Blog Archives

Nonton Bareng The Avengers

Rabu kemarin saya berkesempatan menonton The Avengers versi 3D bersama anak-anak RO-ers Malang. Ini pertama kalinya saya nonton 3D loh, hahaha. Awalnya gara-gara pembicaraan di grup, lalu tercetuslah ide untuk bareng-bareng ke Surabaya demi menonton The Avengers yang sedang ramai-ramainya dibicarakan itu. Kenapa harus ke Surabaya? Karena di Malang memang belum ada bioskop 3D. (okok) Beruntung sekali anak-anak mau berkompromi dengan saya yang hari Kamis-nya sudah harus berangkat ke Bandung, sehingga acara nonton bareng ini diputuskan hari Rabu. (cozy)

Kami berangkat agak siang, karena menunggu Apip yang harus menyelesaikan UTS-nya dulu. Dia satu-satunya yang masih ada UTS, sementara sisanya adalah mahasiswa dan mahasiswi yang seharusnya sudah siap-siap hengkang dari kampus. (ninja) Setelah tunggu menunggu dan kengaretan yang biasa, mobil (atau seperti yang pemiliknya sebut, “gerobak”) yang dikemudikan Arip meluncur ke arah Surabaya.

Perjalanan ke Surabaya lumayan lancar tanpa kemacetan yang berarti. Hambatannya paling-paling karena yang nyupir lupa-lupa ingat jalan ke arah Surabaya Town Square, sementara waktu juga semakin mepet. Salah satu temen yang memang berdomisili di Surabaya sudah stand by dari ketika loket dibuka dan memesankan tiket pukul 15:15. Untung saja akhirnya kita tiba dengan selamat di parkiran Sutos sekitar pukul tiga kurang.

Ngomong-ngomong, sebelum saya lanjutkan, tulisan berikutnya ini kemungkinan besar merupakan SPOILER. Bagi yang nggak suka spoiler silakan di-skip aja. (haha) Don’t say I didn’t warn you. :p

(more…)

Ditukar Ubi

Saya: Gi, ini laptop kalau dijual kira-kira dapet berapa, ya?

Yogi: *mukapolos* Ubi tiga.

Saya: Hah?

Yogi: *masihmukapolos* Dapet ubi tiga.

Jawaban paling menohok yang saya dapat sejauh ini. (rofl)

laptop

si laptop yang bersangkutan

Beberapa hari terakhir saya memang lagi bertanya-tanya, laptop di atas itu kalau dijual dapet berapa.

Stellar memang sudah uzur sih. (haha) Kemarin engselnya sempat patah dan diperbaiki. Tapi sama tukang servisnya ditambah bonus lakban hitam yang unyu, katanya biar nggak cepat lepas lagi. Selain itu optical drive-nya sudah nggak bisa dipakai. Jangan lupakan juga casing yang bocel di pojok kanan bawah kenang-kenangan dari Radika.

Dari segi kerja, kadang-kadang dia suka biru-biru sendiri alias blue screen. Kejadian yang lebih sering sih mati mendadak. Entah karena overheat atau memang prosesornya nggak kuat ketika saya membuka banyak program sekaligus, saya juga nggak ngerti. Sementara ini masalah mati mendadak cukup teratasi dengan saya mematikan fitur aero dan animasi di Windows 7, tapi kalau laptop dinyalain tanpa disertai coolpad di bawahnya sementara udara cukup panas, tetep suka mati. (okok)

Jadi? Jual laptop ditukar ubi? (okok)

Absurd #3

Y: “Heh, ke kampus sekarang!”

X: “Ujan ini loh….”

Y: “Makanya… cari pacar lah yang punya mobil, biar bisa antar jemput biar ga keujanan.”

X: “Nyari pacar apa supir?”

Y: “Pacar aja, pacar cuman job desc-nya kayak supir doang, nggak lebih.”

X: “Ujan gini keluar nambah-nambahin cucian kaos kaki aja.”

Y: “Btw, kamu sedia berapa kaos kaki?”

X: *bengong* “Berapa ya? Ya nggak ngitung kali.”

Y: “Aku bodo juga tanya itu.”

X: “Emang.”

Y: “Namanya otak ga dipake buat mikir ginian.”

X: “Otak dipake galau doang.” *ngakak*

Abal-abal

Saya nggak paham, dengan hubungan beberapa orang yang saya kenal, yang dulu kemana-mana dan ngapa-ngapain selalu berkelompok. Mereka, orang-orang yang dulunya menebar-nebarkan aura eksklusif, yang seolah-olah tidak bisa dimasuki oleh yang lain.

Mungkin seperti halnya hubungan pertemanan pada umumnya. Saya nggak menampik kalau orang-orang yang dulunya dekat, di suatu waktu bisa terasa seperti orang asing. Karena hidup terus berjalan, kita berubah, orang-orang lain juga berubah. Seperti teman-teman bermain masa kecil di sekitar rumah, yang tiba-tiba menjadi asing ketika masing-masing menginjakkan kaki di bangku sekolah yang lebih tinggi.

Tapi perlu gitu, sampai menceritakan keburukan satu sama lain? Perlu gitu, menjelek-jelekkan satu sama lain di hadapan orang? Pasang-pasang status menyindir?

Ironisnya lagi, masing-masing merasa kalau ketidaksukaannya didukung oleh teman-teman yang lain, tanpa sadar bahwa ketika mereka membalikkan punggung, mereka juga dijelek-jelekkan.

Bah.

Kalau teman, ya…. Menurut saya…. Ini menurut saya, sih. Say it to her face. Nggak usah pakai main belakang. Nggak usah sindir-sindiran lewat status. Macam perkelahian anak SD saja. Itu kalau teman sih. Haha. Kalau masing-masing sudah merasa bukan teman lagi, ya itu urusan situ.

Ah, sebenernya ngapain juga saya ribut-ribut mengomel soal urusan orang di sini, ya? (pouty)

Mendonat

Last weekend, mendonat di Baker’s King, nemenin orang galau yang butuh temen curcol.

donat baker's king

Pokoknya bukan salah saya loh jadi knitted sweater di lantai bawah itu terbeli, siapa juga yang ngajakin ngecek diskonan, nyahahahaha. (rofl) Saya kan cuma jujur waktu dirimu tanya itu lucu apa nggak. (rofl)