• Archive by category "Faye the Explorer"
  • (Page 2)

Blog Archives

Mit en Grit Seul

RO itu… bisa bikin kita nemu banyak temen baru. :D

Seperti halnya kopdar-kopdar para blogger, plurker, dan tumblr meet up, player RO juga hobi ngadain gathering. Terutama sih yang satu guild, apalagi kalau sekota atau ternyata jarak antar kotanya deket. Tapi nggak jarang juga kita kedatangan tamu jauh. Kayak saya yang sekarang tinggalnya di Malang, waktu mudik ke Bandung akhirnya kesampean bisa gathering sama player yang di Bandung.

bukber idRO Bandung

Bukber idRO server Rebirth

Waktu gath di Bandung malah banyak yang datang, nggak cuma satu guild tapi juga player guild lain yang emang domisilinya di Bandung.

Baru-baru ini anak-anak Malang-lah kedatangan tamu dari Bandung. Ahmad (baju merah di foto atas), atau biasa dipanggil Seul kalau in game, yang ceritanya lagi di Pare untuk beberapa lama pengen gath sama yang di Malang. Jadilah kita janjian buat gathering di Saboten Shokudo di daerah Dieng jam 1 siang. Sekitar dua jam sebelum gathering saya malah udah ketemu duluan sama Ahmad yang jalan-jalan di kampus saya. (haha)

mit en grit seul di saboten

Mit en Grit Seul, di Saboten Shokudo

Seneng? Iya, saya sih seneng-seneng aja bisa ketemu sama temen-temen yang selama ini komunikasinya lewat game. :)) Biarpun selama lebih dari separo pertemuan kemaren saya yang kayaknya tampang default bully-able ini dibuli-buli sampe pengen ngubur diri di pasir kayak Spongebob. :))

 

Bromo: Mission Failed

sunlight active gel

Rencana jalan-jalan ke Bromo dan liat sunrise di Minggu pagi bareng anak-anak seangkatan batal karena satu dan lain hal. Sudah harap-harap cemas, antara seneng karena mau jalan-jalan sama khawatir juga kalau-kalau semaput. Mari berpuas diri dengan beli Sunlight saja di Swalayan Persada, stok abis nih, nggak bisa cuci piring. ==”

Mie Setan dan Segelas McFlurry

Baru dua hari kembali ke Malang dan saya sudah keluyuran sepanjang hari. Tapi tawaran untuk pergi ke Mie Setan —semacam tempat makan baru yang menawarkan mie pedas dimulai dari level satu dengan 12 cabe sampai level lima yang kalau tidak salah dicampur 60 cabe— bersama teman-teman waktu itu memang menggoyahkan iman. (haha) Sebenarnya saya nggak suka pedas, dan kadar pedas saya tidak bisa ditolerir oleh anak-anak lain. Maksudnya, apa yang saya bilang pedas itu bagi mereka sama sekali tidak pedas. Waktu itu saya jadi ikut karena memang sudah kangen saja keluar bareng anak-anak. Eh, tak tahunya termakan hasutan mereka untuk tidak jadi meminta mie yang tidak pakai cabe sama sekali dan malah memutuskan untuk mencoba yang cabenya satu.

Cabe satupun saya cuma sanggup menghabiskan seperempat mienya dan makanan lain teman si mie. Akhirnya sisanya dipasrahkan ke anak-anak lain, dan saya repot menghilangkan rasa panas di mulut dengan menghabiskan Es Genderuwo. (haha) Tidak seseram namanya, es ini manis kok. (mmm)

friends

it's fun xD

Selepas dari Mie Setan, beberapa dari kami malah melanjutkan mampir ke McD cuma demi segelas McFlurry Caramel dan pembicaraan ngalor ngidul sampai lama sekali. Tapi menyenangkan. :D Akibatnya keesokan harinya malah diulangi lagi, hanya saja ganti cabang McD dan ganti menu jadi McFlurry Coffee. (haha)

Aku mau saja, bercengkrama dengan kalian hingga malam turun semakin gelap, ditemani segelas McFlurry. Bicara tentang apa saja, mulai kuliah yang tiba-tiba saja sudah memasuki tahun keempat, soal slide presentasi kuliah yang membuat mahasiswa pesertanya bengong, bullying masing-masing orang, menyaksikan keluarga-keluarga yang sedang ada pertemuan membicarakan pernikahan di ruang sebelah, dan mengomentari anak-anak kecil yang asyik bermain perosotan. Oh, terutama satu anak malam itu, yang kita perkirakan akan menjadi “the next Amri“. (haha)

Sayangnya tetap di luar selepas jam sembilan malam beresiko tidak bisa masuk kosan. :D

18 Hours

Mepet. Selalu seperti itu. Kebiasaan buruk yang harus segera dihilangkan sebenarnya.

Kali ini mepetnya lumayan berbahaya karena bisa berakibat saya nggak bisa pulang karena ketinggalan kereta jurusan Malang-Bandung. Lima menit sebelum kereta berangkat saya sampai di stasiun dengan terburu-buru akibat beli oleh-oleh di saat terakhir ditambah ketidakberuntungan dengan pintu depan kosan, yang memilih saat itu untuk berulah dan tidak bisa dibuka kuncinya. Jadi, akhirnya saya pun berjalan ke arah gerbong-gerbong depan sampai kemudian disuruh naik lewat gerbong makan saja sama petugasnya sewaktu saya bertanya mana gerbong saya. Koper yang isinya nggak jelas itu pun juga dibawain sama si petugas. Hehehe, ada enaknya juga telat. *plaaaaaaak* (haha)

And then the journey begin…. 18 jam yang diisi dengan tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun, dengerin musik, galau, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun lagi, dan seterusnya. Seriously, apa sih yang bisa dilakukan selama perjalanan itu? I’m not in the mood to read the books I’ve brought along with me anyway.

Kereta kali ini lumayan sepi. Banyak kursi-kursi yang masih kosong. Penumpang di sebelah saya baru naik dari stasiun Kertosono, sekitar lima jam dari stasiun Malang. Itu pun si bapak kemudian memilih duduk di kursi lain yang kosong agar bisa tidur dengan nyaman dan berarti membiarkan saya tidur dengan nyaman pula di kursi saya.

Sering kan ya, mendapati cerita tentang orang-orang yang menggunakan perjalanan panjang untuk menggalau dan melupakan sesuatu? Seperti Raditya Dika di salah satu cerita di Cinta Brontosaurus, ketika dia melakukan perjalan panjang berbekal music player dan sederet lagu untuk melupakan Kebo. Saya sih nggak. Nggak lupa maksudnya. Galaunya sih iya…. Krik…. (ninja)

Cobek Raksasa

Pernah melihat cobek sebesar ini?

cobek raksasa

cobek raksasa

Gede yah? Nggak kebayang gimana si ibu ngulek bumbu kacang di cobek segede itu sepanjang hari. Saya sih cobek kecil aja udah ga terampil ngehalusinnya. (okok) Namanya orang ga suka masak, hahaha, sukanya cuma bikin kue doang, kalau masak makanan gitu kok males ya. (okok)

Foto itu hasil jepretan di Festival Jajanan Bango yang katanya pertama kali diadain di Malang, di salah satu stan yang saya sekarang sudah lupa apa namanya. Setelah muter-muter satu lapangan bareng si teman, teman, dan teman, lalu kehabisan nasi di salah satu stan ayam bakar, mereka akhirnya menjatuhkan pilihan ke stan ini. Saya yang nggak suka akhirnya milih nasi kebuli. Eeeeh, ternyata nasi kebulinya habis. Akhirnya sate kambingnya doang pake lontong. (haha)

Antrian-antrian terpanjang bisa dilihat di stan yang jual minuman –soalnya hari itu memang panas terik– dan stan yang jual Taro. Ngomong-ngomong saya masih penasaran sama isi kotak Taro yang besar itu, tapi males mencari tau karena antriannya….

Di sana, harga satu makanan diseragamin, Rp 10.000,00. Pertama-tama kita beli kupon seharga segitu di panitia, dan nanti kupon itu yang dipake buat beli makanan di stan-stan yang ada. Setiap satu kupon berarti kita juga dapet satu sachet kecap Bango ukuran kecil, yang tiga orang dari kami memutuskan untuk menyerahkannya ke ibunya Fifi karena tau nggak bakal dipake. Untuk kasus saya dan Ismi, itu jauh lebih baik daripada maksa make cuma buat bikin telor kecap doang terus dibiarin sampai kadaluarsa di rak.

Belakangan, saya baru tau kalau malamnya ada kembang api di festival itu. (pinched) Waaaah, tau gitu kan pengen liat kembang apinya. Mana yang cerita tentang kembang api itu bilang bagus lagi, pake ada kembang api bentuk botol kecap. (haha)