• Archive by category "Life So Far"
  • (Page 2)

Blog Archives

Abal-abal

Saya nggak paham, dengan hubungan beberapa orang yang saya kenal, yang dulu kemana-mana dan ngapa-ngapain selalu berkelompok. Mereka, orang-orang yang dulunya menebar-nebarkan aura eksklusif, yang seolah-olah tidak bisa dimasuki oleh yang lain.

Mungkin seperti halnya hubungan pertemanan pada umumnya. Saya nggak menampik kalau orang-orang yang dulunya dekat, di suatu waktu bisa terasa seperti orang asing. Karena hidup terus berjalan, kita berubah, orang-orang lain juga berubah. Seperti teman-teman bermain masa kecil di sekitar rumah, yang tiba-tiba menjadi asing ketika masing-masing menginjakkan kaki di bangku sekolah yang lebih tinggi.

Tapi perlu gitu, sampai menceritakan keburukan satu sama lain? Perlu gitu, menjelek-jelekkan satu sama lain di hadapan orang? Pasang-pasang status menyindir?

Ironisnya lagi, masing-masing merasa kalau ketidaksukaannya didukung oleh teman-teman yang lain, tanpa sadar bahwa ketika mereka membalikkan punggung, mereka juga dijelek-jelekkan.

Bah.

Kalau teman, ya…. Menurut saya…. Ini menurut saya, sih. Say it to her face. Nggak usah pakai main belakang. Nggak usah sindir-sindiran lewat status. Macam perkelahian anak SD saja. Itu kalau teman sih. Haha. Kalau masing-masing sudah merasa bukan teman lagi, ya itu urusan situ.

Ah, sebenernya ngapain juga saya ribut-ribut mengomel soal urusan orang di sini, ya? (pouty)

Galak

kucing

Kenapa, kucing sayang, kenapa? Kenapa sampai sekarang kamu nggak mau saya uwel-uwel? Kenapa kamu harus galak sama saya? ><

Mendonat

Last weekend, mendonat di Baker’s King, nemenin orang galau yang butuh temen curcol.

donat baker's king

Pokoknya bukan salah saya loh jadi knitted sweater di lantai bawah itu terbeli, siapa juga yang ngajakin ngecek diskonan, nyahahahaha. (rofl) Saya kan cuma jujur waktu dirimu tanya itu lucu apa nggak. (rofl)

Closure

Melegakan.

Kamu tidak bisa membayangkan betapa leganya perasaanku ketika aku terbangun pagi ini. Berton-ton kata-kata dan rahasia yang tidak bisa terucap, yang membuntutiku sejak itu, akhirnya terlepas.

Malam tadi adalah closure yang selama ini aku cari.

Aku tahu, semua keruwetan itu telah terjadi berbulan-bulan yang lalu, dan telah juga selesai. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, yang terus membuatku merasa bahwa kalau saja aku bisa memuntahkan kata-kata yang mengganjal itu, sekalipun artinya mungkin sudah tidak signifikan lagi, aku akan lebih lega.

Mau tidak mau aku harus berterima kasih padamu, Be. Kalau kamu tidak memutuskan untuk muncul lagi karena merasa bersalah pada kami, tidak memutuskan untuk menceritakan semuanya padaku dan mereka, tidak memaksaku bercerita, aku mungkin masih gamang. Aku tidak akan terbangun di pagi harinya, dibanjiri perasaan lega, dan tiba-tiba tersenyum sendiri. Iya, semuanya sudah selesai.

Uncurable Stupidity

Uncurable Stupidity

… adalah datang ke kampus pukul tujuh pagi dan meneguh-neguhkan hati buat kuis untuk kemudian menyadari kuisnya dipindah jadi jam setengah tujuh malam dan kita nggak tahu karena malam sebelumnya tepar gara-gara alergi dingin.

… adalah sabunan pake sampo waktu mandi dan hampir sikat gigi pake sabun mandi. Perhatikan bahwa salah satu dari dua kejadian tadi ada yang menggunakan kata “hampir” dan ada yang tidak.

… adalah nabrak pintu kaca di hari pertama PKL, menimbulkan suara yang cukup keras, dan diliatin sama bapak-bapak yang lewat dan memandangi dengan khawatir, mungkin bertanya-tanya mbak ini masih ngantuk atau kenapa sampai bisa-bisanya mencoba masuk ke ruangan kantor lewat kaca tepat di sebalah pintu yang terbuka.

Itu yang sudah-sudah, sih, dan belum semuanya. Dua hari belakangan saya melakukan kebodohan lagi secara berturut-turut. Entah linglung entah apa.

Rabu pagi saya awali dengan menumpahkan air dari galon, cuma gara-gara sibuk memikirkan kemana perginya semua peniti yang hilang di dunia ini. Masalahnya peniti itu kan kalau habis dipakai di kerudung, setelahnya dikembalikan ke kotak peniti, tapi tetap saja setiap beberapa bulan sekali saya mendapati kotak peniti yang kosong dan harus membeli satu renteng peniti-peniti baru.

Malamnya tidak kalah random. Saya kehilangan modem, yang sudah dicari sampai mengobrak-abrik kamar dan seluruh isi tas tidak juga ditemukan. Hampir setengah jam kemudian modem itu ketemu setelah saya menyusuri jalan pulang yang saya tempuh dari kos-kosan teman ke kos saya.

Lalu sore tadi, giliran hp saya. Kali ini saya tahu sih kemana perginya, tertinggal di kos-kosan teman, tepat di sebelah laptop dia. Parahnya, orang yang bersangkutan sedang tidak ada di kos ketika saya sadar hp saya tertinggal di tempatnya. Jadilah sepanjang sore sampai lewat Isya saya bingung sendiri.

Malamnya ketika saya datang untuk mengambil hp yang tertinggal, teman saya geleng-geleng kepala tidak percaya:

“Dari kemaren gak fokus anak ini. Mikirin apa sih kamu?”

kamar kosan, ditemani sebatang cokelat dan sekotak susu,

semoga besok pagi saya terbangun dan kelinglungan dua hari hari ini berakhir

oh, no… sekarang sudah pagi… artinya nanti siang… ><