• Literature »
  • Archive by category "Novel"
  • (Page 2)

Blog Archives

I Am Number Four

i am number four

Three are dead. I am number four.

Buku pertama dari enam seri The Lorien Legacies. Setelah bertahun-tahun penantian terbitnya Harry Potter berakhir dengan munculnya buku ketujuh, sepertinya kali ini saya bakal ngikutin serial The Lorien Legacies. Sampai saat ini udah ada dua buku, tapi yang terbit di Indonesia baru yang seri pertama. Mari menunggu The Power of Six. :D

*yang udah ngincer judul lain padahal seri Percy Jackson dan Kisah Klan Otori  masing-masing masih kurang dua lagi*

Obral di Lantai Bawah

Saboten Shokudo dan Togamas itu letaknya satu jalan, semacam berseberangan. Jadilah saya sama Lidya pulang gathering malah cuci mata liat buku-buku di Togamas. Itu nyenengin loh, jangan salah. Halo suami masa depan, nanti saya mau dong punya rumah yang banyak rak bukunya, soalnya liat rak buku penuh dengan buku berjejer itu entah kenapa bisa bikin bahagia sendiri. #eh (okok)

Berhubung keuangan sedang menipis akibat banyak tunggakan hal-hal yang mesti dibayar kayak buat jaket himpunan dan studi ekskursi, saya udah nahan-nahan kan tuh buat nggak beli buku. Inget, ke sini buat cuci mata doang, cuci mata doang. Mantra itu sukses di lantai dua Togamas, dimana saya berhasil menahan godaan ngangkut Percy Jackosn #4 sama #5 ke meja kasir.

Tapi begitu turun ke bawah, liat-liat buku yang ceritanya lagi diobral…. Jedher! Nemu buku bagus seharga Rp 15.000,00. Kegalauan tingkat awal dimulai. Sayanya masih keliling-keliling liatin buku-buku obralan yang lain, tapi pikiran masih terpusat di buku seharga Rp 15.000,00 tadi. Rupanya keliling-keliling buat ngalihin perhatian dari si buku tadi juga pilihan yang salah. Secara di tumpukan buku di rak depan saya malah nemu bukunya Dan Brown yang dilabeli Rp 20.000,00. Dor. (pouty)

digital fortress & extremely loud and incredibly close

dua buku yang bikin galau

Galau tingkat dua pun dimulai. Lirik-lirik duit di dompet sambil ngejumlahin harga dua buku tadi, sambil salah-salahan sama si temen yang sama-sama mupeng. Salah-salahan kenapa si Lidya ngajak saya ke Togamas dan kenapa kok saya mau-mau aja diajakin ke Togamas. Nggak guna juga sih salah-salahannya, soalnya ujung-ujungnya kita berdua masing-masing bawa pulang buku-buku yang digalauin tadi. (haha)

Test Pack

Dan di sinilah saya, sepulang Monev PKM yang rasanya membuat saya nggak bertulang lagi. Dari detik acara berakhir sudah pengen cepet-cepet sampai di kosan buat leyeh-leyeh, tapi harus mampir ke minimarket buat beli-beli macem-macem, dan setelah sampai kosan pun malah beres-beres kamar yang acak adut bekas-bekas keributan persiapan. Habisnya saya nggak bisa istirahat dengan tenang kalau kamarnya berantakan. (pouty)

Jadi, sampai mana tadi saya bilang? Oh, iya, jadi di sinilah saya, dengan muka belepotan masker yang luntur akibat malah nangis baca novel.

test pack

I love you… because I want to.

Halah, padahal niatnya mau nyantai maskeran sambil baca setelah beberapa hari hidup nggak tenang gara-gara PKM. (rofl)

Marmut Merah Jambu

marmut merah jambu

Pengarang

Raditya Dika

Penerbit

Bukune

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.

Buku kelima (kalau saya tidak salah) dari Raditya Dika. Masih tidak berubah aliran dengan gayanya sebagai penulis komedi. Tapi kali ini terasa ada yang berbeda. Mungkin seperti yang dia bilang sendiri, komedinya bitter sweet.

Merah jambu, warna yang biasanya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Marmut Merah Jambu memang bercerita tentang kehidupan cinta si penulis, dari mulai ketika dia masih SMP, sampai hubungannya dengan salah seorang artis yang kita semua sama-sama tau, :D dan juga kisah cinta aneh yang pernah dia alami. Misalnya, ditaksir dua orang cewek kembar, yang saking “cintanya” sama dia, sampai didatangin ke rumah tiap hari. (doh)

Cerita berjudul Balada Sunatan Edgar adalah salah satu dari beberapa yang paling saya ingat, karena berhubungan dengan akun twitter Raditya Dika dan juga adiknya itu. Saya ingat pernah memang di salah satu twitnya, meminta tweeps untuk membujuk Edgar agar mau disunat. (rofl) Dan dikisahkan bahwa itulah salah satu pendorong Edgar untuk berani disunat. (rofl)

Cerita tentang Alfa, kucingnya, yang mengambil alih komputer pemiliknya dan mulai nulis sendiri, sebelumnya sudah pernah saya baca di blognya. Itu dimuat lagi di buku Marmut Merah Jambu, dengan sedikit perubahan.

Ngeresensi buku yang isinya cerita-cerita pendek emang susah, ya. Mau cerita, tapi kayaknya satu paragraf aja ntar udah hampir ngebocorin cerita satu judul. (rofl) Ya sudah, sampai di sini aja. (rofl) *bilang aja lagi males* *ditampar bolak-balik*

Dan ngomong-ngomong saya suka sekali sama pembatas buku marmutnya. :D

Blogged with the Flock Browser

Kau Memanggilku Malaikat

kau memanggilku malaikat cover

Pengarang

Arswendo Atmowiloto

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama

“Bu, ada malaikat…”

Orang memanggilnya malaikat maut. Tapi baginya yang dia lakukan hanyalah menjemput manusia-manusia yang sudah menjelang ajalnya, bukan mencabut nyawa mereka. Dia hanya menunggu, hingga waktu mereka telah tiba, mendengarkan apapun yang ingin mereka katakan, karena manusia biasanya tiba-tiba saja memiliki banyak sekali hal yang untuk dikatakan pada saat-saat ini. Baginya itu bukan tugas, seperti halnya apakah manusia akan mengatakan angin bertugas ketika bertiup, atau ombak laut bertugas ketika bergelombang, baginya seperti itulah hidup sejak awal.

Semua, tanpa kecuali, akan dijemputnya ketika mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kematian. Ia tak pernah merasakan apapun kepada semua yang dijemputnya, tak tahu apa itu arti kangen, apa arti air mata, hingga ia bertemu Di. Ia tak pernah bertanya apakah ada malaikat lain seperti dia, hingga seorang ibu suatu ketika berkata ingin menjadi malaikat seperti dirinya.

Di yang berkata pernah melihatnya di masa lalu, padahal ia yakin tak seorang manusia pun pernah melihatnya selain di saat mereka akan meninggal. Di yang tak juga pergi ke tempat “persinggahan” sebelum waktunya pergi ke tempat berikutnya, kemana orang-orang mati pergi, namun malah tetap berkeliaran bersama orang-orang yang dikenalnya semasa hidup. Di yang membuatnya merasakan penasaran, dan kangen.

Saya nggak terlalu bisa menangkap esensi sesungguhnya dari novel ini, sebenarnya.  Apakah sebatas monolog seorang malaikat maut, ketika bertemu anomali dalam kehidupan datarnya menjemput nyawa manusia, atau menyangkut daya hidup yang ditulis ibu Tesarini seolah menulis tesis. Ataukah bisa jadi juga ini adalah transformasi pertanyaan-pertanyaan manusia tentang malaikat, seperti apakah malaikat, apakah ia punya perasaan, apakah malaikat maut tak merasakan apa-apa ketika menjemput nyawa manusia, dan semacamnya. Atau justru menyangkut semuanya?

Saya tidak begitu mengerti, tapi entah kenapa menikmati membaca buku ini. :D Suka cara penulisnya bercerita. :-)