Blog Archives

Sarapan Gratis di National Breakfast Day

Dua hari yang lalu saya lihat tret seseorang di Plurk yang bilang kalau tanggal 18 Maret itu National Breakfast Day. Sesungguhnya saya nggak pernah denger tentang hari sarapan nasional sih. Dan ngomong-ngomong sejak kuliah juga nggak terbiasa sarapan. Kecuali kalau makan jam sepuluhan ke atas itu dihitung sarapan.

Gosip yang beredar tentang National Breakfast Day ini adalah McDonald di seluruh Indonesia bakal menyediakan Egg McMuffin gratis sejak jam lima sampai jam sepuluh pagi buat seribu orang pertama. Kata pacarnya Yolanda, teman kosan saya, iklannya ada di televisi. Tapi berhubung saya nggak punya televisi, dan televisi kosan rusak, dan terlalu malas buat nongkrong di depan televisi punya tetangga kamar cuma buat memastikan promo Egg McMuffin ini beneran ada, saya sempat lupa. Sampai kemudian salah satu Tumblr yang saya follow memposting selebaran promonya besar-besar.

(more…)

Bunkasai

Oleh-oleh dari B-Bunkasai SMA 3 kemaren, selain nyobain ichigo daifuku yang enak. (mmm)

gundam model kit

Gundam Model Kit dari Scale Hobby on Community

Selain stan yang nampilin ini, juga ada yang nampilin hasil gambar anime, nyediain foto yukata, dan berbagai jenis makanan. Salah satu stan bahkan merangkap dengan menyediakan kingyosuku atau goldfish scooping. Saya nggak tau jenis ikan sih, entah itu ikan mas beneran apa bukan. (haha)

Bagian paling keren dari acara menurut saya pas demo kendo. Untuk penampilan band, sepertinya sound-nya sedikit bermasalah jadi suara yang keluar kurang jelas, malah kebanyakan terdengar seperti gumaman. Sudah dua kali saya datang ke acara di sini, sound-nya kok tetap saja begitu. Sebenarnya ada satu acara yang paling saya tunggu, yaitu pertunjukan kabaret dari cosplay group Kosuki. Tapi berhubung acara itu diletakkan di akhir, saya nggak sempat nonton karena sudah harus pulang setelah maghrib. :D

The Wedding

Kepulangan saya ke Bandung yang disertai cerita pengejaran kereta kemarin itu dikarenakan pada hari Minggu-nya, yaitu tanggal 13 Mei, akan dilangsungkan pernikahan paman saya. Beliau ini anak kesembilan, anak terakhir dari nenek dari pihak ibu. Big family, begitu komentar Nagi ketika saya cerita kenapa saya pulang di pertengahan semester, dan kenapa saya tidak bisa ikut kalau anak-anak memutuskan untuk nonton Avengers di akhir pekan.

Ini pernikahan keluarga kedua yang pernah saya ikuti sejak saya bisa mengingat. Pernikahan pertama adalah pernikahan bibi saya, anak ketujuh dari nenek dari pihak ibu, dan itu sudah lama sekali. Anaknya saja sekarang sudah dua, dan yang tertua kira-kira seumuran dengan adik saya yang kedua, yang berarti usianya sekitar dua belas tahun. Saya cuma bisa ingat samar-samar tentang acara itu. Tapi yang jelas, berhubung orangtua saya bekerja di pulau yang berbeda, selama bertahun-tahun berikutnya kami tidak pernah bisa menghadiri acara pernikahan keluarga lagi.

(more…)

New Year’s Night

Saya nggak pernah benar-benar merayakan tahun baru. Kalau di rumah biasanya saya cuma ngeliatin si adek yang heboh mau beli terompet sejak sore, terus dia keluar ikut rame-rame di jalan sama bapak, atau kalau pas nggak ada ya sama om tetangga yang hobi ngajak dia jalan-jalan. Saya sih mendingan nontonin berita flashback kejadian satu tahun yang bakal terlewati atau acara tahun baru lainnya di televisi. I hate crowded places, remember? Dan yang namanya jalanan kalau pas tahun baru pasti penuh orang-orang yang mau ngerayain.

Hal yang saya suka dari tahun baru selain bahwa tanggal 1 Januari adalah tanggal merah, juga karena artinya saya ganti agenda baru. Mulai hari ini agendanya Hoka Hoka Bento bisa dipakai, yay! :p

Anyway, malam tahun baru kemaren tumben-tumbenan saya ada acara sendiri. Anak-anak kelas ngajakin malam tahun baruan di rumah salah satu teman. Simpel sih, bakar-bakar rumah jagung sama pisang di halaman, terus dengerin mercon dan liatin kembang api… yang dipasang sama orang. (haha) Nggak nemu mercon dan kembang api sendiri. (haha)

Menjelang tengah malam, waktu tetangga-tetangga sebelah kedengeran niup-niup terompet, kita yang nggak punya terompet malah bunyiin suara terompet via hp yang dihubungin ke speaker gede. Dari suaranya sih kayaknya tetangga yang itu pengen saingan suara terompet, ngedenger suara terompet sini yang rame sendiri. Yah soalnya tinggal pencet sih, nggak pake niup lagi. (rofl)

It was fun. :D Dari mulai ngobrol nggak jelas, ngegosipin orang, sampai nyanyi-nyanyi lagu-lagu lamanya Sheila on 7, dan kembali ngobrol nggak jelas lagi. Akhirnya semalaman nggak tidur, dan seperti biasa, kalau semalaman nggak tidur mendekati jam enam pagi saya bakal keliyengan sendiri. (lol)

TIF08

sesi foto angkatan buat makrab :))

Thanks for the night. (cozy) Ngomong-ngomong ini udah 2012, kapan kita lulus ceman-ceman? (lol)

Cobek Raksasa

Pernah melihat cobek sebesar ini?

cobek raksasa

cobek raksasa

Gede yah? Nggak kebayang gimana si ibu ngulek bumbu kacang di cobek segede itu sepanjang hari. Saya sih cobek kecil aja udah ga terampil ngehalusinnya. (okok) Namanya orang ga suka masak, hahaha, sukanya cuma bikin kue doang, kalau masak makanan gitu kok males ya. (okok)

Foto itu hasil jepretan di Festival Jajanan Bango yang katanya pertama kali diadain di Malang, di salah satu stan yang saya sekarang sudah lupa apa namanya. Setelah muter-muter satu lapangan bareng si teman, teman, dan teman, lalu kehabisan nasi di salah satu stan ayam bakar, mereka akhirnya menjatuhkan pilihan ke stan ini. Saya yang nggak suka akhirnya milih nasi kebuli. Eeeeh, ternyata nasi kebulinya habis. Akhirnya sate kambingnya doang pake lontong. (haha)

Antrian-antrian terpanjang bisa dilihat di stan yang jual minuman –soalnya hari itu memang panas terik– dan stan yang jual Taro. Ngomong-ngomong saya masih penasaran sama isi kotak Taro yang besar itu, tapi males mencari tau karena antriannya….

Di sana, harga satu makanan diseragamin, Rp 10.000,00. Pertama-tama kita beli kupon seharga segitu di panitia, dan nanti kupon itu yang dipake buat beli makanan di stan-stan yang ada. Setiap satu kupon berarti kita juga dapet satu sachet kecap Bango ukuran kecil, yang tiga orang dari kami memutuskan untuk menyerahkannya ke ibunya Fifi karena tau nggak bakal dipake. Untuk kasus saya dan Ismi, itu jauh lebih baik daripada maksa make cuma buat bikin telor kecap doang terus dibiarin sampai kadaluarsa di rak.

Belakangan, saya baru tau kalau malamnya ada kembang api di festival itu. (pinched) Waaaah, tau gitu kan pengen liat kembang apinya. Mana yang cerita tentang kembang api itu bilang bagus lagi, pake ada kembang api bentuk botol kecap. (haha)