Blog Archives

Tentang Tyas, yang Menikah Pertama

Ketika teman-teman saya satu persatu mulai mengabarkan akan menikah, reaksi saya biasanya adalah memberi selamat, kemudian sedikit kepo, kemudian basa-basi kalau orangnya nggak kenal-kenal amat. Tapi ketika sahabat saya sendiri yang akan menikah…

… saya malah freak out. (haha)

Sekitar empat bulan yang lalu, Tyas tiba-tiba bilang kalau pacarnya akan datang melamar. Saya dan Dian yang mendapat kabar itu tentu heboh. Pertama karena kita sama-sama nggak menyangka hubungan mereka seserius itu. Kedua karena… ya heboh aja sih, dia yang pertama menikah di antara kita bertiga.

Tapi di antara kehebohan itu sesungguhnya saya dan Dian sama-sama freak out. Rasanya kayak ada orang yang tiba-tiba jalan di depan kita sambil bawa-bawa spanduk yang mengingatkan kalau umur kita memang sudah di atas dua puluh, dan bagi beberapa orang itu adalah waktunya para perempuan untuk menikah, punya anak, punya keluarga…. Beuh… saya sama Dian yang kerjaannya masih fangirling gini? Dian yang tiap ngeliatin KaiSoo reaksinya “kyaaa kyaaaa anak gueeee“? Saya yang bukannya ngurusin kapan punya pacar malah nungguin kapan OTP saya jadian? Yeah…. (haha) Adanya kita malah nakut-nakutin Tyas yang udah mau nikah di grup Whatsapp.

Ya kalau ditanya pengen apa nggak sih pasti pengen. Tapi ketika datang momen nampar kayak gini jadinya mundur teratur kayak orang nggak siap mental. Masih untung nggak ambil langkah seribu.

Tanggal 16 Juni kemarin Tyas akad nikah. Di Banjarmasin tentu saja. Saya nggak bisa datang, karena dari segi waktu dan finansial nggak memungkinkan. Skripsi belum bener-bener beres, dan tanggal 21 Juni saya juga harus ke Bogor karena kakak sepupu saya akan menikah tanggal 23. Hari Minggu kemarin, saya tumben-tumbenan buka Facebook, dan nangis sendiri melihat foto-foto akad nikah Tyas yang di-upload Dian. Beruntungnya saya masih ada kesempatan datang ke resepsinya Tyas, karena resepsinya baru diadakan antara bulan Juli atau Agustus sehabis lebaran.

Momen nakut-nakutin Tyas udah lewat. Yang ada sekarang Tyas separo curcol separo balas dendam separo ngomporin buat nyusul.

mpret banget lah =))

Pagi-pagi malah ketawa nggak berhenti baca ginian. (rofl)

Hayo yang mau nanya saya kapan ini saya lagi ngepak sepatu hak tinggi buat dibawa ke Bogor, lho, dari wujudnya sih kayaknya sakit kalau dilempar. (haha)

PS. omongan ummi bener, Tyas yang pertama menikah di antara kita bertiga,
jadi kalau menurut Dian saya harus tanya ummi lagi siapa berikutnya

Jangan Kepo, Nanti Mupeng

Kapan hari ada kabar kalau Nayasa akan menikah. Dan kemudian hebohlah followers-nya.

Hebohnya tentu berujung pada kepo. Dari mulai kepo “kapan” sampai “sama siapa” sampai “gimana ceritanya“. Maka berhati-hatilah kawan. Orang-orang bilang jangan kepo, soalnya nanti sakit hati. Kalau ini mah… jangan kepo, nanti mupeng. (rofl)

A: Mupeng.

A: Hasyem tenans.

B: Ayo pergi ke Mars.

B: :))

A: Sumpah kamprettttttts!

A: Ke Pluto aja yuk jauhan.

A: *langsung istighfar*

A: Puasa puasa besok puasa. :))

A: Biar gak mupeng lagi bhahahahahaha.

Kesimpulan dari percakapan Whatsapp absurd di atas yang tentu saja telah disensor halah adalah… wahai orang-orang yang kemaren kepo. Besok-besok puasa aja yuk. (rofl)

Being Single

Kadang suka nggak ngerti aja sih, sama orang-orang yang mengganggap bahwa being single means you are lonely and miserable, yang nggak bisa hepi, yang setiap detik meratapi kesendiriannya. Kalau yang menjalaninya hepi, kenapa orang lain harus ribut? Kalau yang bersangkutan nggak bisa hepi tanpa pasangan, apa itu bisa jadi alasan buat generalisasi kalau semua orang juga merasakan hal yang sama?

Belum lagi komentar-komentar menyebalkan yang datang ketika mereka tahu kalau kamu misalnya jalan-jalan ke mall sendirian, atau makan sendirian. Oh, please. Sejak kapan ada undang-undang yang melarang orang buat melakukan segala hal sendirian?

Some call it solitude, which I think nothing’s wrong with that either. But I prefer to call it independent.

Perlu nyari baju atau sepatu. Ya berangkat aja sih ke pasar atau ke mall. Terus kalau lagi nggak ada yang bisa nemenin, kamu harus nggak jadi pergi gituh? Kamu mau cari buku, pengen jalan-jalan ke toko buku, ya udah berangkat aja ke toko buku. Sakit gigi, asma mulai rada kambuh. Ke dokter lah. Sebodo amat nggak ada yang nemenin nungguin. Mau cari makan. Ya cari aja keluar kosan sendirian, yang laper kamu kok pake ngeributin orang.

Memangnya di setiap mau ngapa-ngapain itu harus ada yang nemenin ya? Memangnya kalau pas makan nggak ada yang nemenin, kamu nggak bisa makan? Memangnya kalau pas mau ke toko buku nggak ada yang nemenin, terus kamu nggak bisa berangkat? Hidup nggak jalan-jalan kalau kayak begitu caranya.

Belum lagi juga, ketika komentar yang datang menyerempet soal teman-temanmu. Seolah-olah apa yang kamu lakukan sama teman itu kurang berharga kalau dibandingkan dengan melakukan hal yang sama bareng pasangan. Seolah-olah kalau kamu mendapatkan hadiah dari teman, maka itu hitungannya kurang berharga karena dia cuma teman dan bukannya pasangan kamu.

Ya kalau kamu memilih buat menggantungkan kebahagiaan kamu sama ada atau tidaknya keberadaan pasangan di samping kamu sih terserah aja. Hidup hidup kamu kok. Tapi nggak usah juga masukin orang lain ke kategori nggak bahagia dan harus dikasihani cuma karena nggak punya pasangan.

The First Birthday Wish

Sebenarnya saya tidak berekspektasi apa-apa sejak kemarin. Menjelang tengah malam malah bisa dibilang saya hampir tidak ingat. Tidak menunggu-nunggu deretan angka di pojok kanan layar berubah menjadi 12:00, dan tidak menunggu ucapan dari siapapun di tengah malam buta. Sudah sejak lama saya tahu, bahwa orang-orang yang paling mungkin melakukan itu pasti sudah tidur pulas di jam sekian. Satu-satunya yang saya tunggu tadi malam adalah loading SimCity Social sambil heboh sendiri menonton NCIS.

Tapi ternyata kotak hitam yang tergeletak tak berdaya di dekat terminal itu berbunyi. Bahkan sebelum hari benar-benar berganti.

Saya tidak tahu apa kamu sedang mencoba menjadi yang pertama atau yang terakhir. Pilihan pertama akan berarti ini adalah masalah jam yang disetel lebih cepat supaya kamu tidak sering terlambat lagi di pagi hari. Pilihan kedua berarti kamu salah melihat tanggal. Tapi yang manapun sebenarnya tidak mengapa. Saya tidak mau repot-repot menganalisis. Karena tetap saja, bagi saya hal yang terpenting adalah bahwa kamu ingat. Kamu ingat bahwa di antara waktu-waktu ini ada tanggal dimana saya lahir. Bahwa di sela-sela namanya yang memenuhi pikiranmu setiap harinya, saya masih punya tempat di sana.

Dan kamu. Kamu yang memang pintar berargumen tapi selalu canggung jika harus memilih kata-kata untuk berbasa-basi dan memberi selamat, mau repot-repot mengetik kata demi kata dan mengirimkannya pada saya. Singkat dan canggung. Tapi tetap saja kamu lakukan. Dan saya tidak bisa tidak tersenyum ketika membacanya, lalu pergi tidur dengan perasaan senang.

Sindrom

Seminggu belakangan ini, mendapatkan tiket bioskop di Malang rasanya sesusah mencari pom bensin yang buka di Banjarmasin ketika bensin sedang langka. Ada dua pilihan kekecewaan. Datang dan langsung mendapati tulisan tiket habis, atau masuk ke antrian panjang mengular yang kemudian bubar jalan ketika kamu tinggal lima langkah dari konter tiket. Dua-duanya kami alami malam itu, di dua bioskop yang berbeda. Empat orang suntuk yang butuh pelarian.

Pada akhirnya kami terduduk di sofa sebuah kafe, berteduh dari hujan yang mulai turun, membicarakan segala hal mulai dari betapa jarangnya bertemu teman-teman kuliah, sampai rencana bertahun-tahun ke depan. Lalu pembicaraan mulai menyerempet ke daerah pernikahan.

Sindrom usia 20, kata kami biasanya.

Mereka-mereka yang sudah lulus dan mulai bekerja, akhir-akhir ini cenderung membicarakan pernikahan. Salah satu teman yang sudah bekerja di Jakarta, terkadang mengirim pesan IM tidak jelas. Kesepian. Satu orang lagi yang padahal tetap di Malang, yang merupakan salah satu dari empat orang suntuk malam itu, juga mengalami sindrom meingirimkan pesan IM tidak jelas. Kesepian. Lalu Fifi, salah satu dari tiga orang suntuk lain yang belum juga lulus di meja kafe malam itu, menceritakan rencananya untuk beberapa tahun ke depan, kemudian bertanya pada diri sendiri, kapan dia akan menikah di antara semua rencananya tadi.

Si teman yang sudah lulus langsung menyahut, bahwa tidak hanya mereka yang sudah lulus yang memikirkan itu, bahkan yang belum lulus pun sama.

Kenapa? Tanyanya ketika itu. Kenapa orang-orang ingin menikah di usia yang masih muda.

Fifi menjawab bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perempuan, punya masa menopause.

Saya kurang lebih setuju dengan dia.

(more…)