
The human heart is fickle. There’s no such thing as permanence. Love, then hate. Hot, then cold. Upset, then grateful. Full of resentment, then understanding. And so on and so forth. Ultimately, tears are this.
Ketika suatu hari kamu meninggal, dan diberi kesempatan selama 49 hari untuk mendapatkan hidupmu kembali, lalu menemukan bahwa segalanya ternyata tak seperti yang terlihat selama ini, apa yang akan kamu lakukan? 49 hari, waktu yang diberikan untuk mencari orang-orang yang benar-benar mencintaimu, dan menangis karenamu. 49 hari, jika kamu berhasil maka kamu akan diberi kesempatan hidup sekali lagi. Tapi tunanganmu ternyata mengkhianatimu, sahabatmu membencimu, dan temanmu membicarakan kejelekanmu di belakang.

Did you live your life right? Berapa orang yang akan menangis, benar-benar menangis karena kehilangan orang yang berharga, ketika kamu pergi?

Pas di situ ngeliat drama-drama lama macam My Girl, terus Sassy Girl Chunhyang, sama Princess Hours, jadi pengen nonton lagi. Abisnya saya seneng sama tiga drama itu.



Padahal Mizushima Hiro main, tapi tetep aja beberapa kali nonton saya malah tertidur dengan sukses di tengah episode.
Padahal namanya imajinasi yah, mau gimana juga kan terserah aja. Tapi, mau mengorbankan semuanya, termasuk cita-citanya untuk menjadi pâtissier? Memilih robot untuk jadi pacarnya dibandingkan manusia normal? Demi kepribadian yang dibikin dan dikontrol sama programmer-nya? 
Diselesaikan walaupun bosan, cuma karena nggak suka meninggalkan jalan cerita di tengah-tengah sementara saya punya semua episodenya.