Archive for category Board
Kisah di Balik Jendela #1
Seperti yang rasanya sudah sering saya bilang entah di blog ini atau di status jejaring sosial lain, kamar saya itu letaknya paling depan di kosan. Ada tiga jendela yang menghadap ke luar yang membuat saya bisa mendengar percakapan orang yang ada di teras dan halaman depan. Kadang saya bisa kesel sendiri kalau mereka lagi berisiknya masya Allah, lupa kalau suara mereka bisa kedengeran dari dalam, kadang lucu dengerin orang pacaran, bahkan orang berantem.
Akhirnya berkat ide si Fifi, saya mau bikin rangkain postingan random tentang apa aja yang pernah terjadi di balik jendela kamar ini.
Kayak beberapa siang yang lalu, waktu saya lagi berkutat bikin desain di dalam kamar, satu pasangan yang lagi pacaran tepat di depan kamar saya yang beberapa saat yang lalu masih adem ayem aja tiba-tiba berantem. Si cewek sepertinya merasa kurang diperhatikan karena si cowok nggak tanya-tanya dia kalau pergi jalan sama siapa aja. Ini lumayan aneh buat saya sih, biasanya orang sebel kalau kebanyakan ditanya, lah dia malah pengen ditanyain terus. Ujung-ujungnya si cowok marah, dan si cewek membujuk sambil masih terdengar ngambek juga.
Eeeeh… ujug-ujug terdengar suara gitar dan orang yang menyanyi dengan cempreng di depan…
“aku lelaki tak mungkin menerima~ bila ternyata kau mendua~”
Kontan si cowok langsung tambah bete dan ngusir pengamennya.
Macet
Macet itu nggak cuma bisa terjadi di jalan, di dalam kosan aja bisa macet.

tempat naro motor di kosan yang tepat di depan kamar
Semester ini yang bawa motor di kosan tambah banyak. Hampir setiap pagi di hari kuliah kalau buka kamar langsung disuguhi pemandangan motor berjejalan, kadang ada yang sampe maju banget tinggal nyisain jarak nggak sampe setengah meter dari pintu kamar saya.
Ini belum dihitung sama motor-motor yang diparkir di deket tangga ke lantai dua yang juga artinya nempatin lorong buat ke dapur dan kamar mandi. Untung saya kurus dan langsing jadi bisa nyelip-nyelip. *dilempar bakiak*
Loteng
Mejeng di loteng setelah selesai menjemur cucian itu kegiatan yang menyenangkan. Melihat langit yang biru sebiru-birunya langit, menertawakan gumpalan-gumpalan uap air yang membuat bentuk-bentuk aneh, memandangi gunung dan kotak-kotak atap rumah di kejauhan yang terlihat seperti mainan. Melupakan dunia yang sedang tidak ramah beserta seluruh manusia di dalamnya.

ada bangunan baru, yang menghalangi separo gunung dari pandangan :(
Makanya saya kaget ketika tiba-tiba, di suatu hari ketika saya membawa seember cucian untuk dijemur, ada bangunan tinggi yang menghalangi pandangan saya. Kotak-kotak kecil rumah mainan itu tidak akan terlihat sejelas sebelumnya lagi.
Makanan Makanan Makanan
Selain tragedi terkunci rupanya Minggu saya tak begitu buruk. Dia mengganti sepuluh menit kepanikan saya di atas dengan hal-hal menyenangkan lainnya.
Contohnya saja si penghuni kamar sebelah yang tadi membuat saya terkunci di loteng. Pulang-pulang begitu saya beritahu kalau tadi saya terkunci gara-gara dia, orangnya langsung minta maaf dan ngasih saya brownis blueberry-nya Amanda.

aslinya sekotak es krim, udah saya makan separo =9
Lalu sekitar jam dua, adek kelas saya sewaktu SMA yang kuliah di Malang juga datang membawakan Cream Soup dan Makaroni Tumis Daging. Padahal itu cuma gara-gara becandaan di status fesbuk, tapi dibawain beneran dan malah ngobrol soal jalan-jalan.

makaroi tumis daging dan cream soupnya =9
Alhasil rencana keluar sore-sore buat nyari makan malam batal, kekekeke….
Hampir Sepuluh Menit
Padahal nggak sampai tiga menit yang lalu kamu mengambil semua jemuranmu sambil mengobrol sama saya, lalu kemudian pamit duluan turun ke lantai satu. Tapi dalam jangka waktu itu kayaknya kamu sudah melupakan bahwa ada satu orang yang lagi sibuk jemur baju di atas, dan mengunci pintu loteng dengan teganya.
Untung saja biarpun kebanyakan penghuni kosan sedang pulang kampung masih ada dua orang yang tersisa di lantai dua, jadi teriakan dan gedoran saya yang minta tolong dibukakan tidak sia-sia belaka, dan hari Minggu saya juga tidak ikut jadi sia-sia belaka. Setelah hampir sepuluh menit tentunya.
Ah, kamu tidak tahu ya kalau saya tadi bingung memikirkan jalan keluar dari loteng itu? Mau loncat-loncat kanan kiri isinya loteng orang semua. Saya juga nggak pake kerudung kalau memang saya berani loncat-loncat atap sampai menemukan balkon rumah orang. Mau menghubungi orang saya nggak bawa hp. Kan namanya juga mau jemur baju, ngapain saya bawa hp segala? Hampir saja saya berniat untuk mendobrak pintu seng itu kalau tidak kunjung ada juga orang yang membukakan dalam waktu dekat. Kan masa saya harus menunggu ada orang yang perlu ke loteng yang mungkin entah kapan baru datang?
Ah, kayaknya kamu nggak tau. Soalnya ketika saya sudah berhasil keluar saya lihat kamu sudah pergi lagi entah kemana, sepertinya tanpa beban sekali. Saya anggap saja kamu lupa ya kali ini. Tapi lain kali saya nggak akan lupa kalau-kalau kita bareng-bareng lagi berurusan di loteng, dan mengecek pintu kalau kamu turun duluan.
