Seorang teman merekomendasikan saya untuk menonton Sword Art Online di saat episode dua dari anime itu baru saja keluar. Sinopsis ceritanya memang menarik buat kami yang sama-sama player MMORPG. Sebuah game Virtual Reality MMORPG dengan teknologi Full Dive yang memungkinkan player untuk benar-benar berada dalam dunia game. Lupakan monitor, keyboard, dan mouse yang biasanya digunakan untuk mengendalikan avatar kita ketika bermain.
Tapi di hari pertama official server SAO dibuka, 100.000 player terperangkap di dalamnya karena sang pembuat game telah menghilangkan fungsi Log Out. Jalan keluar satu-satunya bagi mereka untuk kembali ke dunia nyata hanyalah menyelesaikan game tersebut. Bagian terburuknya adalah, alih-alih kembali ke Save Point seperti layaknya MMORPG, ketika avatar player mati, maka itu berarti kematian pula di dunia nyata. NerveGear, alat yang digunakan untuk menghubungkan tubuh asli player dengan virtual reality, akan mengirimkan sinyal yang dapat merusak otak mereka. Pelepasan NerveGear oleh orang yang berada di luar game juga tidak memungkinkan, karena hal yang sama akan terjadi jika NerveGear dilepaskan secara paksa. SAO berubah menjadi death game.
Saya jadi membayangkan kalau RO tiba-tiba jadi seperti SAO, player kill diperbolehkan di luar area kota, tapi kematian dalam game berarti kematian di dunia nyata. Pasti mengerikan kalau bertemu karakter job Shura dengan Ashura atau Gate of Hell-nya.





Setelah tunggu menunggu dan kengaretan yang biasa, mobil (atau seperti yang pemiliknya sebut, “gerobak”) yang dikemudikan Arip meluncur ke arah Surabaya.
Don’t say I didn’t warn you.


