Blog Archives

Bengong di Tengah Kegelapan

Malam tadi mati listrik, yang kedua kalinya dalam dua hari terakhir. Gara-gara pulang ke rumah cuma enam bulan sekali, saya sampai lupa kalau PLN sini hobinya emang mati nyalain listrik.

Satu jam pertama masih anteng aja, mondar-mandir berbekal lampu emergency. Memasuki dua jam saya mulai guling-guling nggak jelas sambil twitteran via hp, tapi masih berkeyakinan bahwa mati listrik ini nggak bakal lama-lama banget. Tiga jam berlalu, mulai ngedumel karena banyak nyamuk. Biasa, kalau gelap gitu nyamuk-nyamuk emang tambah centil. Salahnya emang saya belum mandi sore sih. Niatnya mau mandi sekitar jam setengah delapanan, tapi keburu blackout, apa daya…. (lonely)

Tiga jam setengah berlalu, lampu-lampu emergency udah pada mati. Yang masih nyala tinggal lampu meja yang bisa di-charge, dan itu pun udah redup. Nyamuknya ganas, buset. Akhirnya saya nggak tahan dan ngambil tiga lilin buat nemenin di kamar mandi. Harapan saya bahwa listrik akan segera menyala lagi sudah punah.

Selesai mandi saya balik lagi guling-guling, twitteran, denger musik, berharap bisa tidur dan begitu bangun semua ini cuma mimpi semua udah terang benderang. TAPI SAYA GAK BISA TIDUR!

Saya udah sikat gigi, cuci muka, cuci kaki, dan baca do’a sebelum tidur, tapi tetep aja nggak tidur-tidur juga. Yang ada cuma tidur-tidur ayam. Bukan, bukan tidur bareng ayam di kandang ayam. Itu loh, tidur yang cuma terlelap sebentar terus kebangun lagi. Gitu terus selama satu jam.

Semacam tidur. Bangun. Guling-guling lagi. Cek twitter. Ubah lagu yang lagi muter di hp. Semacam tidur. Duduk. Liat sekeliling gelap. Matiin lagu. Guling-guling lagi. Semacam tidur. Melek lagi.

Tuhaaaan…. >///<

Akhirnya saya malah twitteran lagi, kepo liat-liat profil orang sampai akhirnya batre hp abis. Lalu saya terdiam sendiri di kegelapan…. *halah*

Orang satu rumah udah pada tidur. Saya masih bengong.

Orang yang ngeronda udah ngetokin tiang listrik dua kali. Saya masih bengong.

Ya bengong aja gitu, nggak ada yang diliat juga secara gelap banget. Mau galau-galauan juga nggak ada yang digalauin. Mau mikir judul skripsi juga nge-blank. Ya udah bengong aja sambil berharap saya akhirnya ketiduran karena capek bengong. (ups)

Under My Umbrella

purple umbrella

payung saya juga ungu loh *penting*

Malem-malem, di tengah hujan, berdiri sambil payungan di pinggir jalan yang sepi….

Bukan, bukan galau. Saya laper, lagi nungguin tukang nasi goreng selesai bikinin pesenan saya. (haha)

gambar dicomot dari sini

Sekedar Selingan

Rasanya sudah cukup lama saya mengkhianati blog ini. Entri terakhirnya tertanggal 28 Februari 2011, dan postingan bersambung tentang perjalanan Malang-Solo-Jogja juga belum selesai sampai sekarang.

Dalihnya sih sebenernya lagi banyak tugas, dan hal-hal lain di luar tugas yang juga harus dikerjain. Tapi selain itu kayaknya juga karena main game terus sampai-sampai nggak ada waktu buat nulis-nulis lagi. Kalau nggak menugas ya main game, diselingin Plurukan, terus blog nggak keurus.

Tapi lagi…. Saya jadi sadar satu hal lagi. Akhir-akhir ini menulis di blog terasa sedikit susah.  Mungkin terbiasa nulis pendek-pendek di Plurk, dan merasa semua udah diceritain, terus mau ngomong apa lagi di blog jadi bingung. Kalau mau nulis sekarang kebanyakan mikir dulu (kalau dulu mikirnya lebih sedikit (haha) ), layak apa nggak diposting. Kadang-kadang draft udah jadi, tapi kok merasa kalau yang ditulis terlalu personal terus akhirnya cuma disimpen aja di draft tapi nggak di publish. Kok jadi repot…. (pouty)

Saya kangen nulis sebenernya. Kangen ngetik dan membiarkan apa yang ada di kepala saya keluar semua, terus setelah itu lega. Kangen bisa nulis postingan panjang ga penting, atau sekedar review buku dan film yang saya baca. Bahkan untuk review film dan buku aja semakin malas, semakin nggak tau mau cerita apa. Padahal saya hobi sebar-sebar spoiler cerita di sini. (haha)

Ah, sudahlah, mungkin saya memang lagi kena sindrom males nulis, semoga tidak berlanjut menjadi hiatus panjang, dan entri yang ini nggak sekedar mengisi absen bulan Maret. (bye)

Antara Saya, Tisu, Pohon, Staf, dan Ingus

Beberapa hari yang lalu, di suatu pagi sebelum rapat departemen saya dimulai, kira-kira terjadi percakapan seperti ini antara saya dan salah seorang staf:

Saya: *ngeluarin tisu*

Staf: “Ih, Mbak kok pake tisu sih?”

Saya: “Eh?” *memandang bingung*

Staf: “Nggak green amat sih. Go green dong. Coba bayangin berapa banyak pohon yang ditebang demi tisu ini. Bayangin, Mbak, bayangin! Gimana sih? Biasain bawa sapu tangan ah, Mbak. Atau Mbak mau nanam satu pohon setiap Mbak pake satu lembar tisu? Hayo, berapa banyak pohon yang sudah Mbak tanam?”

Saya: “…”

dan nggak, saya nggak melebay-lebaykan bagian ucapan si staf, dia beneran ngomong begitu walaupun mungkin nggak setepat kata-kata aslinya.

saya dan tisu, kawan tak terpisahkan…

Saya Ingin Pergi… dan Tak Kembali

Malam yang sama, seperti halnya berminggu dan berbulan yang lalu. Seperti yang mulai sering saya rasakan sejak lebih dari 240 hari yang lalu. Tersadar dalam perasaan frustasi, ingin lari, ingin kabur, ingin menghilang. Jika saja tak tersadar dengan kewajiban empat bulan ke depan.

Maka pengecutlah saya jika kabur di tengah jalan, meninggalkan yang ada dan tak menoleh kembali. Walau tahu bahwa langkahnya tak lagi seringan dulu.

Ada hal-hal tertentu, yang saya tak pernah tahu, adalah konsekuensi dari pilihan saya ketika di semester awal dulu. Saya tak pernah tahu, dan tentu tak ada yang berbaik hati memberitahu. Bukan hanya sekedar tanggung jawab biasa dan jabatan biasa.

Saya, tak ingin menjadi bagian dari semua itu, jika saja saya tahu ada sesuatu yang lain di sini. Jika saya tahu, mungkin saya tak akan pernah mengembalikan selembar kertas itu ke sana. Tapi itu hanya tinggal sebuah pengandaian yang tak berarti. Karena tentu saja saya mengetahui semuanya setelah terjerumus lebih dalam.

Saya tak sama seperti mereka. Saya tak yakin seperti mereka. Saya bahkan tak tahu kenapa saya berada di sana ketika masa itu datang. Berbulan-bulan terakhir saya mendoktrin diri bahwa this is for a greater good. Tapi hati saya terus berontak, dan saya teringat salah seorang dari mereka pernah becerita alasannya bertahan:

“karena hati yang terasa nyaman ada di sini…”

Lalu saya seakan tertampar, bahwa saya tidak seperti itu. Saya mencoba mundur perlahan, menolak perlahan, tapi sulit. Saya juga ternyata terlalu pengecut untuk berkata dengan jujur bahwa saya sudah tidak mau lagi berada di sini. Entah karena tekanan secara halus yang telah mendoktrin saya bahwa saya adalah orang yang GAGAL, jika saya tidak terus ada di sana, atau karena saya yang terlalu takut akan pandangan orang lain terhadap saya jika saya benar-benar berhenti. Atau mungkin keduanya. Kemungkinan besar memang keduanya.

padahal saya benar-benar ingin berhenti…