Blog Archives

Highlight Idul Adha Kali Ini

Pembawa Acara (?) : *ngumumin dana sumbangan yang diterima*

Pembawa Acara (?) : “… dan kurban akan diberikan kepada seribu sekian sekian ekor…”

Pembawa Acara (?) : *hening*

Pembawa Acara (?) : “… dan kurban akan diberikan kepada seribu sekian sekian orang…”

Pembawa acaranya gugup ih. (blush) /kenapablush

Sekian dari saya. Selamat Idul Adha bagi yang merayakan. (fireworks_monkey) Saya mau ngesot nyari warung yang buka buat sarapan hari ini. Shalat Ied di rektorat masih tetep nggak dapet nasi kotakan sih. /lahelukira /melipir

Misi Gagal

Tahun 2012 lalu saya pernah menulis tentang niatan menaikkan berat badan gara-gara naiknya persyaratan donor darah menjadi 47 kg. Enam bulan setelahnya, misi penambahan berat itu belum berhasil. Jangankan naik, yang ada berat badan malah turun di bawah persyaratan donor sebelumnya.

Mbak-mbak di UDD pasti bakal menolak saya lagi. (lonely)

PS. Tama, Tama, kita gak cacingan kan ya? Makan melulu kok berat badan ga nyampe2. (rofl)

Hari Pertama Tahun Baru

Malang Town Square kala tahun baru itu padat merayap. Manusia tumpah ruah dari mulai pintu depan sampai pojokan food court. Kebanyakan rombongan keluarga, bersama anak kecil yang merengek entah minta apa sementara si bapak membujuk untuk pergi ke Gramedia saja.

Tadi pagi sebenarnya tidak ada rencana kemana-mana. Lalu kemudian sadar kalau saya belum beli agenda 2013. Gara-gara terakhir kali ke Togamas cuma menemukan stok agenda lama bergambar Winnie the Pooh dan Barbie yang plastiknya sudah terbuka dan pinggirannya mulai menghitam, saya sampai lupa. Sempat terpikir untuk mencari majalah yang bonusannya agenda, tapi kemudian sampai tahun berganti belum juga dilakukan.

Sejak kuliah memang saya terbiasa memakai agenda. Kegiatan lumayan banyak, kuliah, tugas-tugas, praktikum, organisasi di kampus dan di luar kampus, dan lain-lain, sementara saya orangnya suka lupaan. Ditulis di agenda saja kadang-kadang masih bisa lupa. Tapi masih mending daripada nggak usaha sama sekali biar nggak lupa, kan? Hahahaha.

Anyway, setelah terpana sebentar di pintu depan sambil menunggu mobil lewat, saya langsung menyelam di antara lautan manusia, turun ke lantai bawah lewat eskalator di depan Gramedia karena eskalator yang di tengah penuh. Lagipula eskalator ini jaraknya lebih dekat ke stand majalah. Sampai di sana ternyata majalah-majalah dengan bonusan agenda sudah habis. Salah juga memang baru dicari sekarang. Ada sih, satu majalah berbonus agenda, tapi agenda pertumbuhan kehamilan, hadiahnya Cosmopolitan Pregnancy. Pfftt.

(more…)

Being Single

Kadang suka nggak ngerti aja sih, sama orang-orang yang mengganggap bahwa being single means you are lonely and miserable, yang nggak bisa hepi, yang setiap detik meratapi kesendiriannya. Kalau yang menjalaninya hepi, kenapa orang lain harus ribut? Kalau yang bersangkutan nggak bisa hepi tanpa pasangan, apa itu bisa jadi alasan buat generalisasi kalau semua orang juga merasakan hal yang sama?

Belum lagi komentar-komentar menyebalkan yang datang ketika mereka tahu kalau kamu misalnya jalan-jalan ke mall sendirian, atau makan sendirian. Oh, please. Sejak kapan ada undang-undang yang melarang orang buat melakukan segala hal sendirian?

Some call it solitude, which I think nothing’s wrong with that either. But I prefer to call it independent.

Perlu nyari baju atau sepatu. Ya berangkat aja sih ke pasar atau ke mall. Terus kalau lagi nggak ada yang bisa nemenin, kamu harus nggak jadi pergi gituh? Kamu mau cari buku, pengen jalan-jalan ke toko buku, ya udah berangkat aja ke toko buku. Sakit gigi, asma mulai rada kambuh. Ke dokter lah. Sebodo amat nggak ada yang nemenin nungguin. Mau cari makan. Ya cari aja keluar kosan sendirian, yang laper kamu kok pake ngeributin orang.

Memangnya di setiap mau ngapa-ngapain itu harus ada yang nemenin ya? Memangnya kalau pas makan nggak ada yang nemenin, kamu nggak bisa makan? Memangnya kalau pas mau ke toko buku nggak ada yang nemenin, terus kamu nggak bisa berangkat? Hidup nggak jalan-jalan kalau kayak begitu caranya.

Belum lagi juga, ketika komentar yang datang menyerempet soal teman-temanmu. Seolah-olah apa yang kamu lakukan sama teman itu kurang berharga kalau dibandingkan dengan melakukan hal yang sama bareng pasangan. Seolah-olah kalau kamu mendapatkan hadiah dari teman, maka itu hitungannya kurang berharga karena dia cuma teman dan bukannya pasangan kamu.

Ya kalau kamu memilih buat menggantungkan kebahagiaan kamu sama ada atau tidaknya keberadaan pasangan di samping kamu sih terserah aja. Hidup hidup kamu kok. Tapi nggak usah juga masukin orang lain ke kategori nggak bahagia dan harus dikasihani cuma karena nggak punya pasangan.

Sindrom

Seminggu belakangan ini, mendapatkan tiket bioskop di Malang rasanya sesusah mencari pom bensin yang buka di Banjarmasin ketika bensin sedang langka. Ada dua pilihan kekecewaan. Datang dan langsung mendapati tulisan tiket habis, atau masuk ke antrian panjang mengular yang kemudian bubar jalan ketika kamu tinggal lima langkah dari konter tiket. Dua-duanya kami alami malam itu, di dua bioskop yang berbeda. Empat orang suntuk yang butuh pelarian.

Pada akhirnya kami terduduk di sofa sebuah kafe, berteduh dari hujan yang mulai turun, membicarakan segala hal mulai dari betapa jarangnya bertemu teman-teman kuliah, sampai rencana bertahun-tahun ke depan. Lalu pembicaraan mulai menyerempet ke daerah pernikahan.

Sindrom usia 20, kata kami biasanya.

Mereka-mereka yang sudah lulus dan mulai bekerja, akhir-akhir ini cenderung membicarakan pernikahan. Salah satu teman yang sudah bekerja di Jakarta, terkadang mengirim pesan IM tidak jelas. Kesepian. Satu orang lagi yang padahal tetap di Malang, yang merupakan salah satu dari empat orang suntuk malam itu, juga mengalami sindrom meingirimkan pesan IM tidak jelas. Kesepian. Lalu Fifi, salah satu dari tiga orang suntuk lain yang belum juga lulus di meja kafe malam itu, menceritakan rencananya untuk beberapa tahun ke depan, kemudian bertanya pada diri sendiri, kapan dia akan menikah di antara semua rencananya tadi.

Si teman yang sudah lulus langsung menyahut, bahwa tidak hanya mereka yang sudah lulus yang memikirkan itu, bahkan yang belum lulus pun sama.

Kenapa? Tanyanya ketika itu. Kenapa orang-orang ingin menikah di usia yang masih muda.

Fifi menjawab bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perempuan, punya masa menopause.

Saya kurang lebih setuju dengan dia.

(more…)