Blog Archives

Broken Nights

Bukannya saya tidak peduli sih, kalau kamu kesulitan dengan aplikasi yang tidak mau jalan, yang harus diganti, yang tidak mau diinstall, yang bahkan diekstrak saja tidak mau, dan segala macam masalah lain yang kadang ketika kamu bercerita saya cuma bisa mengeluarkan suara “ooh” sambil mengangguk-angguk pelan karena tidak begitu mengerti detail jaringan yang kamu bicarakan. I do care... terlebih sebagai bagian dari komplotan empat orang yang sama-sama belum hengkang juga dari tempat ini. Cuma masalah waktu, sesungguhnya. Waktu dan frekuensi.

Kamu sering kali masuk dengan semua keluhanmu yang segunung di saat saya sedang menatap putus asa layar putih yang isinya bahkan belum sampai separuh. Atau ketika saya sedang memegang stabilo oranye di satu tangan dan sepotong fotokopian di tangan lainnya disertai rambut acak-acakan dan otak yang mau meledak.

Terkadang, kamu masuk dengan membawa seluruh perangkatmu dan duduk di karpet kamar sampai jauh malam. Lalu kamu merasa bahwa suasana terlalu hening setiap sepuluh menit sekali dan pada akhirnya selalu berhasil menemukan sesuatu untuk dikeluhkan. Respon singkat dan pandangan kosong ke arah layar di saat saya sedang berusaha meraba-raba apa yang sedang saya kerjakan sebelum terpotong oleh suaramu jelas-jelas bukan senjata yang ampuh buat menangkal semua itu.

Hingga pada akhirnya saya menyerah, dan melemparnya ke sudut prioritas entah sebelah mana. Mungkin saya butuh istirahat sebentar, kata saya sambil mulai memutar satu episode serial TV atau anime. Tapi kamu seperti menolak untuk memberikan saya ketenangan.

Saya sudah kehilangan hitungan, berapa kali dalam rentang waktu anime yang cuma setengah jam, atau serial TV yang berdurasi 45 menit itu suaramu menginterupsi, memaksa saya untuk memencet tombol pause. Mengagumkan sekali, betapa kamu selalu saja punya sesuatu untuk ditanyakan, diprotes, dan dikeluhkan dalam rentang waktu yang cuma sebentar. Mengagumkan betapa kamu tidak bisa duduk tenang selama rentang waktu yang cuma sebentar itu, dan menyimpan semua yang ingin kamu suarakan di belakang kepalamu sampai episode yang sedang saya tonton selesai diputar. Dan sampai sekarang saya tidak bisa memahami bagaimana caranya kamu bisa menikmati dan mengerti apapun yang kamu tonton kalau selama durasinya kamu terus menerus berbicara.

Lalu saya pada akhirnya menyerah lagi. Mematikan VLC meskipun belum selesai, menyalakan scheduler IDM, dan beringsut pasrah ke dalam selimut. Berharap ketika saya bangun pukul tiga pagi nanti saya bisa menemukan ketenangan.

And all of these… are repeated like a broken record every now and then. I wonder how many times it needs to happen before I snapped.

Galak

kucing

Kenapa, kucing sayang, kenapa? Kenapa sampai sekarang kamu nggak mau saya uwel-uwel? Kenapa kamu harus galak sama saya? ><

Kisah di Balik Jendela #1

Seperti yang rasanya sudah sering saya bilang entah di blog ini atau di status jejaring sosial lain, kamar saya itu letaknya paling depan di kosan. Ada tiga jendela yang menghadap ke luar yang membuat saya bisa mendengar percakapan orang yang ada di teras dan halaman depan. Kadang saya bisa kesel sendiri kalau mereka lagi berisiknya masya Allah, lupa kalau suara mereka bisa kedengeran dari dalam, kadang lucu dengerin orang pacaran, bahkan orang berantem.

Akhirnya berkat ide si Fifi, saya mau bikin rangkain postingan random tentang apa aja yang pernah terjadi di balik jendela kamar ini. :D

Kayak beberapa siang yang lalu, waktu saya lagi berkutat bikin desain di dalam kamar, satu pasangan yang lagi pacaran tepat di depan kamar saya yang beberapa saat yang lalu masih adem ayem aja tiba-tiba berantem. Si cewek sepertinya merasa kurang diperhatikan karena si cowok nggak tanya-tanya dia kalau pergi jalan sama siapa aja. Ini lumayan aneh buat saya sih, biasanya orang sebel kalau kebanyakan ditanya, lah dia malah pengen ditanyain terus. Ujung-ujungnya si cowok marah, dan si cewek membujuk sambil masih terdengar ngambek juga.

Eeeeh… ujug-ujug terdengar suara gitar dan orang yang menyanyi dengan cempreng di depan…

“aku lelaki tak mungkin menerima~ bila ternyata kau mendua~”

Kontan si cowok langsung tambah bete dan ngusir pengamennya. (rofl)

Macet

Macet itu nggak cuma bisa terjadi di jalan, di dalam kosan aja bisa macet.

motor

tempat naro motor di kosan yang tepat di depan kamar

Semester ini yang bawa motor di kosan tambah banyak. Hampir setiap pagi di hari kuliah kalau buka kamar langsung disuguhi pemandangan motor berjejalan, kadang ada yang sampe maju banget tinggal nyisain jarak nggak sampe setengah meter dari pintu kamar saya.

Ini belum dihitung sama motor-motor yang diparkir di deket tangga ke lantai dua yang juga artinya nempatin lorong buat ke dapur dan kamar mandi. Untung saya kurus dan langsing jadi bisa nyelip-nyelip. *dilempar bakiak*

Loteng

Mejeng di loteng setelah selesai menjemur cucian itu kegiatan yang menyenangkan. Melihat langit yang biru sebiru-birunya langit, menertawakan gumpalan-gumpalan uap air yang membuat bentuk-bentuk aneh, memandangi gunung dan kotak-kotak atap rumah di kejauhan yang terlihat seperti mainan. Melupakan dunia yang sedang tidak ramah beserta seluruh manusia di dalamnya.

langit

ada bangunan baru, yang menghalangi separo gunung dari pandangan :(

Makanya saya kaget ketika tiba-tiba, di suatu hari ketika saya membawa seember cucian untuk dijemur, ada bangunan tinggi yang menghalangi pandangan saya. Kotak-kotak kecil rumah mainan itu tidak akan terlihat sejelas sebelumnya lagi. :(