Blog Archives

18 Hours

Mepet. Selalu seperti itu. Kebiasaan buruk yang harus segera dihilangkan sebenarnya.

Kali ini mepetnya lumayan berbahaya karena bisa berakibat saya nggak bisa pulang karena ketinggalan kereta jurusan Malang-Bandung. Lima menit sebelum kereta berangkat saya sampai di stasiun dengan terburu-buru akibat beli oleh-oleh di saat terakhir ditambah ketidakberuntungan dengan pintu depan kosan, yang memilih saat itu untuk berulah dan tidak bisa dibuka kuncinya. Jadi, akhirnya saya pun berjalan ke arah gerbong-gerbong depan sampai kemudian disuruh naik lewat gerbong makan saja sama petugasnya sewaktu saya bertanya mana gerbong saya. Koper yang isinya nggak jelas itu pun juga dibawain sama si petugas. Hehehe, ada enaknya juga telat. *plaaaaaaak* (haha)

And then the journey begin…. 18 jam yang diisi dengan tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun, dengerin musik, galau, tidur lagi, bangun lagi, ngelamun lagi, dan seterusnya. Seriously, apa sih yang bisa dilakukan selama perjalanan itu? I’m not in the mood to read the books I’ve brought along with me anyway.

Kereta kali ini lumayan sepi. Banyak kursi-kursi yang masih kosong. Penumpang di sebelah saya baru naik dari stasiun Kertosono, sekitar lima jam dari stasiun Malang. Itu pun si bapak kemudian memilih duduk di kursi lain yang kosong agar bisa tidur dengan nyaman dan berarti membiarkan saya tidur dengan nyaman pula di kursi saya.

Sering kan ya, mendapati cerita tentang orang-orang yang menggunakan perjalanan panjang untuk menggalau dan melupakan sesuatu? Seperti Raditya Dika di salah satu cerita di Cinta Brontosaurus, ketika dia melakukan perjalan panjang berbekal music player dan sederet lagu untuk melupakan Kebo. Saya sih nggak. Nggak lupa maksudnya. Galaunya sih iya…. Krik…. (ninja)

1431 Hijriah

It’s kinda lonely, lebaran kali ini. :-))

Tahun-tahun sebelum saya kuliah, walaupun nggak pulang ke Bandung, masih ada rumah-rumah yang bisa didatangi untuk silaturahmi, teman main masa kecil yang masih seliweran dari satu rumah ke rumah lain di komplek saya, pergi ke rumah teman sekelas rame-rame, atau menunggu ada tamu yang datang ke rumah.

Tahun ini rumah yang bisa didatangi berkurang, salah satunya sudah pindah ke Bandung. Teman sebaya di sekitar rumah juga sudah tidak sedekat dulu, masih sih silaturahmi sehabis shalat ied, tapi nggak yang bakal berlama-lama lagi dan membuat berisik rumah seperti dulu. (lol) Teman sekelas semasa SMA, hmm… mungkin masing-masing sudah sibuk dengan kegiatannya, dan ada juga yang tidak sempat datang ke Banjarmasin karena kuliah dan kerja di luar pulau. Cuma yang memang dekat saja yang datang. (lol)

Sedikit penghiburan karena sebelumnya sudah ada acara buka puasa bersama dengan teman-teman SMP, dan teman-teman sekelas semasa SMA. Rencananya sih nanti ada lagi silaturahmi ke rumah wali kelas waktu SMA bareng anak-anak. :-)) Ceritanya sekarang lagi nunggu jarkoman acaranya, he he he….

Kalau pulang ke Bandung, rumah nenek biasanya rame sama keluarga yang pada ngumpul. Setelah lebaran ada silaturahmi seluruh keluarga besar. Habis itu perjalanan ke Garut mendatangi keluarga Bapak, yang selalu bikin saya semaput karena mabok di tengah kemacetan Nagrek. (blush) Setelah itu baru jalan-jalan ke tempat wisata bareng keluarga, dan pastinya belanja. (haha)

We can’t always get all that we want, anyway. :-D

ketupat

Selamat Idul Fitri, kawan.

Maaf jika pernah ada postingan ataupun komentar yang menyinggung di blog ini.

Have a nice holiday. (bye) :) Masakan apakah yang ada di rumah kalian lebaran kali ini? (mmm)

Meet Ucrit

Kucing saya yang pertama, namanya Resha, hasil nyomot di rumah temen, dibawa pulang ke rumah pake kantong plastik, dan kepalanya nongol-nongol horror dari kantong plastik itu selama perjalanan pulang naik motor. (whistle) Kenapa namanya Resha? Soalnya waktu itu lagi zamannya Rave. Tapi toh dia berakhir dipanggil Echa, dan seperti halnya kebiasaan buruk saya untuk memanggil semua kucing dengan awalan Unyeng, akhirnya dia selau dipanggil Unyeng Echa. (haha)

Berhubung si Unyeng Echa ini betina, jadi otomatis dia sering banget pulang-pulang perutnya udah gendut, tanda ada kucing-kucing kecil di dalam sana. Tapi semuanya mati, dan yang bertahan cuma satu, si kucing kedua.

Kucing kedua namanya Naruto, satu-satunya yang masih bertahan hidup setelah dua saudaranya yang lain, Sasuke dan Sakura mati. Kata dokternya sih gara-gara gigit kodok sembarangan. :-(

Terus si Unyeng Echa melahirkan lagi untuk yang entah keberapa kalinya. Kali ini anaknya tiga juga. Berhubung waktu yang terakhir ini saya udah ada di Malang, saya taunya lewat sms.

SMS dari Ummi kira-kira gini:

Si Unyeng sudah melahirkan lagi, anaknya tiga, namanya Nurdin, Zuhri, sama Munawaroh.

kenapa namanya begituh???

Wedding Gift

Kraft Gift Boxes

Ketika kelulusan SMA, di saat semua orang sibuk dengan universitas pilihan masing-masing, atau memilih untuk langsung bekerja, salah satu teman saya memutuskan untuk menikah. Ya, menikah. Menikah yang itu, yang kalau di film-film drama sering ada adegan pacar dari si cewek menghentikan pernikahan di tengah jalan terus membawa kabur cewek itu. (entah film yang mana  ini? (thinking) )

Ada banyak momen lain tentang pernikahan, walaupun tentu saja saya hanya sekedar menjadi penonton, pagar ayu, atau tukang makan belaka :-D . Entah itu pernikahan saudara saya, guru saya, tetangga saya, atau sekedar menemani Ummi ke pernikahan kenalannya. Hanya saja ada yang berbeda dengan satu minggu yang lalu.

Bukan, bukan karena yang menikah satu minggu yang lalu itu saya, kok…