Blog Archives

Misi Gagal

Tahun 2012 lalu saya pernah menulis tentang niatan menaikkan berat badan gara-gara naiknya persyaratan donor darah menjadi 47 kg. Enam bulan setelahnya, misi penambahan berat itu belum berhasil. Jangankan naik, yang ada berat badan malah turun di bawah persyaratan donor sebelumnya.

Mbak-mbak di UDD pasti bakal menolak saya lagi. (lonely)

PS. Tama, Tama, kita gak cacingan kan ya? Makan melulu kok berat badan ga nyampe2. (rofl)

Operasi Penambahan Berat

Tujuh tahun yang lalu, ketika saya masih aktif Taekwondo, berat badan saya mencapai titik terberat yang pernah saya miliki sepanjang hidup saya, yaitu sekitar 51-52 kg. Dipaksa untuk mencapai angka tersebut lebih tepatnya.

Ceritanya waktu itu akan diadakan kejuaraan daerah antar dojang1. Berat badan awal saya menyatakan kalau saya masuk kelas Fly2. Tapi saboemnim3 tidak setuju. Alasannya karena kelas Fly banyak diisi oleh pemain senior dengan sabuk yang jauh lebih tinggi. Ini tentu saja tidak sebanding dengan saya yang hitungannya masih pemula. Dengan alasan tadi, saboemnim meminta saya untuk menaikkan berat badan dari yang awalnya sekitar 47-48 kg sampai ke berat minimal kelas Bantam4.

Paska pertandingan, entah karena memang saya pada dasarnya sulit gemuk atau bagaimana, berat badan saya kembali seperti semula tanpa susah payah, dan malah turun hingga kemudian stagnan di batas 46-48 kg sampai saya kuliah. Jangan tanya pada saya kemana larinya semua makanan dan cemilan yang saya makan.

Batas aman berat badan tersebut memungkinkan saya untuk melakukan donor darah pertama Maret lalu, meski sempat diragukan oleh petugasnya. Tiga bulan setelahnya pun tidak ada masalah. Tapi hari ini… saya ditolak…. (lonely)

Wah, Mbak, maaf ya, sekarang standard-nya naik Mbak jadi 47 kg. Soalnya darah yang diambil juga lebih banyak. Mbak naikin berat badan dulu ya.

Kemudian hening.

Pada akhirnya saya cuma duduk di pojokan sambil memainkan ponsel, menunggu teman saya donor darah sebelum kami turun ke Centerpoint untuk mencari sepatu.

Menjaga berat badan untuk berada di kisaran 45 kg ke atas selama ini bukan masalah, karena toh mengingat standard normalnya saya, berat badan Insya Allah tidak akan turun di bawah 45 kg. Tapi menjaga tidak turun di bawah 47 kg itu… semacam butuh effort lebih, salah satunya untuk rajin dicek.

Harga timbangan badan berapa sih? (okok)

 

1.^ tempat latihan taekwondo

2.^ kisaran berat kelas bulu 47-51 kg

3.^ pelatih taekwondo, biasanya yang tertinggi, pelatih di bawahnya dipanggil saboem

4.^ kisaran berat kelas bantam 51-55 kg

Donor Darah Pertama

Ceritanya bermula tiga tahun yang lalu, ketika saya membaca salah satu entri blog bulan April milik Om Eru (yang sekarang jarang update, padahal saya suka tulisannya). Setelah membaca tulisan tentang Blood for Life itu, tiba-tiba saja saya pengen bisa mendonorkan darah, sesuatu yang sebelumnya sama sekali nggak pernah terpikirkan.

Tapi sampai tiga tahun berlalu, keinginan itu sama sekali belum pernah terealisasi. Dari mulai sibuk, berat badan yang kurang memadai, sering tekanan darah rendah sehingga yakin tidak akan diperbolehkan untuk mendonor, sampai bingung sendiri kemana saya harus pergi untuk mendonorkan darah kalau sedang tidak ada acara donor darah di lantai satu perpustakaan kampus. Jangan lupakan juga perasaan ngeri yang membayang kalau teringat jarum besar yang digunakan ketika donor darah. Sewaktu mau ditusuk jarum infus empat tahun yang lalu saja saya ingat kalau saya hampir menangis dan perawat yang bertugas cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir tak berdosa.

Baru-baru ini keinginan untuk donor darah itu bangkit lagi karena kejadian di suatu siang yang random ketika saya berkeliaran sendiri di mall. Secara tidak sengaja saya melihat tulisan “Unit Donor Darah” dengan logo PMI di lantai tiga MOG. Setelah ragu-ragu sebentar di depan pintu kaca, akhirnya saya masuk dan bertanya-tanya informasi tentang donor darah. Mbak yang ditanya ketika itu memandangi saya ragu-ragu:

“Mbaknya beratnya sampai 45 kg nggak, nih?”

Memangnya saya terlihat secungkring itu, ya? Padahal adek terkecil saya yang dudul itu sering mengatai saya gendut. (doh)

(more…)

Banyak Banyaklah Makan Mi, Biar Nggak Busuk *eh*

Di suatu malam yang random, seperti biasanya saya makan malam sambil nonton sesuatu. Kali ini yang ditonton xxxHolic Kei, pas lagi episode Mizukumi / Water Gathering. Jadi ceritanya Neko Musume meminta Yuuko buat mengumpulkan air dari sumur yang ada di belakang rumah seseorang karena sebagai kucing dia nggak mungkin melakukan itu sendirian. Akhirnya Watanuki dan Doumeki yang pergi untuk mengambil air dari sumur yang dimaksud.

Selama beberapa hari mengambil air dari sumur itu, Watanuki selalu ketakutan diketahui pemilik rumah yang bersangkutan dan dilaporkan ke polisi. Tapi ternyata hal itu nggak pernah terjadi. Padahal selama beberapa hari itu pula Watanuki yakin kalau ada seorang gadis berambut panjang yang selalu memerhatikan mereka saat mengambil air dari jendela di lantai dua. Berhubung Doumeki juga bisa melihat gadis itu, jadi bisa dipastikan gadis itu bukan hantu atau siluman, tapi tetap saja Watanuki merasa ada sesuatu yang aneh.

Di hari terakhir ketika akhirnya sumur yang diambil airnya itu hampir kering, kain yang dipakai untuk membungkus toples pembawa air terbang sampai ke lantai dua, tepat di ruangan tempat gadis yang lagi-lagi masih duduk di pinggir jendela itu berada.

Mau nggak mau mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Anehnya rumah itu nggak dikunci, dan kelihatan sudah lama nggak ditempati. Nggak ada peralatan makan, nggak ada alat masak, semua lampu mati, dan kondisinya berdebu. Waktu mereka sampai di lantai dua, di ruangan dimana mereka tau ada gadis yang biasa duduk menghadap ke luar, dan menyapa si gadis… gadis itu jatuh ke lantai dan diam nggak bergerak.

Jejejeng…. Gadis tadi bukan manekin sodara-sodara, tapi mayat. Mayat yang entah dari kapan ada di sana sendirian dan nggak membusuk.

mayat

jadi ini mayat ceritanya, gambarnya nggak saya edit dan dikasih tulisan website saya lagi kayak biasanya soalnya saya nulis ini tengah malem... and it gives me chill just to look at the picture, hiiy ><

Kok bisa sih si mayat masih tetep dalam kondisi kayak gitu?

Kalau di anime itu penjelasannya sih karena makanan manusia sekarang udah banyak yang ada zat pengawetnya jadi tanpa disadari mengawetkan badannya sendiri. Doumeki cerita kalau mayat-mayat yang ditangani kuilnya antara ketika dia masih kecil dulu sama yang sekarang sedikit berbeda. Mayat-mayat waktu dia masih kecil dulu lebih cepat membusuk daripada sekarang.

Di dunia nyata? Kalau di agama saya, memang ada orang-orang tertentu yang katanya diberi kelebihan tubuhnya nggak akan membusuk ketika sudah meninggal. Kalau yang selain itu, soal kebanyakan bahan pengawet makanan membuat mayat zaman sekarang nggak cepat membusuk kayak zaman dulu, saya nemu artikel ini, sih. Link lain kira-kira sama isinya.

Terus kalau saya kerjaannya makan mi instan begini, masa nanti jadi awet kayak yang di xxxHolic? (pinched)