Blog Archives

Closure

Melegakan.

Kamu tidak bisa membayangkan betapa leganya perasaanku ketika aku terbangun pagi ini. Berton-ton kata-kata dan rahasia yang tidak bisa terucap, yang membuntutiku sejak itu, akhirnya terlepas.

Malam tadi adalah closure yang selama ini aku cari.

Aku tahu, semua keruwetan itu telah terjadi berbulan-bulan yang lalu, dan telah juga selesai. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, yang terus membuatku merasa bahwa kalau saja aku bisa memuntahkan kata-kata yang mengganjal itu, sekalipun artinya mungkin sudah tidak signifikan lagi, aku akan lebih lega.

Mau tidak mau aku harus berterima kasih padamu, Be. Kalau kamu tidak memutuskan untuk muncul lagi karena merasa bersalah pada kami, tidak memutuskan untuk menceritakan semuanya padaku dan mereka, tidak memaksaku bercerita, aku mungkin masih gamang. Aku tidak akan terbangun di pagi harinya, dibanjiri perasaan lega, dan tiba-tiba tersenyum sendiri. Iya, semuanya sudah selesai.

Uncurable Stupidity

Uncurable Stupidity

… adalah datang ke kampus pukul tujuh pagi dan meneguh-neguhkan hati buat kuis untuk kemudian menyadari kuisnya dipindah jadi jam setengah tujuh malam dan kita nggak tahu karena malam sebelumnya tepar gara-gara alergi dingin.

… adalah sabunan pake sampo waktu mandi dan hampir sikat gigi pake sabun mandi. Perhatikan bahwa salah satu dari dua kejadian tadi ada yang menggunakan kata “hampir” dan ada yang tidak.

… adalah nabrak pintu kaca di hari pertama PKL, menimbulkan suara yang cukup keras, dan diliatin sama bapak-bapak yang lewat dan memandangi dengan khawatir, mungkin bertanya-tanya mbak ini masih ngantuk atau kenapa sampai bisa-bisanya mencoba masuk ke ruangan kantor lewat kaca tepat di sebalah pintu yang terbuka.

Itu yang sudah-sudah, sih, dan belum semuanya. Dua hari belakangan saya melakukan kebodohan lagi secara berturut-turut. Entah linglung entah apa.

Rabu pagi saya awali dengan menumpahkan air dari galon, cuma gara-gara sibuk memikirkan kemana perginya semua peniti yang hilang di dunia ini. Masalahnya peniti itu kan kalau habis dipakai di kerudung, setelahnya dikembalikan ke kotak peniti, tapi tetap saja setiap beberapa bulan sekali saya mendapati kotak peniti yang kosong dan harus membeli satu renteng peniti-peniti baru.

Malamnya tidak kalah random. Saya kehilangan modem, yang sudah dicari sampai mengobrak-abrik kamar dan seluruh isi tas tidak juga ditemukan. Hampir setengah jam kemudian modem itu ketemu setelah saya menyusuri jalan pulang yang saya tempuh dari kos-kosan teman ke kos saya.

Lalu sore tadi, giliran hp saya. Kali ini saya tahu sih kemana perginya, tertinggal di kos-kosan teman, tepat di sebelah laptop dia. Parahnya, orang yang bersangkutan sedang tidak ada di kos ketika saya sadar hp saya tertinggal di tempatnya. Jadilah sepanjang sore sampai lewat Isya saya bingung sendiri.

Malamnya ketika saya datang untuk mengambil hp yang tertinggal, teman saya geleng-geleng kepala tidak percaya:

“Dari kemaren gak fokus anak ini. Mikirin apa sih kamu?”

kamar kosan, ditemani sebatang cokelat dan sekotak susu,

semoga besok pagi saya terbangun dan kelinglungan dua hari hari ini berakhir

oh, no… sekarang sudah pagi… artinya nanti siang… ><

Donor Darah Pertama

Ceritanya bermula tiga tahun yang lalu, ketika saya membaca salah satu entri blog bulan April milik Om Eru (yang sekarang jarang update, padahal saya suka tulisannya). Setelah membaca tulisan tentang Blood for Life itu, tiba-tiba saja saya pengen bisa mendonorkan darah, sesuatu yang sebelumnya sama sekali nggak pernah terpikirkan.

Tapi sampai tiga tahun berlalu, keinginan itu sama sekali belum pernah terealisasi. Dari mulai sibuk, berat badan yang kurang memadai, sering tekanan darah rendah sehingga yakin tidak akan diperbolehkan untuk mendonor, sampai bingung sendiri kemana saya harus pergi untuk mendonorkan darah kalau sedang tidak ada acara donor darah di lantai satu perpustakaan kampus. Jangan lupakan juga perasaan ngeri yang membayang kalau teringat jarum besar yang digunakan ketika donor darah. Sewaktu mau ditusuk jarum infus empat tahun yang lalu saja saya ingat kalau saya hampir menangis dan perawat yang bertugas cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir tak berdosa.

Baru-baru ini keinginan untuk donor darah itu bangkit lagi karena kejadian di suatu siang yang random ketika saya berkeliaran sendiri di mall. Secara tidak sengaja saya melihat tulisan “Unit Donor Darah” dengan logo PMI di lantai tiga MOG. Setelah ragu-ragu sebentar di depan pintu kaca, akhirnya saya masuk dan bertanya-tanya informasi tentang donor darah. Mbak yang ditanya ketika itu memandangi saya ragu-ragu:

“Mbaknya beratnya sampai 45 kg nggak, nih?”

Memangnya saya terlihat secungkring itu, ya? Padahal adek terkecil saya yang dudul itu sering mengatai saya gendut. (doh)

(more…)

Ribuan Piksel

Saya kira, semua foto itu sudah saya simpan dengan baik, disatukan dalam sebuah folder khusus di hardisk eksternal seorang teman. Bergiga-giga kenangan yang tak lagi muat dalam hardisk saya sendiri. Tapi rupanya ada beberapa potongan yang masih tersisa, bercampur dengan foto teman-teman kuliah, dan sukses membuat saya diserbu berbagai perasaan, ketika secara tidak sengaja melihatnya kembali.

Betapa melihat foto-foto dengan wajah tersenyum ternyata bisa begitu menyakitkan.

Harus saya akui, bahwa ketika saya memindahkannya saat itu, bukan semata karena saya membutuhkan ruang kosong di hardisk saya. Sekian persen diri saya mungkin sudah terlebih dahulu sadar, bahwa saya tidak akan sanggup melihat ribuan piksel itu bercerita di kepala saya, tentang apa yang dulu pernah terasa seperti rumah.

Kalian… pernah menjadi rumah buat saya. Tempat saya menemukan kakak yang nggak pernah saya punya. Menemukan saudara ketika saya nggak punya siapa-siapa saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Empat tahun yang lalu, kalian adalah sambutan paling ramah yang saya dapatkan. Tempat paling hangat yang saya punya. Di mana setiap minggu saya akan pulang, dan duduk bercerita bersama kalian.

(more…)

Random #1

galau =))

Kegalauan di Plurk. (rofl)