• Film »
  • Archive by category "Movie"

Blog Archives

23.12.2012

Togamas sedang diskon liburan dan akhir tahun. Seperti biasa, ini adalah godaan yang sangat susah ditolak. Belum lagi beberapa hari sebelumnya Lidya memberitahu saya kalau semua buku Harry Potter sedang didiskon 40%. Saya memang sedang mencari buku pertama, kedua, dan ketiga. Koleksi saya rusak sejak beberapa tahun yang lalu karena proses pinjam meminjam yang tidak jelas.

Kebetulan hari Minggu kemarin saya berulang tahun, so I decided to treat myself to books. :p

buku-buku yang akhirnya dibawa pulang

Acara sebelum ke Togamas adalah nonton 5cm bareng Ismi dan Amri. Saya sudah pernah cerita, kan, kalau beberapa minggu terakhir bioskop selalu saja penuh? Untungnya kami berhasil dapat tiket untuk siang itu. Dan saya harus bilang, sebagai orang yang suka sekali dengan bukunya, filmnya pun ternyata tidak mengecewakan. Beberapa adegan ketika mereka memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga bulan jatuhnya agak datar. Tapi cuma bagian itu, dan jauh membaik ketika perjalanan ke Semeru dimulai.

(more…)

Nonton Bareng The Avengers

Rabu kemarin saya berkesempatan menonton The Avengers versi 3D bersama anak-anak RO-ers Malang. Ini pertama kalinya saya nonton 3D loh, hahaha. Awalnya gara-gara pembicaraan di grup, lalu tercetuslah ide untuk bareng-bareng ke Surabaya demi menonton The Avengers yang sedang ramai-ramainya dibicarakan itu. Kenapa harus ke Surabaya? Karena di Malang memang belum ada bioskop 3D. (okok) Beruntung sekali anak-anak mau berkompromi dengan saya yang hari Kamis-nya sudah harus berangkat ke Bandung, sehingga acara nonton bareng ini diputuskan hari Rabu. (cozy)

Kami berangkat agak siang, karena menunggu Apip yang harus menyelesaikan UTS-nya dulu. Dia satu-satunya yang masih ada UTS, sementara sisanya adalah mahasiswa dan mahasiswi yang seharusnya sudah siap-siap hengkang dari kampus. (ninja) Setelah tunggu menunggu dan kengaretan yang biasa, mobil (atau seperti yang pemiliknya sebut, “gerobak”) yang dikemudikan Arip meluncur ke arah Surabaya.

Perjalanan ke Surabaya lumayan lancar tanpa kemacetan yang berarti. Hambatannya paling-paling karena yang nyupir lupa-lupa ingat jalan ke arah Surabaya Town Square, sementara waktu juga semakin mepet. Salah satu temen yang memang berdomisili di Surabaya sudah stand by dari ketika loket dibuka dan memesankan tiket pukul 15:15. Untung saja akhirnya kita tiba dengan selamat di parkiran Sutos sekitar pukul tiga kurang.

Ngomong-ngomong, sebelum saya lanjutkan, tulisan berikutnya ini kemungkinan besar merupakan SPOILER. Bagi yang nggak suka spoiler silakan di-skip aja. (haha) Don’t say I didn’t warn you. :p

(more…)

Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief

Ada satu hal yang mau saya bilang sejak pertama liat film ini….

YANG JADI PERCY JACKSON GANTENG SANGAT!

Pakai bold dan dimiringin terus di garis bawah, pertanda pentingnya tingkat tiga….*disepakin*

percy jackson

Percy Jackson

Ya Tuhan, makan apa anak orang jadi ganteng begitu…. (haha) Ceweknya seperti kata Amri, cantik banget juga, tapi karena saya cewek jadi wajar dong kalau hebohnya lihat yang ganteng. (haha)

Waktu awal nonton, dari daftar pemain yang ada di scene opening-nya lumayan banyak yang saya kenal. Padahal saya jarang-jarang hafal nama aktor dan aktris yang main, cuma tau mukanya dan main di film apa. Ada Pierce Brosnan, Uma Thurman, sampai Melina Kanakaredes yang main di CSI: New York itu. Bahkan sutradaranya ternyata adalah Chris Columbus.

Film ini diangkat dari buku berjudul sama, yang mana saya tahu cerita ini juga awalnya dari bukunya. Koleksi saya baru sampai jilid tiga, dan kalau ada yang mau beliin jilid empat dan limanya sumpah saya nggak nolak. :D Di antara keraguan menonton karena biasanya memang film nggak bisa memenuhi ekspektasi imajinasi saya dari membaca sebuah buku seperti yang terjadi sama seri Harry Potter, temen saya juga bilang kalau filmnya jelek. Tapi ternyata itu karena dia nggak suka konsep ceritanya yang semacam parodi dewa dewi Olympia, sementara saya kan suka bukunya. :D Jadi akhirnya nonton juga ketika koneksi internet yang katanya pintar ini ternyata tidak begitu pintar sehingga membuat saya mati gaya.

Yah, sepertinya saya akan terus lebih mencintai buku darimana sebuah film diangkat dibandingkan filmnya. Kalau untuk urusan setting film biasanya saya tidak protes dan senang-senang saja melihat apa yang selama ini saya imajinasikan bisa jadi nyata seperti itu. Tapi kalau untuk urusan plot, mungkin karena durasi yang terbatas juga, nggak semua yang ada di buku bisa diangkat ke dalam film dan jadinya ada beberapa hal yang harus diubah sehingga cerita tetap bisa dimengerti sama mereka yang nggak baca bukunya.

percy jackson

Annabeth

Begitu pula dengan Percy Jackson ini. Kalau di film, kita dan orang-orang di dalam cerita itu sudah tahu bahwa Percy adalah anak dari Poseidon, sementara di buku, hal itu baru diketahui setelah Percy ada di Camp Half Blood dan terluka dalam pertandingan perebutan bendera lalu tercebur ke sungai. Saat itulah tiba-tiba saja pendar cahaya berbentuk trisula Poseidon muncul di atas kepalanya, dan semua orang terkejut ketika tahu Percy adalah anak dari salah satu dewa tiga besar.

I love that scene, where Poseidon acknowledge Percy as his son. Sayang nggak ada di film. :D

Dang ngomong-ngomong saya tidak menemukan Titan disebut-sebut sama sekali. Titan yang harusnya menguasai Luke Skywalker dan membuat dia mencuri petir Zeus dan helm kegelapan Hades. (pouty)

From Prada to Nada

from prada to nada poster

Sesungguhnya saya lagi malas nonton drama yang panjang-panjang ataupun film yang ceritanya berat. Jadi mari kita refreshing dengan cerita ringan ini. Ada mbak-mbak cantik Camilla Belle yang pernah main di When a Stranger Calls, lho. (blush) *malah fanboying*

camilla belle

Judulnya ngingetin sama The Devil Wears Prada-nya Anna Hathaway. Eh, bener ga sih yang main Anna Hathaway? Iya, pokoknya itu, rasanya sih bener. *plaaak* Bercerita tentang dua anak perempuan dari pengusaha keturunan Meksiko yang ayahnya meninggal tiba-tiba, meninggalkan hutang yang menyebabkan mereka nggak punya apa-apa lagi dan kedatangan kakak laki-laki yang mereka nggak pernah tau ada bersama istrinya yang buat saya auranya rada-rada mirip Cruella de Vil. Makanya judulnya “From Prada to Nada”, karena “nada” dalam bahasa Spanyol artinya “nothing“. :D

If Only

Apa yang akan kamu lakukan, seandainya kamu tahu bahwa orang terdekat kamu yang sangat sangat kamu sayang akan mati dalam waktu dekat? Dan kamu tahu persis, bagaimana dan kapan dia akan mati?

Seorang kawan tiba-tiba saja menanyakan pertanyaan ini di grup komunitas di facebook. Saya tidak menjawab, soalnya taunya baru setelah agak lama. Basi dong kalau saya tanggepin lagi. (haha) Anyway…. Ada yang menjawab bahwa dia akan menggunakan waktu itu untuk tidur, membiarkan alam bawah sadar bekerja (yang saya juga nggak tau maksudnya apa ini). (haha) Mungkin karena nggak tau mau jawab apa.

Coba ya, kalau kita kasih tau ke orang kapan dan gimana dia bakal mati, yang ada antara kita dianggap gila atau kalau misalnya dia percaya, dia bakal syok, takut, dan segala macam perasaan nggak ngenakin. Yang kita kasih tau soalnya bukan prediksi lagi, tapi apa yang kita tahu. Bukan prediksi dokter kayak kalau orang sakit terus dibilang waktunya tinggal berapa bulan lagi gitu, kayak Jaejoong di video clip-nya Ayumi Hamasaki yang Blossom. Err… tadinya mau ngasih link video-nya, tapi ga bisa nemu lagi, cari sendiri deh kalau mau liat. (okok)

Lalu kalau kita akhirnya memilih untuk nggak ngasih tau ke orang tersebut? Apa yang akan kita lakukan?

if only poster

Ian Wyndham (Paul Nicholls) memilih untuk tidak pernah memberitahukannya, dan memanfaatkan sisa waktu yang dia tahu masih ada itu, buat memberikan yang terbaik, sesuatu yang dia nggak pernah lakukan sebelumnya buat Samantha Andrews (Jennifer Love Hewitt), dan kalau bisa menghindarkannya dari kematian.

Ada satu komentar di postingan pertanyaan teman saya tadi yang jawabannya hampir sama. Memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya dengan orang itu.

Ah, curiga itu teman yang nanya abis nonton If Only juga. (haha)