Blog Archives

Retak-retak

Kita sebenarnya sama-sama tahu, berapa liter air mata yang berontak ingin keluar dari dinding-dinding yang kita buat. Tapi pada akhirnya kita memilih untuk berpura-pura tidak melihat, sementara mereka bertransformasi. Menjadi tatapan kosong yang menembus lantai putih pucat. Menjadi batuk-batuk palsu dibalik alasan udara yang mulai mendingin. Menjadi kedutan samar di ujung mulut.

Mungkin kita sedang berusaha menghargai satu sama lain. Menghargai kekuatan yang berusaha ditunjukkan walaupun kita sama-sama tahu bahwa yang lain bisa melihat betapa kita tidak baik-baik saja. Membiarkan masing-masing dari kita menyimpan air matanya, untuk bantal-bantal yang lembab dan gulungan tisu di pojok kamar.

Karena memang tidak ada. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan luka yang sudah ditorehkan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengeringkan air mata yang sumbernya berada jauh di dalam lorong-lorong gelap memori. Di dalam setiap derak kayu, sobekan kertas, tajamnya suara dan perihnya pipi.

Kita cuma bisa berada di sana untuk satu sama lain. Meyakinkan bahwa kita mengerti. Bahwa walaupun mungkin kita akan tetap membawa semuanya sampai mati, kita tidak hancur sendirian. Karena pedihnya ternyata tidak berkurang seperti usia kita dimakan waktu.

Tapi justru karena itu, kan? Justru karena itu kita memutuskan bahwa kita harus bisa berdiri dengan tegak di atas kaki kita sendiri. Seperti mereka yang selalu bisa memeluk kita sambil tersenyum walaupun kita tahu lukanya jauh lebih besar daripada luka kita sendiri. Bahwa kita tidak boleh menggantungkan kelangsungan hidup kita pada orang lain. Seperti mereka yang selalu bisa menatap ke depan demi kita walaupun hatinya retak-retak.

Tentang Tyas, yang Menikah Pertama

Ketika teman-teman saya satu persatu mulai mengabarkan akan menikah, reaksi saya biasanya adalah memberi selamat, kemudian sedikit kepo, kemudian basa-basi kalau orangnya nggak kenal-kenal amat. Tapi ketika sahabat saya sendiri yang akan menikah…

… saya malah freak out. (haha)

Sekitar empat bulan yang lalu, Tyas tiba-tiba bilang kalau pacarnya akan datang melamar. Saya dan Dian yang mendapat kabar itu tentu heboh. Pertama karena kita sama-sama nggak menyangka hubungan mereka seserius itu. Kedua karena… ya heboh aja sih, dia yang pertama menikah di antara kita bertiga.

Tapi di antara kehebohan itu sesungguhnya saya dan Dian sama-sama freak out. Rasanya kayak ada orang yang tiba-tiba jalan di depan kita sambil bawa-bawa spanduk yang mengingatkan kalau umur kita memang sudah di atas dua puluh, dan bagi beberapa orang itu adalah waktunya para perempuan untuk menikah, punya anak, punya keluarga…. Beuh… saya sama Dian yang kerjaannya masih fangirling gini? Dian yang tiap ngeliatin KaiSoo reaksinya “kyaaa kyaaaa anak gueeee“? Saya yang bukannya ngurusin kapan punya pacar malah nungguin kapan OTP saya jadian? Yeah…. (haha) Adanya kita malah nakut-nakutin Tyas yang udah mau nikah di grup Whatsapp.

Ya kalau ditanya pengen apa nggak sih pasti pengen. Tapi ketika datang momen nampar kayak gini jadinya mundur teratur kayak orang nggak siap mental. Masih untung nggak ambil langkah seribu.

Tanggal 16 Juni kemarin Tyas akad nikah. Di Banjarmasin tentu saja. Saya nggak bisa datang, karena dari segi waktu dan finansial nggak memungkinkan. Skripsi belum bener-bener beres, dan tanggal 21 Juni saya juga harus ke Bogor karena kakak sepupu saya akan menikah tanggal 23. Hari Minggu kemarin, saya tumben-tumbenan buka Facebook, dan nangis sendiri melihat foto-foto akad nikah Tyas yang di-upload Dian. Beruntungnya saya masih ada kesempatan datang ke resepsinya Tyas, karena resepsinya baru diadakan antara bulan Juli atau Agustus sehabis lebaran.

Momen nakut-nakutin Tyas udah lewat. Yang ada sekarang Tyas separo curcol separo balas dendam separo ngomporin buat nyusul.

mpret banget lah =))

Pagi-pagi malah ketawa nggak berhenti baca ginian. (rofl)

Hayo yang mau nanya saya kapan ini saya lagi ngepak sepatu hak tinggi buat dibawa ke Bogor, lho, dari wujudnya sih kayaknya sakit kalau dilempar. (haha)

PS. omongan ummi bener, Tyas yang pertama menikah di antara kita bertiga,
jadi kalau menurut Dian saya harus tanya ummi lagi siapa berikutnya

Nothing to See Here, Move Along

Stumble across some parenting article this week. Reading those kind of things hurt. As much as seeing a “seemingly happy harmonic ideal family”. You don’t want to read it because it open some wounds but you want to read it because you want to be better when your time comes.

So you read it anyway…

…and by the time you finished you just want to cry.

and then go to your blog to rant

Sindrom

Seminggu belakangan ini, mendapatkan tiket bioskop di Malang rasanya sesusah mencari pom bensin yang buka di Banjarmasin ketika bensin sedang langka. Ada dua pilihan kekecewaan. Datang dan langsung mendapati tulisan tiket habis, atau masuk ke antrian panjang mengular yang kemudian bubar jalan ketika kamu tinggal lima langkah dari konter tiket. Dua-duanya kami alami malam itu, di dua bioskop yang berbeda. Empat orang suntuk yang butuh pelarian.

Pada akhirnya kami terduduk di sofa sebuah kafe, berteduh dari hujan yang mulai turun, membicarakan segala hal mulai dari betapa jarangnya bertemu teman-teman kuliah, sampai rencana bertahun-tahun ke depan. Lalu pembicaraan mulai menyerempet ke daerah pernikahan.

Sindrom usia 20, kata kami biasanya.

Mereka-mereka yang sudah lulus dan mulai bekerja, akhir-akhir ini cenderung membicarakan pernikahan. Salah satu teman yang sudah bekerja di Jakarta, terkadang mengirim pesan IM tidak jelas. Kesepian. Satu orang lagi yang padahal tetap di Malang, yang merupakan salah satu dari empat orang suntuk malam itu, juga mengalami sindrom meingirimkan pesan IM tidak jelas. Kesepian. Lalu Fifi, salah satu dari tiga orang suntuk lain yang belum juga lulus di meja kafe malam itu, menceritakan rencananya untuk beberapa tahun ke depan, kemudian bertanya pada diri sendiri, kapan dia akan menikah di antara semua rencananya tadi.

Si teman yang sudah lulus langsung menyahut, bahwa tidak hanya mereka yang sudah lulus yang memikirkan itu, bahkan yang belum lulus pun sama.

Kenapa? Tanyanya ketika itu. Kenapa orang-orang ingin menikah di usia yang masih muda.

Fifi menjawab bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perempuan, punya masa menopause.

Saya kurang lebih setuju dengan dia.

(more…)

Creating Mom’s Taste

Sekitar tiga postingan sebelum ini, saya pernah bilang kalau saya akan bercerita tentang kenapa di tengah-tengah semester saya bisa-bisanya berada di rumah, yang padahal jelas-jelas beda satu pulau dengan tempat saya kuliah. Yah, bukannya bakal ada yang nungguin postingan itu juga sih. But anyway…. (haha)

Jadi ceritanya, kedua orang tua saya alhamdulillah berangkat haji tahun ini. Mereka berangkat sekitar akhir September kemarin selama kurang lebih empat puluh harian. Masalahnya adalah, di rumah saya yang di Banjarmasin itu penghuninnya tinggal dua orang, yaitu ummi dan ade saya yang kelas satu SMP. Bapak nggak dihitung karena kerja di luar dan pulang cuma sekitar dua sampai tiga kali setahun. Saya kuliah di Malang, dan ade saya yang kedua ada di Bandung. Ini berarti, ketika ummi sama bapak berangkat haji, yang tersisa tinggal ade bungsu saya.

Karena keluarga besar kami semuanya ada di Jawa Barat, nggak mungkin ada keluarga yang selama empat puluh hari bisa tinggal di rumah buat nemenin si ade dan ngurus rumah seperti halnya orang-orang lain. Akhirnya ummi minta pembantu yang biasanya cuma datang harian buat nginep nemenin ade. Tapi dasarnya dia rada manja yah, dia nggak mau ditinggal sama si bibi doang. (doh)

Setelah kompromi sana sini, diputuskan bahwa akan ada tiga orang berbeda yang nemenin ade di rumah selama orang tua saya naik haji.

(more…)