Blog Archives

Hampir Sepuluh Menit

Padahal nggak sampai tiga menit yang lalu kamu mengambil semua jemuranmu sambil mengobrol sama saya, lalu kemudian pamit duluan turun ke lantai satu. Tapi dalam jangka waktu itu kayaknya kamu sudah melupakan bahwa ada satu orang yang lagi sibuk jemur baju di atas, dan mengunci pintu loteng dengan teganya.

Untung saja biarpun kebanyakan penghuni kosan sedang pulang kampung masih ada dua orang yang tersisa di lantai dua, jadi teriakan dan gedoran saya yang minta tolong dibukakan tidak sia-sia belaka, dan hari Minggu saya juga tidak ikut jadi sia-sia belaka. Setelah hampir sepuluh menit tentunya.

Ah, kamu tidak tahu ya kalau saya tadi bingung memikirkan jalan keluar dari loteng itu? Mau loncat-loncat kanan kiri isinya loteng orang semua. Saya juga nggak pake kerudung kalau memang saya berani loncat-loncat atap sampai menemukan balkon rumah orang. Mau menghubungi orang saya nggak bawa hp. Kan namanya juga mau jemur baju, ngapain saya bawa hp segala? Hampir saja saya berniat untuk mendobrak pintu seng itu kalau tidak kunjung ada juga orang yang membukakan dalam waktu dekat. Kan masa saya harus menunggu ada orang yang perlu ke loteng yang mungkin entah kapan baru datang?

Ah, kayaknya kamu nggak tau. Soalnya ketika saya sudah berhasil keluar saya lihat kamu sudah pergi lagi entah kemana, sepertinya tanpa beban sekali. Saya anggap saja kamu lupa ya kali ini. Tapi lain kali saya nggak akan lupa kalau-kalau kita bareng-bareng lagi berurusan di loteng, dan mengecek pintu kalau kamu turun duluan.

Balada Seember Cucian

Rendeman cucian dari jaman purba yang untungnya belum lumutan karena lupa terus mau nyuci. (hassle)

ember biru

fay fay, kapan kamu mau nyuci heh?

Akhirnya barusan saya cuci juga itu rendeman, berhubung Minggu ini mau berangkat ke Surabaya buat PKL, dan gimana ceritanya mau ngepak barang kalau yang mau dipak masih basah-basah di dalam ember. (doh)

Selesai nyuci dan jemur-jemur saya malah nangkring di lantai tiga kosan, alias loteng, alias tempat jemuran, liat-liat langit. Bagus sih kalau diliat dari situ, keliatan rumah kecil-kecil sama pegunungan di kejauhan. :D Ujung-ujungnya saya ngambil hape buat foto-foto pemandangan, sampai manjat-manjat. (haha)

foto langit

UB difoto dari loteng tempat jemuran di kos saya xP

Ah, iya, berhubung lagi posting foto-foto nggak penting ini, sekalian mau tanya kalau-kalau ada yang tau kenapa sotosop saya akhir-akhir ini error. Jadi saya nggak bisa masukin teks sama sekali di situ. Udah aktifin Type Tool, mulai ngetik, tapi nggak ada yang muncul. Pas diliat, Font Size-nya kalau nggak minus ya terlalu besar, tapi kalau dibenerin, selalu muncul peringatan Invalid Numeric bla bla bla. Udah dicoba Shift+Ctrl+Alt buat reset, dan sempet berhasil sekali. Eh, abis itu terjadilah hal yang sama dan cara tadi nggak ampuh lagi. (pouty)

Buat foto-foto di atas saya ngeditnya kopas teks dari file psd lain. Itupun ga bisa ngubah ukuran tulisan dengan cara normal, akhirnya pake free transform. (pouty)

Anyone? Om Eru? Om Tama? Lukman? :-((

Random Thoughts

Saya bosan makan nasi. Saya bosan makan mie. Dan saya lebih bosan lagi cuma makan cemilan untuk mengganjal perut.  Mau tidak mau akhirnya saya terpaksa keluar, setelah mengenyahkan semua kemalasan, mencari penjual entah apa yang kira-kira sedang tidak bosan saya makan. Jualannya maksudnya, bukan penjualnya yang saya makan. (okok) Lagipula air di galon sudah menipis sementara botol air mineral ukuran besar yang saya beli sehari sebelumnya juga sudah habis. Dan malam ini saatnya mengambil jahitan yang sudah seminggu saya tinggalkan di tukang jahit, walaupun si tukang jahit sudah bilang kalau dia hanya perlu waktu dua hari untuk menyelesaikan baju-baju yang saya taruh di sana.

Dingin. Sepanas apapun Malang di siang hari, biasanya udara akan mendingin begitu malam turun.

Ketika saya sampai di tukang jahit, ibu-ibu tukang jahitnya rupanya sampai melupakan dimana menaruh salah satu rok saya karena saya tidak muncul mengambilnya sampai seminggu kemudian. Jadi setelah mencari-cari di dalam rak, di atas tumpukan kain di atas mesin jahit, sambil berulang kali berkata, “aduh, dimana sih, aku inget kok rok itu,” rupanya rok saya terjatuh ke kolong mesin yang berdebu. (haha) Ah, sudahlah, memang sudah waktunya rok yang satu itu dicuci.

Selesai dari sana, tujuan berikutnya jadi random, karena sebenarnya saya tidak tahu apa yang mau dibeli selain air mineral ukuran besar. Akhirnya tidak jauh-jauh, saya berakhir di depan tukang sate di depan TK, di depan toko kelontong yang menjual air mineral. Nggak, cerita ini nggak akan berakhir dengan cerita horor saya berubah jadi sundel bolong dan bilang, “Bang, satenya seratus tusuk, Bang”. Lagipula yang jual sate nggak bisa dipanggil “Bang” soalnya perempuan.

Kali ini saya pergi tanpa membawa hp untuk menyibukkan saya sementara menunggu tukang sate yang sibuk mengipasi sate yang terbakar pelan-pelan. Jadi saya cuma duduk di sana, memandangi orang lalu lalang, deru motor, dan kesibukan di sekitar saya. Daerah ini masih lumayan ramai sehabis Maghrib, tidak sesunyi jika saya sedang keluar pukul delapan ke atas untuk mencari makan. Dan tentu saja tidak sesunyi pukul delapan ke atas di akhir Minggu ditambah bonus hujan rintik-rintik. Tapi pikiran saya melayang ke percakapan dengan sahabat saya malam sebelumnya lewat baris-baris teks singkat di hp kami masing-masing.

Hey, this is one of the time we talked about last night. But something you said to me , about what your friend said, it really slapped me hard anyway. Deep down we know she’s so damn right. We’re grown up enough already to choose what’s wrong and what’s right. But still…. Right, darl?

Dan sesuatu yang saya lupakan setelah waktu berlalu sekian lama tiba-tiba merayap kembali ke dalam pikiran saya, seperti cicak yang saya benci yang merayap di balik lemari di kamar kosan saya. Hari ketika saya mengirim baris-baris teks kepanikan kepada sahabat saya yang lain lagi karena seseorang yang tiba-tiba muncul.

Mungkin karena tidak biasanya malam lalu namanya muncul di daftar Y!M saya….

Kapan Pindah?

Adek Kos: “Mbak, kamar Mbak ini berapa harganya?”

Saya: *nyebutin harga*

Adek Kos: *uwel-uwel buku yang baru mau dipinjem* “Mbak…”

Saya: “Hmm?”

Adek Kos: “Mbak kapan pindah?”

Saya: “…”

*senyum malaikat*

“Nggak tau, ya. Sampai lulus palingan.”

*masih senyum malaikat*

“Emang kenapa? Sinyalnya bagus, ya, di sini?”

Adek Kos: “Iya, Mbak.”

Saya nggak marah atau gimana sih. Cuma sedikit kaget dan geli, kok ya itu anak ngomongnya langsung blak-blakan gitu, nanya saya kapan pindah supaya dia bisa nempatin kamar saya sekarang. (ninja)

Anoo, sepertinya sih selama masih di kosan yang ini, Insya Allah nggak mau pindah kamar. Selain karena sinyal yang udah bagus untuk lantai bawah (yang mana saya nggak mau pindah ke atas karena berisiknya ampun-ampunan), siapa yang mau ngangkut barang-barang seabrek-abrek untuk pindahan? Itu buku yang tumplek blek di lemari sampai bingung mau dikemanain lagi, siapa coba yang mau ngangkat. (doh) Saya mah males ngangkatin lagi dalam waktu dekat ini. (coldsweat)

Paku, Payung, dan Jendela

Anak kosan, selalu menemukan cara tak terduga di tengah kemalasan keterbatasan. (okok)

Kamar saya, seperti yang dulu pernah saya ceritakan waktu baru pindah kamar, terletak di bagian rumah paling depan. Keuntungan yang dimiliki kamar-kamar itu adalah pasokan cahaya yang bagus, karena jendela yang langsung menghadap ke luar dan bukannya ke bagian dalam rumah.

Ada tiga jendela besar yang bisa dibuka. Iya,  saya serius nulis kalimat tadi, bisa dibuka.  :D Kan ada tuh jendela yang cuma sebatas kaca doang dan nggak bisa dibuka, kayak di kamar mandi biasanya itu. (haha) FYI, jenis jendela saya ini yang engselnya di atas. :D Jadi berhubung bisa dibuka dan langsung menghadap ke luar, seperti layaknya pemilik kos yang baik dan sadar bahwa daerah kosan memang rawan maling dalam segala macam bentuk, maka jendelanya dipasangi teralis. Oh, dan tentu saja gorden. Tega bener kalau nggak ada gorden, gimana kalau malam-malam ada yang nemplok di jendela saya? :(( *contohnya cicak* (ninja)

dan semoga saya tidak akan pernah melihat binatang itu nemplok di jendela saya…