Archive for category Novel
Manusia Setengah Salmon
Dua postingan yang lalu saya membahas Stand Up Comedy-nya Raditya Dika. Kali ini saya mau membahas buku terbarunya, Manusia Setengah Salmon. Seperti biasa, ada nama hewan ikut-ikutan numpang tenar di judul buku.
Buku ini saya dapatkan dari hasil menyeret-nyeret seorang teman ke Toga Mas di hari peluncurannya, 24 Desember, yang ternyata di Toga Mas saat itu belum ada jadi kita loncat ke Gramedia di daerah Basuki Rahmat. Khukhukhu….

The pains of growing up. ‘Pindah’ menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri.
Sebagai pembaca buku-bukunya sejak zaman Kambing Jantan, saya merasa ada yang berubah dari gaya penulisan Raditya Dika dari buku ke buku. Kambing Jantan buat saya adalah bukunya yang terlucu dan murni komedi karena memang dipenuhi cerita ringan kebodohan sehari-hari. Buku paling garing sementara itu, adalah Radikus Makan Kakus.
Dimulai dari Marmut Merah Jambut, komedi yang ditawarkan di cerita-ceritanya, bukan cuma sekedar sesuatu yang bikin kita ketawa selama lima menit, terus setelah itu ya ketawa aja, atau lupa. Sejak Marmut Merah Jambu, kita ketawa lima menit, dan sepuluh menit kemudian mikir.
Personally, I prefer this kind of comedy.
Animorphs

and we ran, ran, ran up those stairs with a hundred nightmares on our heels
Adakah di antara kalian yang tahu Animorphs? Serial karangan K. A. Applegate ini mulai terbit sekitar tahun 1990-an di tempat asalnya, entah kalau di Indonesia. Dulu, ketika masih masa-masanya saya hobi mengoleksi serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Pasukan Mau Tahu, Animorphs rasanya sudah bertengger dengan manisnya di sebelah serial-serial Goosebumps. Hanya saja waktu itu kurang tertarik karena nomor serialnya loncat-loncat dan tidak jelas buku yang mana urutan keberapa.
Akhirnya saya pertama kali membaca Animorphs sewaktu di SMA, hasil meminjam dari teman, yang kakaknya punya beberapa seri. Lalu ketagihan….
Sayangnya toko buku sudah sangat jarang sekali menjual Animorphs dan kalaupun memang ada selalu saja tidak pernah lengkap serinya. Kalau sekarang apalagi, saya rasanya hampir tidak pernah melihat buku ini sama sekali. Paling-paling hanya bisa ditemukan kalau ada bazaar buku. Itupun di stan yang menjual buku-buku bekas yang untuk mencarinya juga harus membongkar satu lemari kayu berisi buku-buku dengan halaman menguning.
Untunglah sekarang sudah ada internet. Alhamdulillah yah….
#syahrinistyle
Setelah terdampar ke sana kemari dalam pencarian —sampai daftar di forum-forum Animorphs yang katanya menyediakan e-book-nya tapi ketika sudah daftar dan mau download ternyata sudah dihapus karena si empunya forum diberi peringatan dari Scholastic, penerbit aslinya— akhirnya ketemu juga. Dan saya baru tahu kalau ternyata buku ini sampai 54 seri.
Nggak hanya itu, ternyata ada juga seri-seri tambahan seperti Megamorphs, Alternamorphs, sampai Hork-Bajir, salah satu makhluk ruang angkasa yang tubuhnya seperti pedang-pedang digabung menjadi satu tapi bisa jalan… dan hidup….
Baru beberapa menit yang lalu saya selesai membaca buku pertamanya. Buku yang justru sama sekali nggak pernah saya baca selama saya membaca Animorphs dengan urutan yang entah kemana. Dan saya juga jadinya baru tahu, kalau yang memberi para Animorphs itu kekuatan berubah bentuk bukannya Ax, tapi Pangeran Elfangor.
I Am Number Four

Three are dead. I am number four.
Buku pertama dari enam seri The Lorien Legacies. Setelah bertahun-tahun penantian terbitnya Harry Potter berakhir dengan munculnya buku ketujuh, sepertinya kali ini saya bakal ngikutin serial The Lorien Legacies. Sampai saat ini udah ada dua buku, tapi yang terbit di Indonesia baru yang seri pertama. Mari menunggu The Power of Six.
*yang udah ngincer judul lain padahal seri Percy Jackson dan Kisah Klan Otori masing-masing masih kurang dua lagi*
Obral di Lantai Bawah
Saboten Shokudo dan Togamas itu letaknya satu jalan, semacam berseberangan. Jadilah saya sama Lidya pulang gathering malah cuci mata liat buku-buku di Togamas. Itu nyenengin loh, jangan salah. Halo suami masa depan, nanti saya mau dong punya rumah yang banyak rak bukunya, soalnya liat rak buku penuh dengan buku berjejer itu entah kenapa bisa bikin bahagia sendiri. #eh
Berhubung keuangan sedang menipis akibat banyak tunggakan hal-hal yang mesti dibayar kayak buat jaket himpunan dan studi ekskursi, saya udah nahan-nahan kan tuh buat nggak beli buku. Inget, ke sini buat cuci mata doang, cuci mata doang. Mantra itu sukses di lantai dua Togamas, dimana saya berhasil menahan godaan ngangkut Percy Jackosn #4 sama #5 ke meja kasir.
Tapi begitu turun ke bawah, liat-liat buku yang ceritanya lagi diobral…. Jedher! Nemu buku bagus seharga Rp 15.000,00. Kegalauan tingkat awal dimulai. Sayanya masih keliling-keliling liatin buku-buku obralan yang lain, tapi pikiran masih terpusat di buku seharga Rp 15.000,00 tadi. Rupanya keliling-keliling buat ngalihin perhatian dari si buku tadi juga pilihan yang salah. Secara di tumpukan buku di rak depan saya malah nemu bukunya Dan Brown yang dilabeli Rp 20.000,00. Dor.

dua buku yang bikin galau
Galau tingkat dua pun dimulai. Lirik-lirik duit di dompet sambil ngejumlahin harga dua buku tadi, sambil salah-salahan sama si temen yang sama-sama mupeng. Salah-salahan kenapa si Lidya ngajak saya ke Togamas dan kenapa kok saya mau-mau aja diajakin ke Togamas. Nggak guna juga sih salah-salahannya, soalnya ujung-ujungnya kita berdua masing-masing bawa pulang buku-buku yang digalauin tadi.
Test Pack
Dan di sinilah saya, sepulang Monev PKM yang rasanya membuat saya nggak bertulang lagi. Dari detik acara berakhir sudah pengen cepet-cepet sampai di kosan buat leyeh-leyeh, tapi harus mampir ke minimarket buat beli-beli macem-macem, dan setelah sampai kosan pun malah beres-beres kamar yang acak adut bekas-bekas keributan persiapan. Habisnya saya nggak bisa istirahat dengan tenang kalau kamarnya berantakan.
Jadi, sampai mana tadi saya bilang? Oh, iya, jadi di sinilah saya, dengan muka belepotan masker yang luntur akibat malah nangis baca novel.

I love you… because I want to.
Halah, padahal niatnya mau nyantai maskeran sambil baca setelah beberapa hari hidup nggak tenang gara-gara PKM.
