Bukannya saya tidak peduli sih, kalau kamu kesulitan dengan aplikasi yang tidak mau jalan, yang harus diganti, yang tidak mau diinstall, yang bahkan diekstrak saja tidak mau, dan segala macam masalah lain yang kadang ketika kamu bercerita saya cuma bisa mengeluarkan suara “ooh” sambil mengangguk-angguk pelan karena tidak begitu mengerti detail jaringan yang kamu bicarakan. I do care... terlebih sebagai bagian dari komplotan empat orang yang sama-sama belum hengkang juga dari tempat ini. Cuma masalah waktu, sesungguhnya. Waktu dan frekuensi.
Kamu sering kali masuk dengan semua keluhanmu yang segunung di saat saya sedang menatap putus asa layar putih yang isinya bahkan belum sampai separuh. Atau ketika saya sedang memegang stabilo oranye di satu tangan dan sepotong fotokopian di tangan lainnya disertai rambut acak-acakan dan otak yang mau meledak.
Terkadang, kamu masuk dengan membawa seluruh perangkatmu dan duduk di karpet kamar sampai jauh malam. Lalu kamu merasa bahwa suasana terlalu hening setiap sepuluh menit sekali dan pada akhirnya selalu berhasil menemukan sesuatu untuk dikeluhkan. Respon singkat dan pandangan kosong ke arah layar di saat saya sedang berusaha meraba-raba apa yang sedang saya kerjakan sebelum terpotong oleh suaramu jelas-jelas bukan senjata yang ampuh buat menangkal semua itu.
Hingga pada akhirnya saya menyerah, dan melemparnya ke sudut prioritas entah sebelah mana. Mungkin saya butuh istirahat sebentar, kata saya sambil mulai memutar satu episode serial TV atau anime. Tapi kamu seperti menolak untuk memberikan saya ketenangan.
Saya sudah kehilangan hitungan, berapa kali dalam rentang waktu anime yang cuma setengah jam, atau serial TV yang berdurasi 45 menit itu suaramu menginterupsi, memaksa saya untuk memencet tombol pause. Mengagumkan sekali, betapa kamu selalu saja punya sesuatu untuk ditanyakan, diprotes, dan dikeluhkan dalam rentang waktu yang cuma sebentar. Mengagumkan betapa kamu tidak bisa duduk tenang selama rentang waktu yang cuma sebentar itu, dan menyimpan semua yang ingin kamu suarakan di belakang kepalamu sampai episode yang sedang saya tonton selesai diputar. Dan sampai sekarang saya tidak bisa memahami bagaimana caranya kamu bisa menikmati dan mengerti apapun yang kamu tonton kalau selama durasinya kamu terus menerus berbicara.
Lalu saya pada akhirnya menyerah lagi. Mematikan VLC meskipun belum selesai, menyalakan scheduler IDM, dan beringsut pasrah ke dalam selimut. Berharap ketika saya bangun pukul tiga pagi nanti saya bisa menemukan ketenangan.
And all of these… are repeated like a broken record every now and then. I wonder how many times it needs to happen before I snapped.



