Blog Archives

Dua Ratus Sepuluh Hari

Langit sedang tumpah di luar sana. Menelusupkan dingin yang tidak hanya sampai ke kulit, namun juga ke celah-celah hati yang lukanya hampir mengering. Perih. Karena setiap hembusan dinginnya mengingatkanku akan kita, yang tak pernah benar-benar dimulai dan tak pernah benar-benar selesai.

Mungkin memang kita tidak pernah ada. Kita cuma sebuah impian semu yang tercipta dari sosokmu dan sosokku, tapi tidak pernah ditakdirkan untuk terwujud.

Tapi saat itu, detik itu, dengan kita yang semu itu, aku sudah cukup bahagia. Karena di antara kita yang semu itu ada kamu yang nyata.

Aku tidak peduli jika orang lain lupa. Mereka boleh lupa sesuka mereka, dan aku mungkin akan terus bergeming.

Tapi tidak kamu.

Jangan kamu.

Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak boleh lupa.

(more…)