Blog Archives

Hari Pertama Tahun Baru

Malang Town Square kala tahun baru itu padat merayap. Manusia tumpah ruah dari mulai pintu depan sampai pojokan food court. Kebanyakan rombongan keluarga, bersama anak kecil yang merengek entah minta apa sementara si bapak membujuk untuk pergi ke Gramedia saja.

Tadi pagi sebenarnya tidak ada rencana kemana-mana. Lalu kemudian sadar kalau saya belum beli agenda 2013. Gara-gara terakhir kali ke Togamas cuma menemukan stok agenda lama bergambar Winnie the Pooh dan Barbie yang plastiknya sudah terbuka dan pinggirannya mulai menghitam, saya sampai lupa. Sempat terpikir untuk mencari majalah yang bonusannya agenda, tapi kemudian sampai tahun berganti belum juga dilakukan.

Sejak kuliah memang saya terbiasa memakai agenda. Kegiatan lumayan banyak, kuliah, tugas-tugas, praktikum, organisasi di kampus dan di luar kampus, dan lain-lain, sementara saya orangnya suka lupaan. Ditulis di agenda saja kadang-kadang masih bisa lupa. Tapi masih mending daripada nggak usaha sama sekali biar nggak lupa, kan? Hahahaha.

Anyway, setelah terpana sebentar di pintu depan sambil menunggu mobil lewat, saya langsung menyelam di antara lautan manusia, turun ke lantai bawah lewat eskalator di depan Gramedia karena eskalator yang di tengah penuh. Lagipula eskalator ini jaraknya lebih dekat ke stand majalah. Sampai di sana ternyata majalah-majalah dengan bonusan agenda sudah habis. Salah juga memang baru dicari sekarang. Ada sih, satu majalah berbonus agenda, tapi agenda pertumbuhan kehamilan, hadiahnya Cosmopolitan Pregnancy. Pfftt.

(more…)

23.12.2012

Togamas sedang diskon liburan dan akhir tahun. Seperti biasa, ini adalah godaan yang sangat susah ditolak. Belum lagi beberapa hari sebelumnya Lidya memberitahu saya kalau semua buku Harry Potter sedang didiskon 40%. Saya memang sedang mencari buku pertama, kedua, dan ketiga. Koleksi saya rusak sejak beberapa tahun yang lalu karena proses pinjam meminjam yang tidak jelas.

Kebetulan hari Minggu kemarin saya berulang tahun, so I decided to treat myself to books. :p

buku-buku yang akhirnya dibawa pulang

Acara sebelum ke Togamas adalah nonton 5cm bareng Ismi dan Amri. Saya sudah pernah cerita, kan, kalau beberapa minggu terakhir bioskop selalu saja penuh? Untungnya kami berhasil dapat tiket untuk siang itu. Dan saya harus bilang, sebagai orang yang suka sekali dengan bukunya, filmnya pun ternyata tidak mengecewakan. Beberapa adegan ketika mereka memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga bulan jatuhnya agak datar. Tapi cuma bagian itu, dan jauh membaik ketika perjalanan ke Semeru dimulai.

(more…)

Sindrom

Seminggu belakangan ini, mendapatkan tiket bioskop di Malang rasanya sesusah mencari pom bensin yang buka di Banjarmasin ketika bensin sedang langka. Ada dua pilihan kekecewaan. Datang dan langsung mendapati tulisan tiket habis, atau masuk ke antrian panjang mengular yang kemudian bubar jalan ketika kamu tinggal lima langkah dari konter tiket. Dua-duanya kami alami malam itu, di dua bioskop yang berbeda. Empat orang suntuk yang butuh pelarian.

Pada akhirnya kami terduduk di sofa sebuah kafe, berteduh dari hujan yang mulai turun, membicarakan segala hal mulai dari betapa jarangnya bertemu teman-teman kuliah, sampai rencana bertahun-tahun ke depan. Lalu pembicaraan mulai menyerempet ke daerah pernikahan.

Sindrom usia 20, kata kami biasanya.

Mereka-mereka yang sudah lulus dan mulai bekerja, akhir-akhir ini cenderung membicarakan pernikahan. Salah satu teman yang sudah bekerja di Jakarta, terkadang mengirim pesan IM tidak jelas. Kesepian. Satu orang lagi yang padahal tetap di Malang, yang merupakan salah satu dari empat orang suntuk malam itu, juga mengalami sindrom meingirimkan pesan IM tidak jelas. Kesepian. Lalu Fifi, salah satu dari tiga orang suntuk lain yang belum juga lulus di meja kafe malam itu, menceritakan rencananya untuk beberapa tahun ke depan, kemudian bertanya pada diri sendiri, kapan dia akan menikah di antara semua rencananya tadi.

Si teman yang sudah lulus langsung menyahut, bahwa tidak hanya mereka yang sudah lulus yang memikirkan itu, bahkan yang belum lulus pun sama.

Kenapa? Tanyanya ketika itu. Kenapa orang-orang ingin menikah di usia yang masih muda.

Fifi menjawab bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perempuan, punya masa menopause.

Saya kurang lebih setuju dengan dia.

(more…)

Broken Nights

Bukannya saya tidak peduli sih, kalau kamu kesulitan dengan aplikasi yang tidak mau jalan, yang harus diganti, yang tidak mau diinstall, yang bahkan diekstrak saja tidak mau, dan segala macam masalah lain yang kadang ketika kamu bercerita saya cuma bisa mengeluarkan suara “ooh” sambil mengangguk-angguk pelan karena tidak begitu mengerti detail jaringan yang kamu bicarakan. I do care... terlebih sebagai bagian dari komplotan empat orang yang sama-sama belum hengkang juga dari tempat ini. Cuma masalah waktu, sesungguhnya. Waktu dan frekuensi.

Kamu sering kali masuk dengan semua keluhanmu yang segunung di saat saya sedang menatap putus asa layar putih yang isinya bahkan belum sampai separuh. Atau ketika saya sedang memegang stabilo oranye di satu tangan dan sepotong fotokopian di tangan lainnya disertai rambut acak-acakan dan otak yang mau meledak.

Terkadang, kamu masuk dengan membawa seluruh perangkatmu dan duduk di karpet kamar sampai jauh malam. Lalu kamu merasa bahwa suasana terlalu hening setiap sepuluh menit sekali dan pada akhirnya selalu berhasil menemukan sesuatu untuk dikeluhkan. Respon singkat dan pandangan kosong ke arah layar di saat saya sedang berusaha meraba-raba apa yang sedang saya kerjakan sebelum terpotong oleh suaramu jelas-jelas bukan senjata yang ampuh buat menangkal semua itu.

Hingga pada akhirnya saya menyerah, dan melemparnya ke sudut prioritas entah sebelah mana. Mungkin saya butuh istirahat sebentar, kata saya sambil mulai memutar satu episode serial TV atau anime. Tapi kamu seperti menolak untuk memberikan saya ketenangan.

Saya sudah kehilangan hitungan, berapa kali dalam rentang waktu anime yang cuma setengah jam, atau serial TV yang berdurasi 45 menit itu suaramu menginterupsi, memaksa saya untuk memencet tombol pause. Mengagumkan sekali, betapa kamu selalu saja punya sesuatu untuk ditanyakan, diprotes, dan dikeluhkan dalam rentang waktu yang cuma sebentar. Mengagumkan betapa kamu tidak bisa duduk tenang selama rentang waktu yang cuma sebentar itu, dan menyimpan semua yang ingin kamu suarakan di belakang kepalamu sampai episode yang sedang saya tonton selesai diputar. Dan sampai sekarang saya tidak bisa memahami bagaimana caranya kamu bisa menikmati dan mengerti apapun yang kamu tonton kalau selama durasinya kamu terus menerus berbicara.

Lalu saya pada akhirnya menyerah lagi. Mematikan VLC meskipun belum selesai, menyalakan scheduler IDM, dan beringsut pasrah ke dalam selimut. Berharap ketika saya bangun pukul tiga pagi nanti saya bisa menemukan ketenangan.

And all of these… are repeated like a broken record every now and then. I wonder how many times it needs to happen before I snapped.

Bedanya Dulu dan Sekarang

Dulu, kalau dosen nggak masuk karena ada pelatihan atau urusan lain terus jam kuliah jadi kosong, pasti jadi happy go lucky. Makan ke kantin, internetan di kampus, atau ngegosip nggak jelas kalau jam berikutnya ada kuliah lagi. Kalau hari itu cuma satu mata kuliah, ya pulang, terus guling-guling di kosan sambil main game atau nonton anime.

Sekarang, kalau dosen nggak masuk karena ada pelatihan atau urusan lain, rasanya pengen garuk-garuk dinding. (okok)

- kamar kosan, batal konsul karena dosennya pelatihan