Archive for category Life So Far
Dua Ratus Sepuluh Hari
Langit sedang tumpah di luar sana. Menelusupkan dingin yang tidak hanya sampai ke kulit, namun juga ke celah-celah hati yang lukanya hampir mengering. Perih. Karena setiap hembusan dinginnya mengingatkanku akan kita, yang tak pernah benar-benar dimulai dan tak pernah benar-benar selesai.
Mungkin memang kita tidak pernah ada. Kita cuma sebuah impian semu yang tercipta dari sosokmu dan sosokku, tapi tidak pernah ditakdirkan untuk terwujud.
Tapi saat itu, detik itu, dengan kita yang semu itu, aku sudah cukup bahagia. Karena di antara kita yang semu itu ada kamu yang nyata.
Aku tidak peduli jika orang lain lupa. Mereka boleh lupa sesuka mereka, dan aku mungkin akan terus bergeming.
Tapi tidak kamu.
Jangan kamu.
Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak boleh lupa.
Absurd #2
Saya: *keluar dari kamar mandi nyari sabun* “Mi, sabun mana, ya?”
Ummi: *nunjuk bagian bawah lemari dapur* “Tuh, di situ.”
Saya: *ngambil isi ulang sabun mandi cair*
Ummi: *masih nunjuk bagian bawah lemari* “Nggak pake yang warna hijau itu? Wangi loh itu.”
Saya: “Emangnya panci?” =__________=
Si ummi nunjuk Sunlight…. Demi apaaaaaaa….
Brownies Kukus
Sewaktu pulang ke rumah, salah satu hal yang langsung diminta Ummi adalah bikinin brownies. Sampe-sampe yah, itu bahan-bahan buat bikin brownies udah disiapin di lemari biar saya pas datang tinggal bikin gituh. Udah niat banget rupanya.
Berhubung resep yang lama raib entah kemana waktu beres-beres, jadinya pake resep baru yang bisa diliat di sini, tapi karena saya lagi rajin jadi saya tulis lagi deh pake bahasa sendiri. Yuuk, mariii~
Bahan:
- 6 butir telur
- 225 gram gula pasir
- vanili, garam, dan ovalet
- 125 gram terigu ayak dicampur dengan 50 gram cokelat bubuk ayak
- 100 gram dark cooking chocolate, dilelehkan dengan 75 ml minyak goreng
- 75 ml susu kental manis cokelat
Pempek Dewi
Pilihan pempek yang biasanya saya beli itu, kalau nggak mas-mas yang jual pake gerobak di depan gerbang Fapet, ya yang ada di depannya Pascasarjana. Tapi yang di depan Pascasarjana itu suka moody, suatu kali pempeknya keras nggak jelas, di kali lain malah kurang mateng gorengnya. Kalau pempek gerbang Fapet lebih lumayan. Standar pempek seharga Rp 1.400,00 per buah lah.
Nah, kan ceritanya saya lagi di Banjarmasin sekarang. Terus temen-temen di sini entah kenapa lagi pada hobi kulineran. Kalau jalan ngajaknya makan ke tempat yang belum pernah dicoba melulu. Salah satunya Pempek Dewi di Jl. A. Yani.

berbagai jenis pempek

