu putih. Berbelok tajam. Menembus rerumputan yang tumbuh lebih tinggi daripada manusia normal. Lalu akhirnya berhenti.

Orang-orang mulai beranjak dari kursinya dan menaiki undak-undakan ke bagian atas stadion yang jelas-jelas berbeda dari yang saya lihat sebelumnya. Tempatnya lebih luas, dan sudah banyak orang yang duduk di tribun-tribun sekitar. Saya mencari tempat duduk saya, dan mendapati diri saya duduk di sebelah seseorang bertopi yang tersenyum-senyum aneh yang ternyata dicurigai sebagai pembunuh.

Lalu saya lupa kelanjutannya.

Mungkin mimpi ini karena sore tadi saya habis ngomong kalau saya kepengen sekali ikut nonton konser Laruku tanggal 2 Mei. (okok)

Ditukar Ubi

Saya: Gi, ini laptop kalau dijual kira-kira dapet berapa, ya?

Yogi: *mukapolos* Ubi tiga.

Saya: Hah?

Yogi: *masihmukapolos* Dapet ubi tiga.

Jawaban paling menohok yang saya dapat sejauh ini. (rofl)

laptop

si laptop yang bersangkutan

Beberapa hari terakhir saya memang lagi bertanya-tanya, laptop di atas itu kalau dijual dapet berapa.

Stellar memang sudah uzur sih. (haha) Kemarin engselnya sempat patah dan diperbaiki. Tapi sama tukang servisnya ditambah bonus lakban hitam yang unyu, katanya biar nggak cepat lepas lagi. Selain itu optical drive-nya sudah nggak bisa dipakai. Jangan lupakan juga casing yang bocel di pojok kanan bawah kenang-kenangan dari Radika.

Dari segi kerja, kadang-kadang dia suka biru-biru sendiri alias blue screen. Kejadian yang lebih sering sih mati mendadak. Entah karena overheat atau memang prosesornya nggak kuat ketika saya membuka banyak program sekaligus, saya juga nggak ngerti. Sementara ini masalah mati mendadak cukup teratasi dengan saya mematikan fitur aero dan animasi di Windows 7, tapi kalau laptop dinyalain tanpa disertai coolpad di bawahnya sementara udara cukup panas, tetep suka mati. (okok)

Jadi? Jual laptop ditukar ubi? (okok)

Mungkin Ini Rindu

Mungkin.

Mungkin loh, ya.

Absurd #3

Y: “Heh, ke kampus sekarang!”

X: “Ujan ini loh….”

Y: “Makanya… cari pacar lah yang punya mobil, biar bisa antar jemput biar ga keujanan.”

X: “Nyari pacar apa supir?”

Y: “Pacar aja, pacar cuman job desc-nya kayak supir doang, nggak lebih.”

X: “Ujan gini keluar nambah-nambahin cucian kaos kaki aja.”

Y: “Btw, kamu sedia berapa kaos kaki?”

X: *bengong* “Berapa ya? Ya nggak ngitung kali.”

Y: “Aku bodo juga tanya itu.”

X: “Emang.”

Y: “Namanya otak ga dipake buat mikir ginian.”

X: “Otak dipake galau doang.” *ngakak*

Abal-abal

Saya nggak paham, dengan hubungan beberapa orang yang saya kenal, yang dulu kemana-mana dan ngapa-ngapain selalu berkelompok. Mereka, orang-orang yang dulunya menebar-nebarkan aura eksklusif, yang seolah-olah tidak bisa dimasuki oleh yang lain.

Mungkin seperti halnya hubungan pertemanan pada umumnya. Saya nggak menampik kalau orang-orang yang dulunya dekat, di suatu waktu bisa terasa seperti orang asing. Karena hidup terus berjalan, kita berubah, orang-orang lain juga berubah. Seperti teman-teman bermain masa kecil di sekitar rumah, yang tiba-tiba menjadi asing ketika masing-masing menginjakkan kaki di bangku sekolah yang lebih tinggi.

Tapi perlu gitu, sampai menceritakan keburukan satu sama lain? Perlu gitu, menjelek-jelekkan satu sama lain di hadapan orang? Pasang-pasang status menyindir?

Ironisnya lagi, masing-masing merasa kalau ketidaksukaannya didukung oleh teman-teman yang lain, tanpa sadar bahwa ketika mereka membalikkan punggung, mereka juga dijelek-jelekkan.

Bah.

Kalau teman, ya…. Menurut saya…. Ini menurut saya, sih. Say it to her face. Nggak usah pakai main belakang. Nggak usah sindir-sindiran lewat status. Macam perkelahian anak SD saja. Itu kalau teman sih. Haha. Kalau masing-masing sudah merasa bukan teman lagi, ya itu urusan situ.

Ah, sebenernya ngapain juga saya ribut-ribut mengomel soal urusan orang di sini, ya? (pouty)