Blog Archives

The Power of Six

The Power of Six

Never lose faith in yourself, and never lose hope; remember, even when this world throws its worst and then turns its back, there is still always hope.

Weekend kemarin, saya akhirnya mulai membaca The Power of Six, sekuel dari I Am Number Four. Seperti biasa, terjemahannya Mizan nggak mengecewakan. Jadi saya bisa menikmati bukunya tanpa risih dengan kalimat-kalimat yang terasa janggal seperti waktu membaca City of Bones.

Cerita dibuka dengan Marina, si Nomor 7, yang tinggal di gereja Santa Teresa di Spanyol selama bertahun-tahun. Mereka sudah lama tidak berpindah lokasi lagi seperti seharusnya karena Adelina,  Cêpan-nya, sudah tidak peduli dengan Lorien ataupun misi mereka. Adelina tidak pernah mengungkit Lorien lagi sejak mereka tiba di Santa Teresa dan dia menjadi suster di sana. Dia bahkan tidak pernah mengajarkan Marina untuk bertempur sebagaimana mestinya, dan sama sekali tidak tahu pusaka apa saja yang dimilikinya.

Emosi ketika membaca bagian Marina:

Adelina, kamu tega… kamu tega…. T___T

(more…)

9 dari Nadira

9 dari Nadira

Aku melihat di dadanya tertancap sebilah pisau. Dan aku melihat aliran darah dari matanya yang mengalir berkelok-kelok membasahi seluruh lantai lobi.

Empat puluh menit pertama di hari Jum’at keempat bulan Oktober. Utara Bayu. Pada akhirnya saya pasrah. Menangis sesenggukan seperti orang baru patah hati.

The Mortal Instruments: City of Bones

City of Bones, buku pertama dari seri The Mortal Instruments, yang mengalihkan dunia saya sampai-sampai gempa pun tidak terasa lagi. (pouty) Sekitar jam dua tadi malam, waktu saya mengecek timeline twitter sebentar, saya baru tahu kalau setengah jam sebelumnya ada gempa kecil yang terasa di Malang. Jadi aja dikatain si Amri:

oh selaen hati, indra mu juga mati deh ._.

Beneran nggak ngerasa sama sekali, habisnya waktu itu novelnya lagi seru-serunya. (pouty)

Mendapatkan City of Bones ini butuh perjuangan banget loh. Baik Togamas maupun dua Gramedia di Malang nggak ada lagi yang punya bukunya. Saya juga sudah pernah mencarinya di Togamas di Bandung beberapa bulan yang lalu, tapi mas-masnya bilang yang tersisa cuma satu edisi yang cacat dan karenanya nggak dijual. Eh, tiba-tiba waktu saya ke cabang Togamas yang di Buah Batu lebaran kemaren, buku ini dipajang di bagian novel fantasi. Otomatis dia naik ke puncak daftar must have books saya, daripada nanti nggak ketemu lagi.

Seperti halnya serial Percy Jackson, City of Bones, dan seri The Mortal Instruments secara keseluruhan, mengambil setting di dunia modern saat ini. Bedanya adalah jenis kehidupan lain yang diceritakan hidup berdampingan dengan kehidupan manusia biasa tanpa terdeteksi. Kalau dalam Percy Jackson kehidupan itu adalah kehidupan para dewa dewi Olympia, dalam The Mortal Instruments kehidupan itu adalah kehidupan makhluk-makhluk gaib dari dongeng, mitos, dan legenda.

(more…)

Khokkiri

Jangan tertipu sama gambar gajah lucu di cover-nya. Hei yang kemaren naksir buku ini, sini saya kasih spoiler sedikiiiiit saja. Ini bukan tentang cerita cinta yang unyu, ini novel psikologis. (haha)

khokkiri cover

karena gajah tak pernah lupa

Nah, cukup sekian saja. Saya lagi males nulis macem-macem.

32 menit lewat tengah malam, gelundungan nggak jelas di kamar

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Si pacar sedang diopname. Sudah hampir satu minggu dan kondisinya belum membaik juga. Dokternya bilang dia masih menunggu kiriman organ yang entah kapan datangnya. Tentu saja ketika saya bilang pacar di sini, maksud saya adalah si kotak besi berukuran lima belas inci yang setia menemani saya kemana-mana itu. Jadilah beberapa hari terakhir saya habiskan dengan melanjutkan rajutan tas yang tertunda, atau membaca tumpukan novel yang terus bertambah tanpa tahu kapan selesai dibaca.

Skripsi? Jangan tanya.

Sasaran pertama adalah novel Tere Liye yang saya beli di awal bulan Maret ini. Sebenarnya ketika itu, setelah galau cukup lama di antara deretan buku-buku Tere Liye, saya akhirnya memutuskan tidak jadi mengambil satu pun, dan membeli Ronggeng Dukuh Paruk serta Memoirs of Stientje. Tapi ketika sampai di kasir, ternyata novel yang paling menarik perhatian saya di antara buku-buku Tere Liye yang lain malah terpampang dengan manisnya. Akhirnya buku ini ikut juga masuk ke dalam keresek belanjaan.

(more…)