Mepet. Selalu seperti itu. Kebiasaan buruk yang harus segera dihilangkan sebenarnya.
Kali ini mepetnya lumayan berbahaya karena bisa berakibat saya nggak bisa pulang karena ketinggalan kereta jurusan Malang-Bandung. Lima menit sebelum kereta berangkat saya sampai di stasiun dengan terburu-buru akibat beli oleh-oleh di saat terakhir ditambah ketidakberuntungan dengan pintu depan kosan, yang memilih saat itu untuk berulah dan tidak bisa dibuka kuncinya. Jadi, akhirnya saya pun berjalan ke arah gerbong-gerbong depan sampai kemudian disuruh naik lewat gerbong makan saja sama petugasnya sewaktu saya bertanya mana gerbong saya. Koper yang isinya nggak jelas itu pun juga dibawain sama si petugas. Hehehe, ada enaknya juga telat. *plaaaaaaak*
And then the journey begin…. 18 jam yang diisi dengan tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun, dengerin musik, galau, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun lagi, dan seterusnya. Seriously, apa sih yang bisa dilakukan selama perjalanan itu? I’m not in the mood to read the books I’ve brought along with me anyway.
Kereta kali ini lumayan sepi. Banyak kursi-kursi yang masih kosong. Penumpang di sebelah saya baru naik dari stasiun Kertosono, sekitar lima jam dari stasiun Malang. Itu pun si bapak kemudian memilih duduk di kursi lain yang kosong agar bisa tidur dengan nyaman dan berarti membiarkan saya tidur dengan nyaman pula di kursi saya.
Sering kan ya, mendapati cerita tentang orang-orang yang menggunakan perjalanan panjang untuk menggalau dan melupakan sesuatu? Seperti Raditya Dika di salah satu cerita di Cinta Brontosaurus, ketika dia melakukan perjalan panjang berbekal music player dan sederet lagu untuk melupakan Kebo. Saya sih nggak. Nggak lupa maksudnya. Galaunya sih iya…. Krik….
Teman sekelas semasa SMA, hmm… mungkin masing-masing sudah sibuk dengan kegiatannya, dan ada juga yang tidak sempat datang ke Banjarmasin karena kuliah dan kerja di luar pulau. Cuma yang memang dekat saja yang datang.
Setelah itu baru jalan-jalan ke tempat wisata bareng keluarga, dan pastinya belanja.

Kenapa namanya Resha? Soalnya waktu itu lagi zamannya Rave. Tapi toh dia berakhir dipanggil Echa, dan seperti halnya kebiasaan buruk saya untuk memanggil semua kucing dengan awalan Unyeng, akhirnya dia selau dipanggil Unyeng Echa.

)