
The Power of Six
Never lose faith in yourself, and never lose hope; remember, even when this world throws its worst and then turns its back, there is still always hope.
Weekend kemarin, saya akhirnya mulai membaca The Power of Six, sekuel dari I Am Number Four. Seperti biasa, terjemahannya Mizan nggak mengecewakan. Jadi saya bisa menikmati bukunya tanpa risih dengan kalimat-kalimat yang terasa janggal seperti waktu membaca City of Bones.
Cerita dibuka dengan Marina, si Nomor 7, yang tinggal di gereja Santa Teresa di Spanyol selama bertahun-tahun. Mereka sudah lama tidak berpindah lokasi lagi seperti seharusnya karena Adelina, Cêpan-nya, sudah tidak peduli dengan Lorien ataupun misi mereka. Adelina tidak pernah mengungkit Lorien lagi sejak mereka tiba di Santa Teresa dan dia menjadi suster di sana. Dia bahkan tidak pernah mengajarkan Marina untuk bertempur sebagaimana mestinya, dan sama sekali tidak tahu pusaka apa saja yang dimilikinya.
Emosi ketika membaca bagian Marina:
Adelina, kamu tega… kamu tega…. T___T




Sekitar jam dua tadi malam, waktu saya mengecek timeline twitter sebentar, saya baru tahu kalau setengah jam sebelumnya ada gempa kecil yang terasa di Malang. Jadi aja dikatain si
