• Archive by category "Faye the Explorer"
  • (Page 5)

Blog Archives

Nganjuk: Akad Nikah Seorang Teman

Hari Minggu tanggal 5 Desember kemarin, saya dan segerombolan teman saya, berangkat ke Nganjuk. Sebuah kota yang saya juga nggak tau dimana, dan nggak pernah ke sana sebelumnya. Tujuan perjalanan kali ini, adalah menghadiri akad nikah, sekaligus walimah, teman saya yang kemarin saya ceritakan. :-))

Jam lima pagi, lewat-lewat dikit, saya dijemput di depan pintu masuk stadion UB, yang mana dekat sekali dengan kosan saya. Saya beli permen dulu di warung kecil di sana, soalnya sadar diri kalau saya sering mabok darat. (haha) Apalagi dari infonya temen-temen, perjalanannya nanti itu sepertinya agak lama.

Pagi itu cuaca cerah dan udaranya juga sejuk. Mobil carteran pun berangkat bersama pak supir dan sepuluh orang cewek-cewek cerewet di dalamnya. Mulai dari ngeliatin pemandangan yang begitu sampai di Batu dan seterusnya jadi indah banget, ngobrolin segala hal, ngomentarin segala hal, makan jajanan yang dibawa.

Mobil melaju terus, dan saya lupa apakah setelah melewati daerah Pujon ataukah antara Payung dan Pujon, ketika kami sampai di sebuah jalan dengan jurang di salah satu sisi dan tanah yang terlihat sekali rawan longsor di sisi satunya. Serem juga, ngeliat bagian yang rawan longsor itu.

Sudah lama saya nggak melakukan perjalanan ke daerah gunung-gunung lagi seperti ini, dan bisa benar-benar melihat sekeliling. Beberapa tahun terakhir selalu naik pesawat kalau mudik ke Bandung, paling mentok naik bis dari bandara Soekarno Hatta ke Bandung. Dan sudah lama sekali, sejak saya ikut perjalanan keluarga ummi ke Tasik, ke Ciamis. Saya lebih sering mabok dulu itu, tapi sedikit-sedikit sempat menikmati pemandangan di sekeliling. :D Ketika perjalanan ke rumah keluarga bapak di Garut, juga selalu dipenuhi adegan saya mabok darat parah, karena Nagrek yang macetnya minta ampun dan udara yang panas, alhasil saya tepar-par. Bahkan pernah nyampe Garut dengan tekanan darah langsung drop, nggak kuat berdiri lagi sampai besoknya. (ninja)

katanya, sering mabok darat itu nggak bakat kaya, hehe…

Balada Idul Adha 2: Karnaval Qurban

Sebagaimana dua tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini saya membolang lagi di wilayah sekitar Malang bersama teman-teman. Tujuan tahun ini tidak jauh-jauh, yaitu di Kecamatan Dau. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Itu, tentu saja, bagi yang tumpangan yang dinaikinya tidak mogok karena jalan yang menanjak, serta tidak nyasar. (okok) Masalah nyasar ini sudah merupakan kejadian yang tidak langka lagi kalau ada acara di luar kampus. (okok)

Rombongan berangkat hari Rabu pagi setelah sebelumnya berkumpul di kampus terlebih dulu. Angkot carteran yang saya tumpangi termasuk dalam kategori yang mogok. (ninja) Jadi ketika jalan mulai menanjak terus, supirnya memutuskan untuk berhenti beberapa kali, memperbaiki sesuatu dengan mesinnya, entah apa itu. Penumpang sih adem ayem saja, malah yang disuruh turun dulu sementara supir memperbaiki mesin itu memanfaatkan waktu buat foto-foto di tengah kebun-kebun dan sawah-sawah di pinggir jalan.

Setelah  sampai di lokasi, panitia memutuskan untuk memulai acara terlebih dulu, karena tinggal satu angkot lagi yang nyasar dan kalau menunggu nanti terlalu lama. Panitia dibagi untuk masing-masing acara. Ada yang bertugas di bazaar baju murah dan pembagian sembako, ada yang bertugas menyembelih kambing, ada yang membantu pelayanan kesehatan gratis, ada yang mengajak anak-anak di sekitar sana bermain, dan tentu saja ada yang memasak untuk makan siang hari itu. (mmm)

Saya, berhubung saya sesungguhnya bukan panitia, tapi nemenin aja daripada sia-sia di kosan sendirian (dan nemenin staf departemen saya yang ikut di situ (ninja) ), akhirnya malah berkeliaran kesana kemari. :p Awalnya sih sempet bantuin yang bagian masak, ngupas-ngupasin kelapa sebelum diparut, terus akhirnya semakin banyak yang datang dan rumah tempat kami masak jadi penuh. Akhirnya karena saya juga pengen liat semua bagian acara, saya ngambil kamera dan pergi ke TK tempat acara yang lain.

dokumentasi sie pdd tak terdaftar…

Magnum yang Itu

Kenapa akhir-akhir ini semua orang jadi membicarakan Magnum? Es krim yang satu itu perasaan udah lama ada. Tapi tau-tau saja timeline hampir semua social networking yang saya ikuti jadi dipenuhi tentang Magnum. Dari yang pengen makan Magnum, nyari Magnum nggak ada, sampai udah makan Magnum. Bahkan tag-tagan status makan Magnum dengan si ehem-ehem juga ada. (ninja)

cropping sesuka hati

Jadi anak-anak, yang harus diperhatikan adalah status paling atas dan paling bawah. Yang tengah anggap aja nggak ada, obat nyamuk.

Mau nggak mau saya juga tiba-tiba jadi kepingin. Biasanya favorit saya itu Conello Royale yang Strawberry Kisses. (mmm) Atau kalau lagi ngirit ya Paddle Pop yang berbagai rasa dan jenis juga jadi. Paling suka yang ada jelinya itu, lho. (mmm)

semua suka es krim (mmm)

Cokelat Monggo

Berawal dari perjalanan kembali ke Malang. Setelah turun dari pesawat ternyata saya harus terkatung-katung di bandara Juanda selama dua jam karena travel yang sudah saya pesan tidak juga menghubungi. Tempat mangkal si Om yang biasanya ngatur-ngatur angkutan travel langganan saya sudah sedikit berubah, dan biarpun dibilang sama kantor pusat kalau  orang dari agen mereka  masih di lokasi yang sama, tapi saya nggak juga menemukan si Om itu.

Bosan. Bosan. Bosan. (nosepicking)

Bete. Bete. Bete. (anger)

Kantor pusat sudah ditelepon lagi dan saya diminta nunggu dihubungi sama orangnya mereka yang di bandara. Mana? Tetep aja nggak ada juga. (grmbld) Untung biasa bawa novel kalau bepergian begini, jadi setidaknya ada yang bisa dilakukan selain memperhatikan satu persatu penumpang yang sepesawat sama saya tadi menghilang dari keramaian bandara.

Setelah dua jam duduk dan nggak juga ditelepon, keliling-keliling bandara nanyain setiap Om-om yang terlihat seperti agen travel dimana agen travel saya berkeliaran, ketemu adek angkatan yang baru turun pesawat dari Bontang, hampir nabrak orang pake troli, dan sms sana-sini, akhirnya ketemu juga. Tapi ini bukan si Om yang biasa, masih agak muda, dan dia bilang katanya habis ada sidak atau semacamnya jadi dia nggak bisa menghubungi. Eh, saya juga nggak ngerti lah. Tapi herannya pas saya udah di mobil dan komplain ke supir travelnya, si supir malah kaget pas tau saya terlantar selama dua jam dan bilang kalau yang tadi itu orang baru karena yang biasanya sakit, jadi mungkin masih kurang tanggap. Ealah, Mas, yang bener yang mana inih? (doh)

lanjutkan ceritanya…

“Pantai” Karang Kates

Ada yang pernah dengar pantai Karang Kates? (okok)

karangkates 13

Mereka yang asli Malang, atau setidaknya mengenal daerahnya pasti tau kalau nggak ada pantai yang namanya macam itu di Malang, yang ada mah bendungan Karang Kates. (okok)

Ini salah satu ide isengnya temen-temen, waktu ngerencanain jalan-jalan ke Karang Kates. Mereka bilang ke Gizh kalau Karang Kates itu pantai, dan Gizh… dengan polosnya percaya. (rofl) Nggak hanya satu orang korbannya ternyata, Tepu yang padahal asli Malang juga sempat terkecoh. Bahkan ketika kami sudah dalam perjalanan, dia masih beranggapan bahwa tempat yang akan kami tuju itu benar-benar pantai. (haha)

Off to Go…