Ekspektasi

Saya ini sebenarnya sedang apa? Ngemil puding mangga di tengah malam buta sambil menutupi separuh diri dengan selimut, berlagak blogwalking dan chatting percakapan bodoh, padahal pikiran saya terus menerus nyangkut di tempat lain. Seperti misalnya kenapa kotak pesan saya masih kosong dari nama kamu. Kenapa yang terus bermunculan malah nama-nama lain, termasuk nama yang sama sekali tidak saya harapkan malah.

Seharusnya tidak ada ekspektasi apa-apa, seperti halnya jika keabsurdan saya yang lain sedang menguasai. Saya tahu persis. Tahu terlalu baik sampai-sampai saya hampir membenci segala cerita tentangnya. Tapi nyatanya ekspektasi itu tetap ada, biar bagaimana keras kepalanya saya berusaha berpura-pura untuk menganggap semuanya biasa-biasa saja.

Mungkin saya sedang terlalu sakau. Karena bahkan dosis terkecil dari racun yang biasa menjalari setiap jengkal pembuluh darah saya tiba-tiba tidak bisa saya dapatkan. Kamu tidak bisa membayangkan betapa frustasinya saya saat itu.

Apa kalau sekarang saya berangkat tidur, besok pagi saya akan terbangun dan mendapati nama yang saya tunggu tertera di sebelah tanda pesan baru seperti berhari-hari yang lalu? Seperti ketika dua hari itu saya selalu terbangun dan mendapati wajah yang sedang tersenyum memandang saya dari balik layar?

This entry was posted in Love

4 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge