• Archive by category "Film"
  • (Page 2)

Blog Archives

Nyanko Nyankichi Nyangoro Nyan… Nyan… Nyanta?

I’m weak for cute things, seperti yang telah terbukti beberapa kali ketika saya tiba-tiba tergila-gila sama Jamapi dan Chii.

51 episode Wedding Peach, anime lawas tentang malaikat cinta pembela kebenaran (oh iyes, beneran ini (rofl) ) yang dulu banget sempet diputer di televisi, berhasil saya tamatin sambil berkya-kyaa liat Jamapi. (kyaaa) 104 episode Chi’s Sweet Home juga habis dilahap sambil guling-guling dan teriak-teriak liat Chii yang super imut. Tapi Chi’s Sweet Home emang durasi satu episodenya pendek banget sih, cuma sekitar tiga sampai empat menitan, jadi nggak heran episodenya banyak gitu. (haha)

Sekarang saya nemu satu makhluk lagi yang nggak kalah imutnya dan berhasil bikin saya maraton nonton anime dari season satu sampai season tiga. (haha)

nyanko8

Nyanko-senseeeeeeeeeeei~

ini tentang kucing super gendut tapi juga super imut, nyahahaha…

Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief

Ada satu hal yang mau saya bilang sejak pertama liat film ini….

YANG JADI PERCY JACKSON GANTENG SANGAT!

Pakai bold dan dimiringin terus di garis bawah, pertanda pentingnya tingkat tiga….*disepakin*

percy jackson

Percy Jackson

Ya Tuhan, makan apa anak orang jadi ganteng begitu…. (haha) Ceweknya seperti kata Amri, cantik banget juga, tapi karena saya cewek jadi wajar dong kalau hebohnya lihat yang ganteng. (haha)

Waktu awal nonton, dari daftar pemain yang ada di scene opening-nya lumayan banyak yang saya kenal. Padahal saya jarang-jarang hafal nama aktor dan aktris yang main, cuma tau mukanya dan main di film apa. Ada Pierce Brosnan, Uma Thurman, sampai Melina Kanakaredes yang main di CSI: New York itu. Bahkan sutradaranya ternyata adalah Chris Columbus.

Film ini diangkat dari buku berjudul sama, yang mana saya tahu cerita ini juga awalnya dari bukunya. Koleksi saya baru sampai jilid tiga, dan kalau ada yang mau beliin jilid empat dan limanya sumpah saya nggak nolak. :D Di antara keraguan menonton karena biasanya memang film nggak bisa memenuhi ekspektasi imajinasi saya dari membaca sebuah buku seperti yang terjadi sama seri Harry Potter, temen saya juga bilang kalau filmnya jelek. Tapi ternyata itu karena dia nggak suka konsep ceritanya yang semacam parodi dewa dewi Olympia, sementara saya kan suka bukunya. :D Jadi akhirnya nonton juga ketika koneksi internet yang katanya pintar ini ternyata tidak begitu pintar sehingga membuat saya mati gaya.

Yah, sepertinya saya akan terus lebih mencintai buku darimana sebuah film diangkat dibandingkan filmnya. Kalau untuk urusan setting film biasanya saya tidak protes dan senang-senang saja melihat apa yang selama ini saya imajinasikan bisa jadi nyata seperti itu. Tapi kalau untuk urusan plot, mungkin karena durasi yang terbatas juga, nggak semua yang ada di buku bisa diangkat ke dalam film dan jadinya ada beberapa hal yang harus diubah sehingga cerita tetap bisa dimengerti sama mereka yang nggak baca bukunya.

percy jackson

Annabeth

Begitu pula dengan Percy Jackson ini. Kalau di film, kita dan orang-orang di dalam cerita itu sudah tahu bahwa Percy adalah anak dari Poseidon, sementara di buku, hal itu baru diketahui setelah Percy ada di Camp Half Blood dan terluka dalam pertandingan perebutan bendera lalu tercebur ke sungai. Saat itulah tiba-tiba saja pendar cahaya berbentuk trisula Poseidon muncul di atas kepalanya, dan semua orang terkejut ketika tahu Percy adalah anak dari salah satu dewa tiga besar.

I love that scene, where Poseidon acknowledge Percy as his son. Sayang nggak ada di film. :D

Dang ngomong-ngomong saya tidak menemukan Titan disebut-sebut sama sekali. Titan yang harusnya menguasai Luke Skywalker dan membuat dia mencuri petir Zeus dan helm kegelapan Hades. (pouty)

From Prada to Nada

from prada to nada poster

Sesungguhnya saya lagi malas nonton drama yang panjang-panjang ataupun film yang ceritanya berat. Jadi mari kita refreshing dengan cerita ringan ini. Ada mbak-mbak cantik Camilla Belle yang pernah main di When a Stranger Calls, lho. (blush) *malah fanboying*

camilla belle

Judulnya ngingetin sama The Devil Wears Prada-nya Anna Hathaway. Eh, bener ga sih yang main Anna Hathaway? Iya, pokoknya itu, rasanya sih bener. *plaaak* Bercerita tentang dua anak perempuan dari pengusaha keturunan Meksiko yang ayahnya meninggal tiba-tiba, meninggalkan hutang yang menyebabkan mereka nggak punya apa-apa lagi dan kedatangan kakak laki-laki yang mereka nggak pernah tau ada bersama istrinya yang buat saya auranya rada-rada mirip Cruella de Vil. Makanya judulnya “From Prada to Nada”, karena “nada” dalam bahasa Spanyol artinya “nothing“. :D

49 Days (49일)

49 days 2

The human heart is fickle. There’s no such thing as permanence. Love, then hate. Hot, then cold. Upset, then grateful. Full of resentment, then understanding. And so on and so forth. Ultimately, tears are this.

Ketika suatu hari kamu meninggal, dan diberi kesempatan selama 49 hari untuk mendapatkan hidupmu kembali, lalu menemukan bahwa segalanya ternyata tak seperti yang terlihat selama ini, apa yang akan kamu lakukan? 49 hari, waktu yang diberikan untuk mencari orang-orang yang benar-benar mencintaimu, dan menangis karenamu. 49 hari, jika kamu berhasil maka kamu akan diberi kesempatan hidup sekali lagi. Tapi tunanganmu ternyata mengkhianatimu, sahabatmu membencimu, dan temanmu membicarakan kejelekanmu di belakang.

49 days 1

Did you live your life right? Berapa orang yang akan menangis, benar-benar menangis karena kehilangan orang yang berharga, ketika kamu pergi?

If Only

Apa yang akan kamu lakukan, seandainya kamu tahu bahwa orang terdekat kamu yang sangat sangat kamu sayang akan mati dalam waktu dekat? Dan kamu tahu persis, bagaimana dan kapan dia akan mati?

Seorang kawan tiba-tiba saja menanyakan pertanyaan ini di grup komunitas di facebook. Saya tidak menjawab, soalnya taunya baru setelah agak lama. Basi dong kalau saya tanggepin lagi. (haha) Anyway…. Ada yang menjawab bahwa dia akan menggunakan waktu itu untuk tidur, membiarkan alam bawah sadar bekerja (yang saya juga nggak tau maksudnya apa ini). (haha) Mungkin karena nggak tau mau jawab apa.

Coba ya, kalau kita kasih tau ke orang kapan dan gimana dia bakal mati, yang ada antara kita dianggap gila atau kalau misalnya dia percaya, dia bakal syok, takut, dan segala macam perasaan nggak ngenakin. Yang kita kasih tau soalnya bukan prediksi lagi, tapi apa yang kita tahu. Bukan prediksi dokter kayak kalau orang sakit terus dibilang waktunya tinggal berapa bulan lagi gitu, kayak Jaejoong di video clip-nya Ayumi Hamasaki yang Blossom. Err… tadinya mau ngasih link video-nya, tapi ga bisa nemu lagi, cari sendiri deh kalau mau liat. (okok)

Lalu kalau kita akhirnya memilih untuk nggak ngasih tau ke orang tersebut? Apa yang akan kita lakukan?

if only poster

Ian Wyndham (Paul Nicholls) memilih untuk tidak pernah memberitahukannya, dan memanfaatkan sisa waktu yang dia tahu masih ada itu, buat memberikan yang terbaik, sesuatu yang dia nggak pernah lakukan sebelumnya buat Samantha Andrews (Jennifer Love Hewitt), dan kalau bisa menghindarkannya dari kematian.

Ada satu komentar di postingan pertanyaan teman saya tadi yang jawabannya hampir sama. Memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya dengan orang itu.

Ah, curiga itu teman yang nanya abis nonton If Only juga. (haha)