Archive for category Babblings
Under My Umbrella

payung saya juga ungu loh *penting*
Malem-malem, di tengah hujan, berdiri sambil payungan di pinggir jalan yang sepi….
Bukan, bukan galau. Saya laper, lagi nungguin tukang nasi goreng selesai bikinin pesenan saya.
gambar dicomot dari sini
Sekedar Selingan
Rasanya sudah cukup lama saya mengkhianati blog ini. Entri terakhirnya tertanggal 28 Februari 2011, dan postingan bersambung tentang perjalanan Malang-Solo-Jogja juga belum selesai sampai sekarang.
Dalihnya sih sebenernya lagi banyak tugas, dan hal-hal lain di luar tugas yang juga harus dikerjain. Tapi selain itu kayaknya juga karena main game terus sampai-sampai nggak ada waktu buat nulis-nulis lagi. Kalau nggak menugas ya main game, diselingin Plurukan, terus blog nggak keurus.
Tapi lagi…. Saya jadi sadar satu hal lagi. Akhir-akhir ini menulis di blog terasa sedikit susah. Mungkin terbiasa nulis pendek-pendek di Plurk, dan merasa semua udah diceritain, terus mau ngomong apa lagi di blog jadi bingung. Kalau mau nulis sekarang kebanyakan mikir dulu (kalau dulu mikirnya lebih sedikit
), layak apa nggak diposting. Kadang-kadang draft udah jadi, tapi kok merasa kalau yang ditulis terlalu personal terus akhirnya cuma disimpen aja di draft tapi nggak di publish. Kok jadi repot….
Saya kangen nulis sebenernya. Kangen ngetik dan membiarkan apa yang ada di kepala saya keluar semua, terus setelah itu lega. Kangen bisa nulis postingan panjang ga penting, atau sekedar review buku dan film yang saya baca. Bahkan untuk review film dan buku aja semakin malas, semakin nggak tau mau cerita apa. Padahal saya hobi sebar-sebar spoiler cerita di sini.
Ah, sudahlah, mungkin saya memang lagi kena sindrom males nulis, semoga tidak berlanjut menjadi hiatus panjang, dan entri yang ini nggak sekedar mengisi absen bulan Maret.
Antara Saya, Tisu, Pohon, Staf, dan Ingus
Beberapa hari yang lalu, di suatu pagi sebelum rapat departemen saya dimulai, kira-kira terjadi percakapan seperti ini antara saya dan salah seorang staf:
Saya: *ngeluarin tisu*
Staf: “Ih, Mbak kok pake tisu sih?”
Saya: “Eh?” *memandang bingung*
Staf: “Nggak green amat sih. Go green dong. Coba bayangin berapa banyak pohon yang ditebang demi tisu ini. Bayangin, Mbak, bayangin! Gimana sih? Biasain bawa sapu tangan ah, Mbak. Atau Mbak mau nanam satu pohon setiap Mbak pake satu lembar tisu? Hayo, berapa banyak pohon yang sudah Mbak tanam?”
Saya: “…”
dan nggak, saya nggak melebay-lebaykan bagian ucapan si staf, dia beneran ngomong begitu walaupun mungkin nggak setepat kata-kata aslinya.
Saya Ingin Pergi… dan Tak Kembali
Malam yang sama, seperti halnya berminggu dan berbulan yang lalu. Seperti yang mulai sering saya rasakan sejak lebih dari 240 hari yang lalu. Tersadar dalam perasaan frustasi, ingin lari, ingin kabur, ingin menghilang. Jika saja tak tersadar dengan kewajiban empat bulan ke depan.
Maka pengecutlah saya jika kabur di tengah jalan, meninggalkan yang ada dan tak menoleh kembali. Walau tahu bahwa langkahnya tak lagi seringan dulu.
Ada hal-hal tertentu, yang saya tak pernah tahu, adalah konsekuensi dari pilihan saya ketika di semester awal dulu. Saya tak pernah tahu, dan tentu tak ada yang berbaik hati memberitahu. Bukan hanya sekedar tanggung jawab biasa dan jabatan biasa.
Saya, tak ingin menjadi bagian dari semua itu, jika saja saya tahu ada sesuatu yang lain di sini. Jika saya tahu, mungkin saya tak akan pernah mengembalikan selembar kertas itu ke sana. Tapi itu hanya tinggal sebuah pengandaian yang tak berarti. Karena tentu saja saya mengetahui semuanya setelah terjerumus lebih dalam.
Saya tak sama seperti mereka. Saya tak yakin seperti mereka. Saya bahkan tak tahu kenapa saya berada di sana ketika masa itu datang. Berbulan-bulan terakhir saya mendoktrin diri bahwa this is for a greater good. Tapi hati saya terus berontak, dan saya teringat salah seorang dari mereka pernah becerita alasannya bertahan:
“karena hati yang terasa nyaman ada di sini…”
Lalu saya seakan tertampar, bahwa saya tidak seperti itu. Saya mencoba mundur perlahan, menolak perlahan, tapi sulit. Saya juga ternyata terlalu pengecut untuk berkata dengan jujur bahwa saya sudah tidak mau lagi berada di sini. Entah karena tekanan secara halus yang telah mendoktrin saya bahwa saya adalah orang yang GAGAL, jika saya tidak terus ada di sana, atau karena saya yang terlalu takut akan pandangan orang lain terhadap saya jika saya benar-benar berhenti. Atau mungkin keduanya. Kemungkinan besar memang keduanya.
Gerhana Bulan Separo – 26 Juli 2010
Ini pertama kalinya seumur hidup saya ngeliat gerhana.
Sewaktu sehabis Magrib tadi keluar buat beli makan, memang bulannya cuma terlihat separo. Awalnya sih biasa aja, tapi agak mikir juga, sekarang kalau dalam kalender Hijriah tanggal berapa, ya, kenapa bulannya cuma separo gitu. Setelah cek dan ricek, dan terutama liat timeline di Plurk, akhirnya tau juga kalau hari ini ada gerhana bulan separo dan memang keliatan dari daerah Indonesia.
Akhirnya saya naik ke lantai tiga, alias atap, yang biasa buat jemur baju. Dan bulannya benar-benar separo, padahal ini pertengahan bulan Hijriah yang seharusnya si bulan itu lagi purnama.
Iih, jadi inget cita-cita zaman SD sampai SMP. Waktu itu saya pengen banget mempelajari astronomi, dan cita-cita saya dulu itu pergi ke luar angkasa, kerja di NASA.
Ini foto gerhana bulannya, yang sama sekali ga keliatan kayak gerhana, dan malah kayak bulan purnama atau bahkan cuma kayak lampu di sudut jalan.

Kamera saya lagi dipinjam, apa boleh buat, dan yang ada cuma kamera SE W200i.
Tapi saya juga sebenernya bertana-tanya sih, apa kalau pake pocket camera biasa momennya bisa ketangkep, ya?
Gerhananya saat ini mungkin masih berlangsung di luar, karena di beritanya katanya sampai jam delapan. Tapi saya takut juga kalau di atap sendirian lama-lama, udah gelap gitu.
Lagian lupa bawa jaket, kesalahan emang, ga sadar diri kalau alergi beberapa hari terakhir ini lagi kumat.
Oke, sekian laporan dari sudut kamar kecil di kota Malang.
Last question… do you see it from there?
*ikutan menye-menye ketularan timeline temen-temen di Plurk*
